Warga di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, memelihara ritual unik dalam menyongsong Ramadan. Mereka menjalankan tradisi mandi rempah-rempah sebagai simbol penyucian diri. Ritual ini bukan sekadar membersihkan fisik, melainkan jembatan spiritual menuju bulan suci.
Akademisi Sumatera Utara, Remaja Putra Barus, memaparkan bahwa tradisi mandi pangir sejatinya telah berakar jauh sebelum agama-agama formal masuk ke tengah masyarakat. Sampai detik ini, mayoritas warga masih melestarikan ritual mandi tersebut sebagai bentuk penghormatan menyambut Ramadan.
"Pada dasarnya nilai nilai yang disampaikan adalah untuk penyucian diri, Kalau penilaian saya untuk menyucikan diri menyambut hari Ramadhan. Karena suku suku di Indonesia masih terikat secara nilai nilai leluhurnya," ujarnya yang dimuat Antara.
Ia menjelaskan bahwa di masa lampau, marpangir kerap dibarengi dengan pelafalan mantra tertentu. Namun, dalam lanskap keberagamaan saat ini, umat Muslim menjalankannya secara lebih bersahaja tanpa unsur tersebut.
“Tradisi yang sesungguhnya masih menggunakan semacam mantra dan lain sebagainya. Kalau untuk konteks Ramadhan bagi orang suku Mandailing ataupun suku Angkola yang beragama muslim sama saja mengikuti tradisi lama ,tapi tidak menggunakan mantra dan sebagainya," katanya.
Geliat Ekonomi Rempah di Pasar Tradisional
Secara teknis, mandi pangir memanfaatkan racikan flora seperti mawar, kenanga, daun pandan, sereh, hingga jeruk purut. Perpaduan herbal ini diyakini mampu menyegarkan raga sekaligus memberikan aroma harum yang menenangkan.
Tak heran jika menjelang Ramadan, lapak pedagang rempah mendadak riuh. Mereka sibuk merangkai ikatan pangir untuk memenuhi kebutuhan warga yang ingin ber-marpangir. Di Kota Medan, harganya cukup terjangkau; satu ikat dihargai Rp2.000, sementara paket tiga ikat dibanderol Rp5.000.
Neneng, seorang pedagang sayur di Pasar Sukaramai Medan, turut beralih menjual pangir demi menangkap peluang musiman ini.
“Gini lah kak, jual yang lagi banyak dicari warga kayak rempah pangir ini, untungnya pun lumayan kak,” jelasnya yang dimuat dari Viva.
Dalam sehari, ia sanggup melego 80 hingga 150 ikat. Mendekati sore hari, harga biasanya merosot hingga Rp1.000 per ikat karena masa puncak tradisi ini memang sangat singkat, yakni dua hingga tiga hari sebelum puasa dimulai.
Bagi konsumen seperti Titin, seorang mahasiswi di Medan, ritual ini telah menjadi bagian dari identitas.
"Sudah biasa, kak, tiap tahun rebus pangir ini, untuk keramasan pas mandi sore nanti,” ungkapnya sembari memilih rempah segar.
Pergeseran di Tengah Modernitas
Secara medis, uap dari rebusan rempah ini berfungsi sebagai aromaterapi yang merelaksasi otot dan menyegarkan sistem saraf. Namun, arus zaman mulai menggeser popularitasnya. Sebagian warga kini mulai meninggalkan marpangir karena dianggap kurang memberikan manfaat yang signifikan secara substansial.
“Biasa akhir pekan jelang memasuki ramadan lokasi pemandian seperti Sungai-sungai banyak di datangi warga untuk mandi pangir. Parahnya bukan bersama muhrim-nya," ujar Ustadz Henri.
Beliau memandang memudarnya tradisi ini secara positif dan berharap masyarakat mengalihkan energi tersebut untuk memperbanyak amal ibadah. Senada dengan itu, Ketua Forkala, Sori Muda Harahap, menilai kemajuan teknologi turut andil dalam perubahan perilaku sosial ini.
"Kesibukan dunia maya menggunakan media sosial seperti FB, IG, WA, dan lainnya itu cukup memengaruhi sehingga tradisi marpangir itu mulai tertinggal, di samping manfaat positifnya juga dinilai tidak ada banyak," katanya yang dinukil Inews.
Meski demikian, gema kegembiraan menyambut Ramadan tidak benar-benar hilang. Ranto Harahap, warga Angkola Timur, tetap menjaga kebersamaan keluarga meski caranya telah berganti.
"Seperti biasa menyambut Ramadan, kami dan keluarga selalu ada acara. Hanya saja tidak mandi pangir yang mengandung rempah-rempah namun pakai shampo, sambil makan-makan di pinggir sungai," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


