nilai sejarah budaya dan spiritual masjid jami mungsolkanas bandung - News | Good News From Indonesia 2026

Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritual Masjid Jami Mungsolkanas Bandung

Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritual Masjid Jami Mungsolkanas Bandung
images info

Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritual Masjid Jami Mungsolkanas Bandung


Di balik hiruk pikuk kawasan Cihampelas yang modern dan padat, terdapat sebuah masjid tua yang menyimpan kisah panjang peradaban Islam di Bandung. Letaknya tersembunyi di Gang Mama Winata, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong.

Banyak orang melintas tanpa pernah menyadari bahwa di balik gang sempit itu berdiri masjid tertua di kota ini. Namanya Masjid Jami Mungsolkanas.

Ia bukan hanya bangunan ibadah, tetapi menyimpan jejak sejarah, ruang budaya, dan rumah spiritual yang hidup dan penting.

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.
info gambar

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.


Keberadaan Masjid Jami Mungsolkanas seperti potongan masa lalu yang tetap bernapas di tengah kota modern. Di sekelilingnya berdiri apartemen, pusat belanja, sekolah tinggi, dan rumah sakit. Lingkungannya berubah cepat, tetapi masjid ini bertahan tenang. 

Bandung sendiri tumbuh dari kota kecil kolonial menjadi kota besar modern. Sejarah mencatat perubahan itu sejak abad ke-19. Menurut Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), Bandung awalnya berkembang dari perkampungan kecil yang hidup dari pertanian dan perdagangan lokal.

baca juga

Masjid Mungsolkanas lahir pada fase awal itu. Ia hadir sebelum jalan besar, gedung kolonial, dan pusat kota modern terbentuk.

Di ruang sosial seperti itulah masjid ini tumbuh. Ia menjadi pusat ibadah, pendidikan agama, dan pertemuan warga. Fungsinya melampaui bangunan fisik.

Ia membentuk pola hidup, nilai, dan relasi sosial masyarakat sekitarnya. Masjid ini tidak dibangun oleh negara atau kolonial. Ia lahir dari gotong royong warga dan kepemimpinan ulama lokal.

Sejarah, budaya, dan spiritualitas menyatu dalam satu ruang. Itulah yang membuat Mungsolkanas tidak sekadar tua, tetapi bermakna. Ia bukan museum mati, tetapi ruang hidup yang terus digunakan.

Aktivitas ibadah, pengajian, pendidikan anak, dan kegiatan sosial masih berlangsung hingga hari ini. Ia menjadi bukti bahwa warisan sejarah bisa tetap relevan.

Nilai Sejarah

Masjid Jami Mungsolkanas didirikan pada tahun 1869. Tahun ini jauh sebelum Bandung menjadi kota besar. Saat itu, kawasan Cihampelas masih berupa perkampungan dan kebun.

Masjid ini dibangun oleh Kiai Haji Abdulrohim, yang dikenal sebagai Mama Aden. Ia adalah ulama lokal yang berperan besar dalam syiar Islam di Bandung Utara.

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.
info gambar

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.


Tanah masjid berasal dari wakaf Hj Siti Lantenas. Ia dikenal sebagai janda kaya, istri dari pejabat lokal pada masa itu. Wakaf tanah menjadi fondasi utama berdirinya masjid.

Tradisi wakaf tersebut mencerminkan etos filantropi Islam yang kuat di masyarakat Sunda. Menurut Azyumardi Azra dalam Islam Nusantara (2002), wakaf menjadi salah satu pilar utama perkembangan Islam di Nusantara.

Bangunan awal masjid sangat sederhana. Bentuknya rumah panggung dari bambu dan kayu. Ia juga berfungsi sebagai kobong atau asrama santri. Sistem pengajaran agama berlangsung dengan metode pesantren tradisional. Mama Aden mengajar langsung murid-muridnya di ruang sederhana itu.

Renovasi pertama berlangsung sekitar 1930 hingga 1933. Bangunan diperkuat menjadi struktur lebih permanen. Renovasi ini dilakukan secara gotong royong warga. Tidak ada proyek besar atau pendanaan negara. Semuanya berbasis solidaritas sosial.

baca juga

Renovasi berikutnya terjadi pada 1940 hingga 1950-an. Perbaikan dilakukan bertahap. Fokusnya penguatan struktur dan perluasan ruang. Jumlah jamaah terus bertambah. Masjid berkembang mengikuti kebutuhan umat. Renovasi besar kembali terjadi pada awal 1990-an.

