mahasiswa kkn ipb hadirkan program umkm naik kelas dengan branding dan pembayaran digital di desa leuwisadeng - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa KKN IPB Hadirkan Program UMKM Naik Kelas dengan Branding dan Pembayaran Digital di Desa Leuwisadeng

Mahasiswa KKN IPB Hadirkan Program UMKM Naik Kelas dengan Branding dan Pembayaran Digital di Desa Leuwisadeng
images info

Mahasiswa KKN IPB Hadirkan Program UMKM Naik Kelas dengan Branding dan Pembayaran Digital di Desa Leuwisadeng


Program UMKM Naik Kelas yang digagas mahasiswa KKN-T IPB berhasil mendampingi lima pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Selama sepuluh hari pelaksanaan, yakni pada Rabu (14/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026), tim mahasiswa memberikan pendampingan nyata berupa pemasangan banner usaha pada empat UMKM dan implementasi sistem pembayaran digital QRIS pada satu UMKM.

Kawan GNFI, Desa Leuwisadeng menyimpan semangat wirausaha yang cukup menggembirakan. Sejumlah usaha mikro rumahan tumbuh aktif di sana, mulai dari warung makan, usaha kuliner, hingga berbagai usaha kecil lain yang dijalankan oleh warga setempat. Namun di balik semangat itu, banyak pelaku usaha masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Salah satu kendala terbesar adalah kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan usaha secara profesional. Tidak sedikit pelaku UMKM yang belum memiliki identitas visual usaha yang kuat, sehingga sulit dikenali oleh calon konsumen dari luar desa.

Di sisi lain, metode transaksi yang masih bertumpu pada pembayaran tunai membuat mereka tertinggal di era digital yang terus berkembang. Kondisi ini mendorong tim KKN-T IPB untuk hadir dengan solusi konkret yang tepat sasaran.

Menyadari tantangan yang dihadapi para pelaku usaha, tim mahasiswa KKN-T IPB merancang program UMKM Naik Kelas yang berfokus pada dua aspek utama: penguatan identitas visual dan transformasi pembayaran digital. Program dilaksanakan melalui tiga tahapan yang sistematis:

  1. Wawancara dan observasi. Tim turun langsung ke lapangan untuk mengenali kebutuhan spesifik masing-masing pelaku usaha. Proses ini penting agar pendampingan yang diberikan benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar program generalis tanpa akar permasalahan yang jelas.
  2. Perancangan banner usaha. Berdasarkan hasil wawancara, tim membantu pelaku UMKM merancang dan memproduksi banner usaha yang menarik. Banner ini dirancang untuk meningkatkan identitas visual sekaligus daya tarik usaha di mata konsumen, baik yang datang langsung maupun yang melintas di sekitar lokasi usaha.
  3. Implementasi QRIS. Tim mendampingi satu UMKM dalam proses pendaftaran dan aktivasi sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dengan QRIS, transaksi non-tunai menjadi lebih mudah dilakukan sehingga meningkatkan profesionalitas dan kenyamanan bertransaksi bagi konsumen.

Dari lima UMKM yang mendapatkan pendampingan intensif, program ini menghasilkan capaian yang konkret. Empat UMKM kini telah memiliki banner usaha baru yang representatif sebagai media branding, sementara satu UMKM berhasil mengaktifkan layanan pembayaran digital QRIS.

Capaian ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat berarti bagi pelaku usaha di tingkat desa. Banner yang terpasang bukan sekadar papan nama biasa, melainkan representasi identitas usaha yang membantu pelaku UMKM tampil lebih percaya diri dan dikenal lebih luas oleh masyarakat sekitar.

Sementara itu, kehadiran QRIS membuka pintu bagi konsumen generasi muda yang terbiasa bertransaksi secara digital, sekaligus mengurangi risiko pengelolaan uang tunai dalam keseharian usaha.

Program UMKM Naik Kelas menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa mampu menghadirkan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan. Melalui program KKN-T, mahasiswa IPB tidak hanya mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga hadir sebagai mitra pemberdayaan yang memahami kebutuhan nyata masyarakat dari dekat.

Kawan GNFI, kolaborasi semacam ini sejatinya perlu terus didorong dan direplikasi di desa-desa lain yang memiliki potensi UMKM serupa. Dengan pendekatan yang terstruktur, berbasis kebutuhan, dan berdampak langsung, program-program seperti UMKM Naik Kelas dapat menjadi katalisator transformasi UMKM lokal.

Desa Leuwisadeng pun memiliki potensi besar untuk terus berkembang menjadi desa yang lebih produktif dan berdaya saing, salah satunya dengan terus memperkuat sektor UMKM secara terpadu dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.