meugang tradisi menyambut ramadan yang menjaga rasa berbagi di aceh - News | Good News From Indonesia 2026

Meugang, Tradisi Menyambut Ramadan yang Menjaga Rasa Berbagi di Aceh

Meugang, Tradisi Menyambut Ramadan yang Menjaga Rasa Berbagi di Aceh
images info

Meugang, Tradisi Menyambut Ramadan yang Menjaga Rasa Berbagi di Aceh


Aceh yang kerap dijuluki Serambi Mekkah dikenal memiliki tradisi Islam yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Di antara berbagai tradisi tersebut, Meugang menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu, terutama menjelang hari-hari besar Islam seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduadha.

Meugang tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan memasak dan menyantap daging, melainkan menjadi simbol kebersamaan, keberkahan, serta wujud penghormatan terhadap nilai kekeluargaan dan solidaritas sosial.

Pada hakikatnya, Meugang merupakan tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat, serta anak-anak yatim. Tradisi ini mencerminkan semangat inklusivitas dan kepedulian sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Pada hari Meugang, denyut kehidupan pasar-pasar di Aceh terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Lapak pedagang daging memenuhi pasar tradisional, bahkan tak jarang meluber hingga ke pinggir jalan seiring meningkatnya permintaan masyarakat.

Setiap keluarga berusaha membeli daging, baik daging sapi maupun kambing, untuk kemudian diolah menjadi berbagai hidangan khas Aceh. Mulai dari rendang Aceh, kari daging, tumisan daging dengan daun pepaya, hingga kuah asam keu-eung yang bercita rasa asam pedas, semua disiapkan sebagai bagian dari tradisi yang sarat makna.

Tradisi Meugang berakar dari masa Kesultanan Aceh, ketika para penguasa melakukan penyembelihan hewan dalam jumlah besar untuk kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat.

Praktik ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kemakmuran negeri sekaligus ungkapan kebahagiaan dalam menyambut hari-hari besar umat Islam yang dianggap suci dan penuh berkah. Secara historis, Meugang telah dijalankan sejak ratusan tahun silam, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memimpin Aceh pada periode 1607 hingga 1636 Masehi.

Pada masa itu, Sultan Iskandar Muda dikenal rutin memerintahkan pemotongan hewan dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada rakyat. Tradisi yang dikenal dengan sebutan Makmeugang atau Meugang ini melibatkan penyembelihan sapi, kerbau, kambing, hingga unggas seperti ayam dan itik. Pelaksanaannya dilakukan dua hari menjelang bulan Ramadan, serta dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Nilai Berbagi dalam Meugang

Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Meugang mengandung nilai religius yang kuat melalui praktik bersedekah dan saling berbagi. Masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih dianjurkan untuk membantu mereka yang kurang mampu.

Nilai kebersamaan dan gotong royong pun tumbuh subur dalam tradisi ini. Setiap menjelang Ramadan, Meugang menjadi momentum mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat Aceh.

Dalam catatan sejarah, pada masa keemasan pemerintahan Sultan Iskandar Muda, pembagian daging Meugang tidak hanya ditujukan kepada masyarakat kurang mampu. Sultan juga memerintahkan pembagian bahan kebutuhan pokok dan kain sebagai bentuk perhatian negara terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Sejarawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid yang akrab disapa Cek Midi, menyebutkan bahwa tradisi Meugang telah berlangsung selama kurang lebih 400 tahun. Menurutnya, tradisi ini berawal dari kebijakan Kesultanan Aceh yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab utama penguasa. Dalam literatur Singa Aceh disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki kecintaan yang besar terhadap rakyatnya, baik fakir miskin maupun kaum dhuafa.

Pada masa itu, masyarakat yang tidak mampu sepenuhnya berada dalam tanggung jawab sultan. Untuk mengatur pelaksanaan Meugang, Sultan Iskandar Muda bahkan mengeluarkan sebuah qanun atau aturan hukum yang dikenal dengan nama Meukuta Alam.

Dalam Bab II Pasal 47 qanun tersebut disebutkan bahwa Sultan Aceh secara turun-temurun memerintahkan Qadi Mu’azzam Khazanah Balai Silaturrahmi untuk mengambil dirham, kain, serta menyembelih kerbau dan sapi pada hari Meugang. Daging hasil penyembelihan tersebut kemudian dibagikan kepada fakir miskin, kaum dhuafa, serta masyarakat berkebutuhan khusus.

Penutup

Pada akhirnya, Meugang bukan sekadar tradisi menyambut Ramadan dengan hidangan daging. Ia adalah ruang untuk menumbuhkan kepedulian dan empati, terlebih di tengah kondisi masyarakat di Aceh yang saat ini masih berjuang menghadapi dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa waktu lalu.

Meugang menjadi momentum yang tepat untuk memperluas makna berbagi, bukan hanya di meja makan keluarga, tetapi juga kepada mereka yang kehilangan rumah, penghidupan, dan rasa aman. Dengan semangat itulah Meugang tetap relevan, mengajarkan bahwa menyambut bulan suci sejatinya dimulai dari kepedulian terhadap sesama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.