Kawan GNFI regional Jawa Timur kembali mengadakan BerKawan di awal tahun 2026. Berbeda dengan sebelumnya, bermain permainan tradisional dipilih menjadi kegiatan pada kesempatan ini. Agenda tersebut dilaksanakan di Kota Pahlawan, Surabaya pada hari Minggu, 15 Februari 2026.
Kali ini, GNFI menggandeng Kampoeng Dolanan dari Surabaya untuk berkolaborasi dengan mengusung tema "Ayo Dolanan!". Lokasi bermain berlangsung di lapangan tengah Taman Bungkul yang berada di Jalan Taman Bungkul, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Agenda ini diikuti oleh 24 Kawan GNFI yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Bojonegoro, Lamongan, Surabaya, sampai Malang.
Kegiatan dimulai pada pukul 16:00 WIB dengan bermain tepuk konsentrasi bersama-sama membentuk satu lingkaran. Setelah itu, dilanjut dengan tepuk Nusantara.
Permainan ini dilakukan dengan berpasangan secara bergantian minimal dua orang dan diiringi dengan lagu Ampar-Ampar Pisang. Lagu tersebut dinyanyikan bersama-sama sambil menyesuaikan tepuk dengan tempo nyanyian.
Setelah itu, masih ada tujuh permainan tradisional lain yang dimainkan Kawan GNFI pada hari itu. Apa saja permainannya? Yuk, intip keseruan Kawan GNFI bermain permainan tradisional bareng komunitasKampoeng Dolananberikut ini!
Bermain Becak-Becakan
Sebelum bermain, Kawan GNFI dibagi menjadi kelompok yang beranggotakan tiga orang. Nantinya, dua orang berperan sebagai becak dan satu orang sebagai penumpangnya. Bagi yang mendapatkan peran becak, akan menyatukan kedua tangan dengan satu tangan diluruskan dan satunya ditekuk menyentuh siku bagian dalam lalu saling berpegangan.
Bagi yang mendapatkan peran penumpang, akan masuk di sela-sela tangan dan duduk di tengahnya. Kemudian, becak akan membawa penumpang berjalan sampai ke posisi finish. Permainan ini dilombakan antarkelompok dengan perolehan waktu paling cepat sebagai pemenangnya.
Bermain Cublak-Cublak Suweng
Permainan ini dimainkan secara berkelompok dengan anggota empat sampai lima orang. Salah satu orang akan duduk dan menunduk di tengah, sedangkan anggota lain akan menempelkan kedua telapak tangan di punggungnya.
Salah satu anggota bertugas memutarkan satu tangannya sambil memegang benda kecil (seperti kerikil atau daun) secara melingkar sambil menyanyi lagu Cublak-Cublak Suweng bersama-sama. Saat lagu selesai, titik terakhir tangan pemain tersebut berhenti akan memegang benda yang digunakan.
Kemudian, orang yang berada di tengah akan membalikkan badan dan menebak siapa yang membawa benda itu. Jika tebakan benar, maka orang yang ditebak akan berganti posisi di tengah. Namun, jika tebakan salah, maka orang tersebut tetap berada di tengah dan permainan dilanjutkan kembali.
Bermain Lompat Tali Putar Bumi
Kali ini, mulai memasuki permainan tradisional dengan alat. Alat yang digunakan yaitu karet yang disambung dengan cara dikepang. Permainan dilakukan secara berkelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang.
Dua orang bertugas sebagai pemegang tali dan satu orang berada di tengah untuk melompat saat karet diayunkan memutar. Posisi tersebut dilakukan dengan bergantian peran. Bagi kelompok yang berhasil mengumpulkan lompatan paling banyak selama dua menit, akan menjadi pemenangnya.
Bermain Lompat Tali Merdeka
Masih senada dengan permainan sebelumnya, bedanya lompat tali ini tidak diputar seperti putar bumi. Melainkan diletakkan dari bawah dan akan semakin tinggi tingkatannya. Dua orang yang bertugas memegang karet tali setelah ditentukan lewat hompimpa akan membentangkan tali di atas tanah.
