AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Global Village 4.0 “Want to Fly with a Carpet?: Let’s See a New World Taste Beyond Borders” pada Sabtu (14/02/2026) di Aula Teknik GKB III Lantai 6 Kampus UMM.
Acara ini mengusung konsep Magic Carpet Journey yang dirancang sebagai simbol perjalanan lintas budaya. Mengajak peserta untuk secara imersif “menjelajahi” berbagai belahan dunia melalui eksplorasi cita rasa kuliner serta narasi budaya dari berbagai negara.
Konsep ini tidak hanya menghadirkan pengalaman tematik yang menarik, tetapi juga membangun suasana interaktif yang merefleksikan semangat keterbukaan dan kolaborasi global.
Global Village 4.0 memanfaatkan makanan sebagai bahasa universal guna mendorong terwujudnya pemahaman lintas budaya secara alami dan berkelanjutan.
Melalui rangkaian engagement session serta penampilan Exchange Participants (EPs), acara tersebut dirancang untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, bebas batas, serta memperkuat koneksi antar peserta dalam suasana yang hangat dan menjunjung tinggi nilai persatuan global.

Kegiatan tersebut diawali dengan opening session yang memperkenalkan Global Village 4.0, tema besar, serta konsepMagic Carpet Journey kepada seluruh delegasi.
Suasana kemudian dibangun melalui cultural mini performance yang menghadirkan sentuhan seni dan budaya sebagai simbol dimulainya perjalanan lintas negara.
Masuk sesi inti bertajuk “Carpet Ride Stories”, para delegasi bersama kelompoknya memperkenalkan budaya masing-masing serta berbagi cerita mengenai makanan tradisional favorit dari negara mereka.
Sesi ini menjadi ruang interaksi yang personal dan reflektif, di mana peserta dapat memahami nilai, kebiasaan, serta identitas unik setiap bangsa secara langsung dari perwakilannya.
Setelah sesi berbagi, delegasi melanjutkan perjalanan dalam Magic Carpet Food Trail, yaitu eksplorasi booth makanan internasional sambil berinteraksi dengan para Exchange Participants.
Setiap delegasi dibekali Flavor Passport untuk mengumpulkan stempel dari berbagai negara yang mereka kunjungi, sehingga menciptakan pengalaman yang imersif sekaligus interaktif.
Sebagai bentuk apresiasi, delegasi yang telah menyelesaikan perjalanan kuliner dapat menukarkan Flavor Passport mereka dengan badge eksklusif“World Taster”.
Peserta juga berkesempatan mengabadikan momen di photobooth sebelum acara ditutup secara resmi dalam closing session yang merangkum keseluruhan perjalanan lintas budaya hari itu.
Antusiasme yang tinggi terlihat dari padatnya booth dan interaksi aktif para pengunjung sepanjang acara.
Menanggapi hal tersebut, Organizing Committee President (OCP) Global Village 4.0, Amelia Indah, menyampaikan rasa haru dan bangganya.
“Melihat antusiasme pengunjung yang memadati booth hari ini, jujur saya merasa sangat terharu dan bangga. Visi yang kami susun dan diskusikan berbulan-bulan akhirnya bisa terlihat nyata di depan mata. Dari proses yang penuh revisi, koordinasi, sampai momen-momen lelah bersama tim, semuanya terasa terbayar ketika melihat booth ramai dan pengunjung menikmati setiap experience yang kami siapkan,” ujar Amelia Indah.

Global Village 4.0 sendiri berhasil menarik sekitar 121 delegasi terdaftar dengan dukungan 24 mitra kolaborator, yang turut berkontribusi dalam menyukseskan rangkaian acara.
Menurut Amel, terdapat beberapa faktor utama yang membuat kegiatan ini menarik perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan masyarakat Kota Malang.
“Pertama, konsepnya yang interaktif, sehingga peserta bukan hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung budaya dari berbagai negara. Kedua, adanya kesempatan bagi pengunjung untuk berlatih berbicara dan menggunakan bahasa Inggris secara langsung dengan para volunteer maupun perwakilan budaya di setiap booth. Ketiga, makanan menjadi elemen yang benar-benar menyatukan berbagai negara. Lewat makanan khas, pengunjung bisa merasakan bahwa perbedaan justru bisa dinikmati bersama,”jelasnya.
Lebih lanjut, Amelia Indah menegaskan bahwa Global Village 4.0 bukan sekadar ajang pameran makanan atau busana tradisional, melainkan sarana penyampaian pesan perdamaian dan toleransi.
Melalui interaksi yang terbangun, acara ini berupaya menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan bahasa bukanlah sebuah pemisah, melainkan kekayaan yang memungkinkan setiap individu untuk saling memahami dan bekerja sama.
Menurutnya, perdamaian dapat dipupuk melalui langkah sederhana, yakni kemauan untuk mendengar, belajar, dan menghargai.
Sebagai penutup di akhir acara, Amelia menaruh harapan besar agar para pengunjung tidak hanya sekadar mengabadikan momen visual. Namun, juga membawa pulang perspektif baru mengenai luasnya nilai-nilai budaya di dunia yang bisa dipelajari.
Tumbuhnya sikap keterbukaan, apresiasi terhadap perbedaan, hingga ketertarikan untuk terlibat dalam kegiatan internasional menjadi tolok ukur dampak positif yang sangat berarti dari perhelatan ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


