Perayaan Cap Go Meh menjadi momen yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian agenda Tahun Baru Imlek. Mengutip laman resmi LBI Universitas Indonesia, istilah Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkien yakni 十五冥 yang bisa diartikan malam ke-15. Lebih spesifiknya, 十五(Cap Go) berarti lima belas dan 冥(Meh) berarti malam.
Hal ini merujuk pada perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan pada malam ke-15 sejak Hari Raya Imlek berlangsung. Selain itu, bisa juga dimaknai sebagai perayaan bulan purnama pertama pasca Imlek karena dalam kalender Tionghoa bulan purnama jatuh setiap tanggal 15.
Perayaan ini kerap kali identik dengan lampion, menyimbolkan harapan baru yang cerah selaras dengan munculnya purnama pertama di tahun baru.
Artikel ini menyajikan informasi lengkap mulai dari makna hingga sejarah asal-usul Cap Go Meh dalam berbagai versi bagi Kawan yang ingin mengetahui seputar festival lampion atau juga tak sabar ingin segera menyantap lontong khas perayaan tersebut.
Simak sampai habis ya, Kawan!
Akar Historis: Dari Dinasti Han hingga Legenda Kuno

Sejarah Cap Go Meh Lengkap Berbagai Versi dan Maknanya | Unsplash @Vernon Rainel Cenzon
Ada berbagai versi yang menjelaskan sejarah asal-usul Cap Go Meh, berikut di antaranya:
Sejarah Cap Go Meh Versi penghormatan Dewa Thai Yi
Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, sejak awal tujuan diadakannya Cap Go Meh adalah untuk memberi hormat kepada dewa tertinggi langit, yakni Dewa Thai Yi. Laman Bisnismuda.id menjabarkan bahwa praktik ini sudah dimulai sejak era Dinasti Han atau sekitar tahun 206 Sebelum Masehi hingga 221 Masehi.
Sejarah Cap Go Meh Versi Ritual Biksu Buddha
Catatan lain seperti yang dimuat oleh LBI UI menyebut bahwa tradisi Cap Go Meh bermula dari kebiasaan para biksu Buddha yang kerap menggantungkan lampion sebagai wujud penghormatan pada Sang Buddha di malam ke-15 pasca Imlek.
Kaisar Han Ming Di atau Kaisar Ming mengetahui hal ini dan memerintahkan agar semua kuil, rumah-rumah warga, hingga istana melakukan hal yang sama.
Sejarah Cap Go Meh Legenda Siasat Lampion
Ada pula versi sejarah Cap Go Meh yang menceritakan bahwa perayaan ini konon adalah bentuk siasat penduduk desa untuk mengelabuhi Kaisar Giok yang marah lantaran bangau/angsa peliharaannya terbunuh oleh warga desa.
Kaisar kemudian bermaksud untuk menjatuhi hukuman dengan membakar seluruh desa tersebut. Namun, sebelum hal itu terjadi, para warga sudah terlebih dahulu memasang lentera-lentera yang seolah membuat desa mereka tampak habis dimakan api.
Rencana yang datang atas saran seorang pria bijak ini berhasil dan Kaisar kemudian mengurungkan niatnya untuk membakar desa tersebut.
Makna Filosofis dan Simbolisme Kebajikan

Cap Go Meh: Makna Filosofis dan Simbolisme Kebajikan dari Lampion dan Makanan Tangyuan | Unsplash @Shiyun
Makna Cap Go Meh jauh lebih dalam dari sekadar estetika lampion yang Instagrammable. Ini dia sejumlah makna perayaan tersebut:
Simbolisme Lampion
Lampion warna-warni yang digantung di sepanjang jalan bukan hanya sekadar hiasan. Mereka merupakan simbol dari harapan baru di tahun yang baru.
Selain itu, warna merah dalam lampion Cap Go Meh melambangkan keberuntungan, perlindungan, dan doa-doa baik yang turut terbang bersama cahaya lentera.
Kuliner Tradisional: Tangyuan/Yuanxiao
Di negeri asalnya, ada hidangan wajib Cap Go Meh bernama Tangyuan dan Yuanxiao atau bola-bola tepung beras yang manis. Dikutip dari CGTN News, warga di bagian Timur China menyebut makanan tersebut sebagai Yuanxiao¸ sementara masyarakat Selatan menyebutnya Tangyuan.
Meski terdapat sedikit perbedaan dari segi pembuatan dan variasi isian, mereka dibuat dari bahan dasar dan bentuk yang sama yang melambangkan kesatuan dan kebahagiaan.
8 Nilai Kebajikan
Perayaan ini juga menjadi momen untuk melakukan reset terhadap diri kita dan menjadi pengingat akan delapan nilai kebajikan (Ba De) dalam ajaran Konfusius. Dikutip dari laman resmi Kemenag, berikut di antaranya:
- Xiao (孝) - Bakti
- Ti (悌) - Rendah Hati
- Zhong (忠) - Satya
- Xin (信) - Dapat Dipercaya
- Li (礼) - Susila
- Yi (义) - Kebenaran
- Lian (廉) - Suci Hati
- Chi (耻) - Tahu Malu
Cap Go Meh di Indonesia: Manifestasi Akulturasi
Seiring menyebarnya budaya Tionghoa melalui migrasi warganya, berkembang pula tradisi Cap Go Meh yang telah berakulturasi dengan budaya setempat termasuk di Indonesia sendiri.
Tradisi Tatung di Singkawang
Salah satu akulturasi budaya Tionghoa Indonesia yang paling ikonik adalah Tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat. Tradisi tersebut menggabungkan budaya Tionghoa dengan Dayak.
Kemenpar menjelaskan bahwa parade Tatung adalah pawai di mana orang-orang yang "dirasuki" roh leluhur atau kekuatan supranatural menunjukkan kekebalan tubuh, misalnya dengan berjalan di atas kaca atau menusuk tubuh dengan benda runcing.
Lontong Cap Go Meh: Rasa yang Menyatukan
Longtong Cap Go Meh berangkat dari akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Dikutip dari Antara dan Tempo, makanan ini terinspirasi dari bubur putih yang kerap ada di perayaan Cap Go Meh. Namun, mengingat di Indonesia bubur lekat sebagai makanan orang sakit, masyarakat Tionghoa peranakan Jawa kala itu menggantinya dengan lontong.
Sekarang Kawan GNFI sudah tahu kan kalau Cap Go Meh itu bukan sekadar festival biasa? Di baliknya ada sejarah ribuan tahun dan semangat persatuan yang luar biasa, terutama di tanah air kita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