Lalu, tali mulai akan bergerak dengan ritme pelan dan sedang seperti gerakan ular. Setelah itu, secara bertahap tali akan ditempelkan sejajar dengan tumit, lutut, perut, dada, telinga, kepala, dan paling tinggi sejengkal di atas kepala.
Peserta selain dua orang tersebut akan melewati tali secara bergantian. Jika ada yang mengenai tali, maka harus menggantikan posisi pemegang tali sebelumnya.
Bermain Boy-Boyan
Permainan tradisional satu ini punya berbagai penyebutan. Salah satunya dari daerah Bojonegoro menyebut permainan ini dengan nama "bandem". Biasanya, menggunakan pecahan genteng yang kemudian ditumpuk menjadi satu dan alat yang digunakan untuk melempar bervariasi, seperti sandal.
Pada acara BerKawan ini, alat yang digunakan untuk bermain boy-boyan yaitu benda kecil berbentuk lingkaran tiga dimensi sebanyak kurang lebih enam buah. Lalu, benda tersebut akan disusun bertumpuk. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota sama seperti saat bermain becak-becakan.
Orang pertama akan memainkan permainan ini dengan cara melemparkan gumpalan kertas sampai mengenai tumpukan yang telah disusun sebelumnya. Saat berhasil mengenai tumpukan tersebut, orang kedua akan menyusunnya kembali dan melanjutkan ke permainan berikutnya.
Bermain Kopral
Hampir sama seperti boy-boyan, permainan yang dimainkan oleh orang kedua ini juga harus merobohkan tumpukan benda yang telah disusun. Bedanya, bagian paling atas berbentuk lingkaran seperti bentuk lakban dengan posisi berdiri dan alat yang digunakan untuk melempar harus digelindingkan.
Peserta harus berhasil merobohkan susunan benda tersebut agar pemain ketiga dapat segera menyusun ulang dan melanjutkan ke permainan terakhir.
Bermain Bedil Karet
Peserta paling akhir akan menguji strateginya pada permainan ini. Sebagai informasi, bedil karet merupakan permainan yang berasal dari Surabaya. Alat yang digunakan yaitu bedil atau senapan yang terbuat dari kayu, karet gelang, dan benda berbentuk seperti korek api yang juga terbuat dari kayu.
Karet akan dibentangkan dan dicapit pada bedil, lalu peserta harus dapat memposisikan titik yang tepat untuk menembak benda yang ada di depannya. Setelah dirasa presisi, karet akan dilepas dan pemenangnya yang paling cepat mengenai benda tersebut.
Setelah serangkaian permainan selesai, peserta memberikan kesannya selama bermain. Kawan GNFI Jawa Timur merasa senang dan nostalgia dengan permainan-permainan tradisional semasa kecil. Bahkan, ada yang baru mengetahui beberapa permainan tradisional melalui agenda BerKawan ini.
Setelah itu, Cak Mus dari Kampoeng Dolanan memberikan insight atau informasi seputar permainan tradisional di Indonesia. Salah satu kabar baiknya, Indonesia memiliki gasing terbesar di dunia yang dipamerkan pada acara The 6th TAFISA World Sport for All Games 2016 di Ancol, Jakarta.
Berdasarkan informasi dari situs antarafoto.com, gasing yang bernama Gasing Raksasa Jero Tridatu tersebut memiliki berat mencapai 4 kuintal dengan diameter 2,5 m. Selain itu, Cak Mus juga menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara dengan permainan tradisional terbanyak yaitu 2.600 jenis.
Sementara itu, negara-negara lain seperti Cina memiliki 1.600, India 1.200, Korea Selatan 800, dan Jepang 600 jenis permainan tradisional.
Sekian keseruan BerKawan Surabaya x Kampoeng Dolanan kali ini. Nantikan keseruan BerKawan selanjutnya, ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


