museum aceh library of our history - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Aceh: Library of Our History

Museum Aceh: Library of Our History
images info

Museum Aceh: Library of Our History


Pengalaman saya ke luar negeri mengunjungi kota-kota besar dunia seperti London, Paris, Amsterdam, New York, Kairo, dan sebagainya, yang wajib dikunjungi di antara banyaknya ikon yang menarik adalah museum. Bukan tanpa alasan, museum merupakan potret sejarah suatu bangsa.

Rata-rata museum di kota-kota yang saya kunjungi itu—seperti British Museum di London dan Louvre di Paris—bangunannya besar-besar sehingga pengunjung harus meluangkan waktu yang lama untuk berkeliling museum. Hal itu karena saking banyaknya benda-benda dan artefak yang dipajang bersama dengan informasi latar belakang benda-benda tersebut. Di museum Kairo, Mesir, saya dapat melihat jasad Firaun, raja Mesir zaman Nabi Musa. Memang kejayaan dan kebanggaan suatu negara atau bangsa bisa dilihat dari apa yang ditampilkan di museum.

Ketika saya menghadiri acara Pertemuan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) seluruh Indonesia tanggal 20–22 Mei 2026, pihak tuan rumah Universitas Syiah Kuala mengajak para peserta mengunjungi Museum Aceh di pusat kota Banda Aceh. Jujur, saya terkesan dengan Museum Aceh ini karena di tempat saya di Surabaya tidak ada museum sebesar dan selengkap Museum Aceh ini, dan museum ini tidak kalah dengan museum-museum di kota-kota besar dunia itu.

Ternyata Museum Aceh ini memiliki sejarah panjang karena pertama kali didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan resmi dibuka untuk umum pada 31 Juli 1915 dengan nama Atjeh Museum. Bangunan awal museum berupa Rumoh Aceh, rumah tradisional khas Aceh yang sebelumnya menjadi Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial di Semarang (13 Agustus–15 November 1914). Setelah pameran usai, bangunan tersebut dipindahkan ke Banda Aceh dan dijadikan museum.

Museum Aceh dipimpin oleh F. W. Stammeshaus, seorang etnografer Belanda yang juga menjadi kurator pertamanya. Peresmian dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh, Jenderal H.N.A. Swart. Sejak saat itu, Museum Aceh menjadi pusat pelestarian benda-benda budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan masyarakat Aceh. Hingga tahun 2025, Museum Aceh memiliki sekitar 6.038 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan 12.445 judul buku di perpustakaannya. Koleksi tersebut mencakup artefak arkeologi, etnografi, numismatik, filologi, seni rupa, serta berbagai dokumen sejarah yang menjadi sumber pengetahuan penting tentang peradaban dan kebudayaan Aceh.

Museum Aceh bukan sekadar ruang penyimpanan artefak sejarah. Museum ini juga menjadi ruang memori kolektif yang merekam perjalanan peradaban, ketahanan, dan kontribusi strategis Aceh dalam sejarah Indonesia. Di antara berbagai koleksi yang dipamerkan, salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung adalah kisah Pesawat Seulawah RI-001. Kehadirannya bukan hanya menjadi daya tarik visual, melainkan simbol nyata bagaimana solidaritas rakyat mampu menopang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Replika Pesawat Seulawah RI-001 sendiri dapat dilihat di kawasan Blang Padang, Banda Aceh.

Di Museum Aceh kita dapat melihat kehidupan masyarakat Aceh yang berlandaskan adat istiadat dan nilai-nilai keislaman yang kuat dan juga menelusuri cara orang Aceh membangun kehidupan sehari-hari, mulai dari arsitektur rumah yang selaras dengan alam hingga semangat gotong royong dan musyawarah yang menjadi fondasi kerukunan. Semua nilai ini bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah akar yang telah lama menancap dalam diri masyarakat.

Di jantung Museum Aceh saya berkesempatan foto di depan sebuah artefak perunggu berbentuk stupa. Benda yang telah berusia lebih dari enam abad ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan saksi bisu hubungan diplomatik antara dua kekuatan besar Asia pada masa lampau. Stupa itu adalah Lonceng Cakradonya, warisan dari era kejayaan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, yang merekam babak awal diplomasi global antara dunia Islam dan kekaisaran Timur.

Kisah Cakradonya bermula pada awal abad ke-15. Kesultanan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara, telah menjadi pusat perdagangan dan pertemuan budaya di jalur strategis Selat Malaka. Pada tahun 1414 Masehi, armada besar Dinasti Ming yang dipimpin Laksamana Cheng Ho berlabuh di perairan Pasai. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan dagang, melainkan peristiwa diplomatik yang mengikat dua peradaban besar.

"Mereka sopan dalam berbicara, jujur dalam berdagang, dan taat pada hukum agama," tulis Ma Huan, penerjemah sekaligus penulis catatan perjalanan Cheng Ho, tentang masyarakat Pasai.

Sebagai simbol persahabatan dan kehormatan, Kaisar Tiongkok menghadiahkan Lonceng Cakradonya. Ditempa sekitar tahun 1409 M, lonceng ini memperlihatkan perpaduan gaya artistik Tiongkok dan Islam. Ia bukan sekadar benda mewah, melainkan meterai diplomasi, penanda hubungan setara antara dua kekuatan maritim terbesar Asia.

Di Museum Aceh ini juga saya melihat rumah tradisional Aceh seperti rumah panggung yang ditopang beberapa pilar bundar. Seorang dosen Universitas Syiah Kuala menjelaskan kepada saya bahwa pilar-pilar rumah adat Aceh itu kolomnya dibuat bundar dan bukan segi empat untuk menghindari gajah-gajah menggesek-gesekkan punggungnya bila merasa gatal. Saya baru tahu soal itu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.