mudahkan petani rowosari kkn mit ke 21 uin walisongo bagikan alat penebar pupuk sederhana - News | Good News From Indonesia 2026

Mudahkan Petani Rowosari, KKN MIT Ke-21 UIN Walisongo Bagikan Alat Penebar Pupuk Sederhana

Mudahkan Petani Rowosari, KKN MIT Ke-21 UIN Walisongo Bagikan Alat Penebar Pupuk Sederhana
images info

Mudahkan Petani Rowosari, KKN MIT Ke-21 UIN Walisongo Bagikan Alat Penebar Pupuk Sederhana


Petani merupakan salah satu profesi terbanyak di Desa Rowosari, Kecamatan Limpung. Berbekal informasi yang didapat dari perangkat desa dan wawancara langsung dengan petani, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN MIT) Ke-21 UIN Walisongo membagikan 5 unit alat penebar pupuk kepada petani Desa Rowosari.

Sebelum digunakan langsung di lahan persawahan, alat yang dibuat secara mandiri oleh mahasiswa KKN ini diperkenalkan terlebih dahulu melalui kegiatan kajian menjelang Magrib di Masjid Hidayatul Muttaqin Rowosari pada Selasa, 24 Februari 2026.

Pada koordinasi yang dilakukan dengan perangkat desa selama pekan pertama KKN, mahasiswa mendapat informasi mengenai jenis pekerjaan yang paling banyak digeluti oleh masyarakat desa Rowosari, yakni buruh, petani, dan peniaga.

baca juga

Informasi-informasi mengenai jenis tumbuhan yang sering ditanam, sistem pengairan, serta tata cara pengelolaan sawah mendorong inisiatif mahasiswa KKN untuk membuat alat penebar pupuk sederhana.

Mayoritas petani Desa Rowosari masih memupuk tanaman tanpa alat bantu sehingga memakan banyak waktu dan tenaga. Menyikapi hal itu, mahasiswa membuatkan alat agar petani cukup menebar pupuk dengan berdiri sambil menekan alat, tidak perlu membungkuk.

Selain menghemat waktu, cara ini diharapkan mempermudah gerakan bertani menjadi lebih ringkas.

Alat yang memanfaatkan sistem pegas ini dibuat menggunakan bahan dasar pipa, dengan panjang total 80cm dan masih bisa dipotong menyesuaikan tinggi penggunanya. Supaya pupuk dapat keluar melalui lubang dengan panjang sebesar 3 cm, digunakan bahan elastis seperti ban karet atau karet pantil untuk menjaga elastisitas buka-tutupnya.

5 unit alat penebar pupuk ini nantinya akan dibagikan kepada tiap-tiap Dusun di Desa Rowosari, yakni Dusun Rowosari, Dusun Pencar, Dusun Paten, dan Dusun Adiloko.

Meskipun jumlahnya terbatas, tetapi penyuluhan menyampaikan mengenai cara pembuatan dan pemanfaatan alat secara rinci. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa alat penebar pupuk dapat dibuat secara mandiri menggunakan bahan yang sederhana, mudah ditemui dan murah.

Pengenalan dan peragaan alat yang dilakukan oleh Emma Nurhaliza, Erma Pradmahsari, dan Arga Dwi Prasetiyo ini mendapat tanggapan antusias masyarakat setempat.

baca juga

Peserta yang hadir juga berkesempatan untuk mencoba alat langsung di tempat. Di samping itu, mahasiswa KKN UIN Walisongo memberikan tawaran bagi warga yang ingin menggunakan alat tersebut di lahan sawah mereka keesokan harinya.

Alat penebar pupuk sederhana ini dapat dibuat secara mandiri dengan budget sebesar Rp20 ribu— Rp30 ribu per-alatnya. Cara kerjanya adalah dengan memasukkan pupuk dari lubang pipa atas. Nantinya, pupuk akan keluar dari lubang kecil di pipa bagian bawah ketika alat ditekan ke tanah.

Koordinator Posko 12 Desa Rowosari, Arga Dwi Prasetiyo, menegaskan akan adanya tindak lanjut bagi warga yang berminat akan alat yang diperkenalkan pada kegiatan ini.

"Ini salah satu dari kesadaran mahasiswa KKN untuk memberdayakan para petani di desa Rowosari, untuk memudahkan dan juga untuk memajukan para warga desa sini. Nanti kita melakukan pendampingan bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara kerjanya,” ujar Arga dalam pemaparannya.

Salah seorang warga Rowosari, Bambang Basuki, menyambut baik pengenalan produk penebar pupuk sederhana pada kegiatan ini. Ia berharap percontohan penggunaan dapat diaplikasikan oleh masyarakat di lain waktu.

"Mudah-mudahan nanti apa yang diperkenalkan oleh KKN ini bisa dipraktikkan, bisa dicoba masyarakat petani yang saat ini akan memupuk," ucapnya.

baca juga

KKN MIT Ke-21 UIN Walisongo Semarang bertemakan “Pemberdayaan Ekonomi Kreatif, Literasi Digital, dan Kesehatan Masyarakat Berbasis Inovasi Desa”. Maka, program yang diselenggarakan oleh Kelompok KKN Posko 12 ini linier dengan tema yang diusung. Terutama pada bagian “Kesehatan Masyarakat Berbasis Inovasi Desa”. Sebab, membungkuk terlalu lama pada saat bertani akan memberikan dampak jangka panjang di masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AV
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.