Singkawang, yang dijuluki sebagai "Kota Seribu Kelenteng", selalu punya cara magis untuk memukau dunia. Setiap tahunnya, perayaan Cap Go Meh di sini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan sebuah simfoni budaya yang berpusat pada satu fenomena unik: Ritual Tatung.
Apa Itu Ritual Tatung dan Cap Go Meh di Singkawang?
Cap Go Meh adalah puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15. Di Singkawang, perayaan ini menjadi sangat istimewa berkat kehadiran Tatung. Secara harfiah, Tatung adalah sosok perantara yang tubuhnya dipinjam oleh roh dewa atau leluhur. Dalam keadaan tidak sadar, para Tatung mempertunjukkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam sebagai simbol kekuatan spiritual yang melindungi kota.
Ritual Cuci Jalan (Ket Sam Thoi): Pembersihan Spiritual Sebelum Puncak Acara
Perayaan ini sangat sakral. Pasalnya, tepat pada hari ke-14 Imlek, atau satu hari sebelum puncak Cap Go Meh (H-1), masyarakat Singkawang melaksanakan ritual Cuci Jalan. Ritual ini bukan sekadar pawai, melainkan prosesi penyucian kota untuk menyambut hari kemenangan.
Dalam prosesi tersebut, aspek kekebalan tubuh para Tatung menjadi sorotan utama. Dengan benda-benda tajam yang menembus kulit tanpa meninggalkan luka sedikit pun, aksi ini merupakan bukti nyata kehadiran roh dewa atau leluhur. Bagi warga lokal, ini adalah manifestasi spiritualitas, bukan sekadar atraksi sirkus untuk menghibur penonton.
Sebelum parade besar dimulai, terdapat ritual penting bernama Ket Sam Thoi atau Cuci Jalan. Bagi masyarakat setempat, jalanan bukan sekadar aspal, melainkan simbol perjalanan hidup manusia. Ritual ini bertujuan untuk:
- Tolak Bala, Mengusir kemalangan dan energi negatif yang mungkin akan menghambat kesejahteraan warga.
- Memohon Keselamatan, Meminta perlindungan agar kota tetap aman dan damai.
- Pusat Ritual, Vihara Tri Dharma Bumi Raya memegang peranan vital sebagai titik pusat dimulainya pembersihan spiritual ini.
Sejarah dan Evolusi Tatung: Dari Dinasti Tung Zhou ke Era Gus Dur
Tradisi ini memiliki akar sejarah yang sangat tua, kembali ke Tiongkok pada masa Dinasti Tung Zhou (770 SM - 256 SM). Tradisi ini kemudian dibawa menyeberangi lautan oleh para imigran Tionghoa yang menetap di Kalimantan Barat. Dalam catatan sejarah, tradisi Tatung pernah digunakan dalam ritual Ta Ciau, yaitu upacara khusus untuk mengusir wabah penyakit yang melanda di masa lalu.
Namun, perjalanan Tatung di Indonesia tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, perayaan budaya Tionghoa di ruang publik sempat dilarang. Angin segar baru berhembus di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang mencabut larangan tersebut dan memicu kebangkitan kembali identitas serta tradisi Cap Go Meh hingga semegah sekarang.
Di era modern, validitas acara ini semakin kuat dengan keterlibatan aktif tokoh-tokoh daerah, seperti Walikota, yang hadir untuk memastikan festival ini berjalan sebagai agenda resmi pemerintah. Pengakuan formal ini menegaskan bahwa Cap Go Meh bukan hanya milik satu etnis, melainkan kebanggaan identitas bagi seluruh warga Singkawang.
Uniknya Akulturasi: Harmoni Etnis Tionghoa dan Dayak dalam Ritual Tatung
Salah satu keajaiban di Singkawang adalah bagaimana Tatung menjadi jembatan budaya. Ritual ini tidak hanya dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa, tetapi juga oleh suku Dayak. Perbedaan keduanya dapat dilihat dari:
Visual dan Kostum
Tatung Tionghoa biasanya mengenakan pakaian ala panglima perang Tiongkok kuno, sementara Tatung Dayak tampil gagah dengan atribut khas suku Dayak.
Musik Pengiring
Tabuhan drum dan simbal Tionghoa bersahutan harmonis dengan musik etnik lokal.
Inilah pesan kerukunan antar umat beragama dan etnis yang paling nyata dari tanah Singkawang.
Mengapa Cap Go Meh Singkawang Masuk Agenda Nasional?
Kini, perayaan ini telah menjadi agenda nasional yang menarik ribuan turis mancanegara. Hal ini memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat lokal, mulai dari pengusaha perhotelan hingga UMKM. Dukungan penuh pemerintah kian memperkuat posisi Singkawang sebagai pusat budaya Tionghoa terbesar dan paling otentik di Indonesia.
Jadi, sudah jelas kan mengapa Anda harus menyaksikan Cap Go Meh Singkawang sekali seumur hidup? Karena, hal ini adalah tentang merasakan toleransi Indonesia yang sesungguhnya. Antara hio, mistisme Tatung, dan keramahan warga, Anda akan pulang dengan pemahaman baru bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan pemisah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


