Kawan GNFI, bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh dengan keberkahan. Banyak cara untuk berbagi dengan makna sosial di bulan suci yang kaya akan pahala salah satunya dengan berbagi takjil.
Di Indonesia, fenomena bagi-bagi takjil ini menjadi tradisi jelang buka puasa secara sukarela dengan membagi makanan dan minuman kepada mereka yang membutuhkan (musafir, pekerja, dan umum).
Kegiatan bagi-bagi takjil gratis ini seringkali terlihat di banyak fasilitas umum, tempat ibadah jalanan, baik oleh komunitas maupun individu di mana setiap daerah memiliki ciri khas takjil tersendiri yang populer.
Ingin tahu bagaimana keseruan hingga fenomena bagi-bagi takjil yang lebih dari sekadar tradisi di bulan suci Ramadan? Simak ulasanya berikut ini, ya, Kawan GNFI!
Bagi-Bagi Takjil dalam Perspektif Sosial dan Solidaritas
Dilansir dari kompas klasika, takjil berlandaskan atas sunnah nabi Muhammad SAW, di mana menganjurkan setiap muslim untuk berbuka puasa dengan kurma dan segelas air.
Di Indonesia landasan ini menyesuaikan dengan budaya lokal dengan variasi makanan yang terus berkembang menjadi hidangan khas (seperti kolak, es buah, kue tradisional, cendol) yang menurut maknanya, takjil berasal dari bahasa arab ‘ta’jil’ merujuk pada ‘menyegerakan’ dalam hal ini untuk berbuka puasa.
Bagi-bagi takjil sendiri menjadi salah satu cara bagaimana memaknai bulan suci Ramadan dengan lokalitas yang menciptakan tradisi yang menghubungkan berbagai generasi melalui cerita, pengalaman, dan makna mendalam.
Menurut sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), fenomena bagi-bagi takjil di Indonesia dalam hal berbagi merupakan suatu bentuk kepekaan sosial dan solidaritas antar warga RI.
“Agama menggerakkan orang untuk beribadah sekaligus berbuat baik yang nyata dirasakan masyarakat. Ini penting bagi masyarakat yang banyak mengalami kesenjangan,” ungkap M. Jacky mengutip laman Unesa, Kamis, (06/03/2025).
Dari perspektif agama islam dikutip dari NU online, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ
Artinya:
“Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR Ahmad).
Dengan memaknai tradisi bagi-bagi takjil di bulan Ramadan ini menjadi suatu cara untuk berbagi kebaikan di bulan suci Ramadan untuk sesama dengan perspektif sosial dan religi sebagai tindakan mulia yang kaya akan makna dan menciptakan pahala.
Tradisi Bagi-bagi Takjil jadi Simbol Kedermawanan Warga RI
Fenomena dan tradisi bagi-bagi takjil di Indonesia menjadi bentuk nyata dari aksi sosial dengan mengusung semangat kebersamaan akan kepedulian. Hal ini mencerminkan bahwa warga RI memiliki sifat dermawan untuk saling bersilaturahmi dan menguatkan ikatan persaudaraan melalui momen sederhana di bulan suci Ramadan.
Selain menjadi simbol kedermawan tradisi bagi-bagi takjil juga memiliki beberapa manfaat sosial, antara lain:
- Simbol persatuan dan tradisi dengan meningkatkan rasa empati, hubungan sosial, dan menumbuhkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan
- Simbol kesetaraan karena siapapun pemberi dan penerima manfaatnya dalam hal ini menghilangkan sekat sosial tanpa memandang status karena saling berbaur di tempat yang sama untuk tujuan bersama dengan momen sederhana yang kaya makna
- Menumbuhkan sikap dermawan dan ikhlas dalam memberi dari momen bulan suci Ramadan untuk saling berbagi tanpa mengharapkan apapun, melainkan untuk menebar kebaikan.
- Meringankan beban sesama untuk mereka bisa berbuka tepat waktu, tanpa mengkhawatirkan makanan di hari mereka beribadah puasa.
- Menebar kebahagiaan dengan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dari momen sederhana yang menambah keberkahan
Fenomena bagi-bagi takjil di Indonesia ini menjadi wujud akan hubungan antara ketaatan beragama, kearifan lokal, dan solidaritas kemanusiaan sebagai simbol kedermawanan warga RI yang menjadi tradisi.
Tradisi bagi-bagi takjil juga tak hanya mengejar pahala spiritual, tapi sebagai bentuk perekat hubungan sosial yang kuat di tengah perbedaan masyarakat tanpa memandang status apapun.
Mari berbagi, kejar pahalanya, dan ciptakan kebahagiaan untuk sesama di bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan.
Inspiratif sekali, ya, Kawan GNFI!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


