Sudah menjadi rahasia umum jika orang Nusantara di masa lalu suka merantau. Yang paling terkenal gemar berlayar sampai ke negeri seberang adalah orang Minangkabau dan Bugis. Banyak keturunan Minang dan Bugis yang bisa dijumpai di Malaysia dan Singapura.
Namun, bukan cuma Minangkabau dan Bugis, masyarakat Bawean juga suka mengembara. Keturunan-keturunan mereka tersebar di beberapa tempat di Asia Tenggara, termasuk di Vietnam.
Orang Bawean berasal dari Pulau Bawean di Gresik, Jawa Timur. Mereka memiliki tradisi merantau sejak abad ke-19. Mereka juga sering disebut sebagai Boyan.
Hal ini didorong karena kebutuhan ekonomi. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa tradisi merantau berkaitan dengan simbol kedewasaan seorang laki-laki. Saking banyaknya laki-laki yang merantau, Pulau Bawean sampai dijuluki Pulau Putri karena banyak laki-laki yang memilih untuk merantau meninggalkan ibu, istri, dan anak mereka di rumah.
Di Vietnam sendiri, keturunan Boyan masih ada. Bahkan, terdapat satu peninggalan nenek moyang mereka yang menjadi bukti migrasi orang Bawean di masa lalu ke Vietnam, yakni Masjid Al Rahim di Ho Chi Minh.
Masjid Al Rahim Vietnam
Didirikan pada 1885, Masjid Al Rahim merupakan masjid tertua di Ho Chi Minh dan Vietnam. Masjid ini didirikan oleh kelompok orang Boyan yang merantau ke Vietnam di masa lalu.
Di sana, mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai Muslim yang taat. Mereka membangun masjid pertama di Ho Chi Minh yang disebut dengan Chùa Mã Lai atau Masjid Melayu. Nama “Melayu” sendiri berasal dari klasifikasi kolonial Prancis yang menyebut komunitas Muslim asal Nusantara sebagai Malais.
Lokasinya cukup strategis. Masjid ini berada di tengah bangunan komersial, seperti Pasan Ben Tanh dan Balai Kota Ho Chi Minh. Di awal pembangunannya, masjid ini sangat sederhana, karena dibangun dengan kayu. Seiring berjalannya waktu, dilakukan renovasi pada masjid ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Malte Stokhof yang terbit di CIAS, sekitar tahun 1973, nama masjid itu kemudian diubah mengikuti nama masjid besar di Jakarta; Al Rahim. Perubahan nama ini seakan menjadi penegasan bahwa orang-orang Bawean lebih terhubung dengan Indonesia dibandingkan identitas yang selama ini terbangun di khalayak lokal yang menganggap mereka sebagai orang Melayu/Malaysia.
Masjid Al Rahim aktif digunakan sebagai pusat peribadatan umat Muslim di Ho Chi Minh. Tak hanya itu, masjid ini juga sudah beberapa kali direnovasi dengan sumbangan para donatur.
Pengelolaannya kini dilakukan oleh komunitas Muslim setempat. Di sekitar area masjid, terdapat warung-warung yang menjajakan kuliner halal.
Orang Bawean di Vietnam
Orang Bawean memang dikenal sebagai salah satu suku yang gemar mengembara. Mereka diperkirakan datang di Vietnam pada tahun 1800-an. Di masa itu, sekelompok imigran dari Pulau Bawean pergi ke daerah Vietnam yang saat itu ada di bawah koloni Prancis.
Konon, mereka pergi ke Vietnam untuk menghindari pemerintah kolonial Belanda. Banyak dari mereka yang kemudian tinggal di Ho Chi Minh, ibu kota Vietnam saat ini. Selain Vietnam, ada pula yang berlayar sampai ke Malaysia dan Singapura.
Tidak ada data pasti berapa banyak imigran Bawean yang berhijrah ke Vietnam. Sejak mereka berpindah ke Vietnam sampai negara tersebut merdeka, orang-orang Bawean ini tidak memiliki kewarganegaraan atau stateless. Banyak dari mereka yang sudah beranak pinak di sana, tapi tidak diakui sebagai warga negara.
Saat masih menjadi bagian Indochina Prancis, status hukum orang Bawean tidak jelas. Mereka tidak pernah dianggap sebagai bagian dari negara tersebut.
Bahkan, setelah Vietnam merdeka, komunitas ini tidak diakui sebagai warga Vietnam. Di sisi lain, mereka pun tidak tercatat sebagai warga negara Indonesia.
Namun, pada akhirnya mereka tetap diakui sebagai warga negara Vietnam. Akan tetapi, mereka sering tercatat sebagai etnis “Indonesia”, bukan etnis lokal atau etnis lainnya—di mana Indonesia sendiri bukanlah sebuah etnis, tapi nama negara.
Banyak dari keturunan Bawean saat ini yang sudah tidak bisa berbahasa Indonesia atau bahasa lokal Bawean. Mereka sudah lebih membaur dengan budaya lokal Vietnam. Meskipun demikian, mereka tetap mempertahankan identitas keislaman mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