Puncak renovasi terjadi pada tahun 2009. Bangunan satu lantai diubah menjadi dua lantai. Kapasitas jamaah meningkat signifikan. Fasilitas pendukung ibadah juga diperbarui. Masjid menjadi lebih fungsional, tanpa kehilangan identitas sejarahnya.

Sejarawan lokal Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Jawa Barat (2003) menjelaskan bahwa bangunan keagamaan tua di Jawa Barat memiliki peran penting dalam pembentukan identitas kota. 

Masjid Mungsolkanas juga memiliki narasi sejarah nasional. Soekarno pernah singgah dan menginap di masjid ini saat berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng. 

Hingga hari ini, peninggalan fisik yang tersisa masih disimpan. Salah satunya adalah Al-Qur’an tulisan tangan Mama Aden. Kitab itu disimpan dalam etalase kaca. Usianya diperkirakan lebih dari 140 tahun. Ia menjadi artefak sejarah yang langka dan bernilai tinggi.

Ada juga batu prasasti hitam di pintu masuk. Batu itu memuat nama masjid, tahun berdiri, dan filosofi nama. Prasasti ini menjadi penanda identitas sejarah yang kuat. Ia mengikat masa lalu dengan masa kini dalam satu simbol visual.

Nilai Budaya

Nama Mungsolkanas bukan nama Arab. Ia berasal dari akronim bahasa Sunda. Kalimat lengkapnya adalah “Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi SAW.” Artinya ajakan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Nama ini mencerminkan akulturasi Islam dan budaya Sunda.

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.
info gambar

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.


Budayawan Sunda Jakob Sumardjo dalam Estetika Sunda (2010) menjelaskan bahwa budaya Sunda sangat kuat dalam simbol, bahasa, dan makna. Nilai religius sering dikemas dalam bahasa lokal. Itulah yang terlihat pada nama Mungsolkanas. Nama masjid ini bukan sekadar identitas. Ia adalah pesan dakwah. Setiap orang yang menyebut namanya otomatis membaca pesan religius.

Dalam perspektif sosiologi agama, Emile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912) menjelaskan bahwa agama membentuk solidaritas sosial. Masjid Mungsolkanas menunjukkan fungsi itu secara nyata. Ia memperkuat ikatan sosial warga.

Letaknya yang tersembunyi juga membentuk karakter budaya unik. Masjid ini tidak tampil megah di jalan besar. Ia hadir sederhana di gang kecil. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatannya.

baca juga

Nilai Spiritual

Dimensi spiritual Mungsolkanas sangat kuat. Filosofi namanya berasal dari ajaran dalam kitab Tankibulkaul. Ajaran itu menyebut keutamaan shalawat sebagai jalan doa. Shalawat menjadi simbol cinta kepada Nabi dan kedekatan kepada Tuhan.

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.
info gambar

Masjid Jami Mungsolkanas Bandung. Foto: dokumen penulis.


Dalam tradisi Islam, shalawat memiliki makna teologis dan psikologis. Ia membentuk ketenangan batin dan orientasi spiritual. Menurut Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1992), shalawat adalah bentuk hubungan emosional dan spiritual umat dengan Nabi.

Nama masjid menjadi pengingat permanen akan praktik spiritual itu. Setiap jamaah yang datang diingatkan untuk bershalawat. Pesan itu tidak melalui teks panjang. Ia hadir dalam satu kata yang sederhana. 

Masjid ini menjadi ruang kontemplasi. Ia menghubungkan manusia dengan masa lalu, komunitas, dan Tuhan. Ia menjadi ruang refleksi identitas. Siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita menuju.

Dalam teori spiritualitas modern, Ken Wilber dalam Integral Spirituality (2006) menjelaskan bahwa ruang spiritual bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah ruang makna. Masjid Mungsolkanas memenuhi fungsi itu secara utuh. 

Bagi generasi muda, masjid ini menjadi ruang belajar makna agama yang membumi. 

Masjid Mungsolkanas adalah contoh bagaimana sejarah, budaya, dan spiritualitas bisa menyatu harmonis. Ia bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah ruang hidup yang terus tumbuh. Ia menjadi bukti bahwa warisan sejarah tidak harus menjadi benda mati.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.