kampus di banyumas tutup stab syailendra lahir di semarang kisah berdirinya kampus buddhis jateng - News | Good News From Indonesia 2026

Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng

Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng
images info

Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng


Tahun 1998 menjadi masa yang tidak mudah bagi sebagian umat Buddha di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Saat itu, Sekolah Tinggi Agama Buddha Mpu Tantular di Buntu, Banyumas, berhenti beroperasi.

Padahal sebelumnya kampus itu cukup dikenal. Mahasiswanya pun datang dari berbagai daerah sekitarnya seperti Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, hingga Cilacap untuk belajar agama Buddha secara lebih mendalam.

Usai tutup, saat itulah mulai ada gagasan untuk membangun kampus baru di Semarang. Maka lahirlah STAB Syailendra.

baca juga

Pengalaman Mengajar yang Melahirkan Gagasan

Salah satu sosok yang terlibat sekaligus jadi pelaku dalam perjalanan itu adalah Bhikkhu Jotidhammo Thera. Ia pernah mengajar di STAB Mpu Tantular selama bertahun-tahun.

Di kampus tersebut, ia mengampu berbagai mata kuliah penting dalam studi Buddhis. Bhikkhu Jotidhammo mengajar Bahasa Pali, Riwayat Hidup Buddha Gotama, hingga kajian kitab suci seperti Vinaya, Sutta, dan Abhidhamma.

Bagi yang belum familiar, bahasa Pali adalah bahasa kuno yang digunakan dalam banyak kitab suci Buddha. Banyak ajaran Buddha Theravada ditulis dalam bahasa ini. Sementara itu, Vinaya adalah aturan disiplin bagi para bhikkhu dan bhikkhuni.

Lalu, Sutta berisi khotbah Buddha yang menjadi dasar ajaran moral dan spiritual. Sedangkan Abhidhamma membahas analisis mendalam tentang pikiran dan fenomena kehidupan menurut ajaran Buddha.

Selain mengajar, Bhikkhu Jotidhammo juga terlibat dalam penyusunan kurikulum dan kalender akademik sejak 1990 hingga kampus itu berhenti beroperasi pada 1998. Setelah kampus tersebut berhenti, Bhikkhu Jotidhammo lah yang meneruskan cita-cita pendirian kampus baru di kawasan Jawa Tengah.

baca juga

Melihat Potensi Generasi Muda Buddhis

Di berbagai daerah di Jawa Tengah, banyak pemuda Buddhis sebenarnya memiliki minat untuk melanjutkan pendidikan. Mereka ingin belajar lebih dalam tentang ajaran Buddha, sekaligus memperoleh pendidikan formal.

Pendidikan tinggi agama Buddha dipandang penting karena memiliki beberapa peran. Pertama, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda Buddhis. Kedua, membentuk karakter dan budi pekerti. Ketiga, menyiapkan tenaga pengajar agama Buddha.

Selain itu, kampus juga diharapkan melahirkan dhammaduta.

Dhammaduta berarti orang yang menyebarkan ajaran Buddha kepada masyarakat. Mereka biasanya memberikan pembinaan umat, ceramah keagamaan, serta membantu kegiatan sosial keagamaan.

Dari kebutuhan inilah muncul gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi agama Buddha yang baru di Jawa Tengah.

baca juga

Mengambil Nama dari Dinasti Bersejarah

Ketika kampus tersebut direncanakan, para penggagasnya memilih nama yang memiliki makna sejarah.

Nama Syailendra diambil dari Wangsa Syailendra, dinasti yang pernah berkembang di Jawa Tengah pada masa lampau.

Dinasti ini dikenal luas karena membangun Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia yang hingga kini masih berdiri megah.

Pemilihan nama tersebut bukan tanpa alasan. Para pendiri berharap pendidikan Buddha di Indonesia dapat berkembang kuat dan bertahan lama, sebagaimana warisan sejarah yang ditinggalkan oleh Wangsa Syailendra.

Gagasan pendirian kampus pun mulai dipersiapkan pada 1999.

Proses pengurusan izin dilakukan pada tahun 2000. Upaya ini melibatkan kerja sama antara Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Provinsi Jawa Tengah.

Setelah berbagai proses administrasi dilalui, kegiatan perkuliahan akhirnya dapat dimulai pada 2001.

Tanggal 10 September 2001, surat pengesahan dari Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha dibacakan.

Peristiwa tersebut berlangsung di Dhammasala Wihara Maha Dhamma Loka, yang kini lebih dikenal sebagai Wihara Tanah Putih Semarang.

Di hadapan mahasiswa angkatan pertama, kampus baru itu resmi berdiri dengan nama Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra.

baca juga

Kuliah Pertama di Ruang Wihara

Kuliah pertama dilaksanakan menggunakan ruang serbaguna di bawah kuti Wihara Tanah Putih. Tempat itu menjadi ruang belajar bagi mahasiswa angkatan awal.

Dua tahun kemudian, pada 20 April 2003, kegiatan perkuliahan dipindahkan ke Gedung Dasa Paramitta di Dusun Deplongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Gedung tersebut diresmikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama Republik Indonesia. Peresmian dihadiri para bhikkhu, tokoh lintas agama, donatur, dan umat Buddha.

Lokasi kampus di Kabupaten Semarang dipilih karena Jawa Tengah termasuk provinsi dengan jumlah umat Buddha yang cukup besar di Indonesia.

baca juga

Yayasan dan Penguatan Legalitas

Secara kelembagaan, kampus ini berada di bawah Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra.

Awalnya yayasan tersebut bernama Yayasan Sammasambodhi yang didirikan di Semarang pada 31 Oktober 2000.

STAB Syailendra kemudian memperoleh pengesahan melalui Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Nomor DJ.VI/51/SK/2002 pada 30 Juli 2002.

Pada 10 Juli 2007, nama yayasan tersebut berubah menjadi Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra.

Legalitas ini memperkuat posisi STAB Syailendra sebagai perguruan tinggi agama Buddha yang diakui pemerintah.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.