korban bantu korban cerita jiha di aceh memilih menguatkan yang lain - News | Good News From Indonesia 2026

Korban Bantu Korban: Cerita Jiha di Aceh Memilih Menguatkan yang Lain

Korban Bantu Korban: Cerita Jiha di Aceh Memilih Menguatkan yang Lain
images info

Korban Bantu Korban: Cerita Jiha di Aceh Memilih Menguatkan yang Lain


Air bah yang melanda Aceh pada akhir 2025 tak hanya merendam jalan dan rumah, tapi juga mengguncang rasa aman banyak keluarga. Di tengah situasi itulah, lima relawan dari LAZ Zakat Sukses hadir di Aceh pada 11–19 Desember 2025 untuk menjalankan respon tanggap bencana dan menyalurkan amanah bantuan dari para donatur.

Salah satu cerita paling membekas datang dari Bireuen. Kisah seorang relawan lokal bernama Jiha, yang justru bangkit setelah rumahnya sendiri baru dilanda banjir.

Jiha, bernama lengkap Azizah Nazihah, tinggal di Bireun Meunasah Blang. Sebuah kelurahan di Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireun, Aceh. Setelah lebih dari sebulan air dan lumpur menggenangi rumahnya, kondisi tempat tinggalnya tak lagi sama. Beberapa perabot rusak, rak buku kayu tak bisa dipakai, bahkan sebagian lantai keramik pecah karena terlalu lama terendam.

“Tentunya rumahku nggak sama lagi seperti sebelum banjir,” tuturnya. Namun di balik itu, Jiha masih menyebut satu hal yang paling ia syukuri: ia masih punya rumah untuk ditempati.

Jiha, relawan lokal zakat sukses sedang menyiapkan hygine kit untuk disalurkan
info gambar

Jiha sedang menyiapkan hygine kit untuk disalurkan


Malam sunyi menjadi titik balik. Tanpa listrik dan sinyal yang tak menentu, Jiha dan ibunya duduk di luar rumah sambil membakar sisa-sisa sampah banjir. Ponsel digenggam sekadarnya, mencari jaringan yang hidup-mati. Di sanalah ibunya berkata, "Mamak pengenlah ketemu sama orang-orang banjir itu, apalagi yang Aceh Tamiang. Kita sumbangin itu baju-baju yang masih bagus."

Tidak disangka, kalimat sederhana dari Ibunya itu menancap kuat dalam hati Jiha. “Iya, Jiha juga mau, Mak,” jawabnya. Sejak saat itu, empati dalam dirinya berubah menjadi tekad untuk membantu sesama korban lainnya.

Jiha membersihkan rumahnya lebih dulu dengan tenaga yang tersisa, Jiha merasa ia mampu dan kuat. Ia meyakini, kesehatan dan daya tahan yang Allah beri saat itu adalah amanah agar ia bisa membantu lebih banyak orang. Setelah rumahnya ia bersihkan, rasa peduli untuk membantu warga lainnya justru memuncak. Hingga suatu hari, ajakan datang dari temannya, Syifa.

Syifa adalah relawan Zakat Sukses yang berasal dari Aceh dan merupakan teman sekolah Jiha. Tanpa ragu, Jiha mengiyakan. “Rasanya senang banget. Aku bilang ke diri sendiri: I will do my best for them,” katanya.

Di lapangan, Jiha tak datang sebagai orang luar. Ia adalah bagian dari warga Aceh yang mengerti bahasa, kebiasaan, bahkan luka yang sama. Ia membantu distribusi bantuan, memasak di dapur umum, menemani penyintas bercerita, mendengar keluh kesah, dan berbagi tawa yang mungkin sederhana, tapi bermakna.

“Walaupun yang kubantu nggak seberapa, ngelihat mereka senang, ketawa, bisa cerita bareng aku. Itu sudah bikin campur aduk perasaan dan aku bersyukur banget,” ujarnya.

Jiha (paling kiri) sedang melayani di dapur umum di Bireun, Aceh
info gambar

Jiha (paling kiri) sedang melayani di dapur umum


Sebagai korban sekaligus relawan, pesan Jiha terasa jujur dan menohok. Ia mengingatkan bahwa di media sosial, korban sering terlihat “berisik” atau dianggap kurang bersyukur. Padahal, di lapangan, yang ia temui justru sebaliknya. “Kita nggak akan tahu rasanya sebelum kita ngalamin sendiri,” tegasnya.

Empati, katanya, memang Allah titipkan setitik. Tinggal bagaimana kita menumbuhkannya agar bisa saling menjaga dan menguatkan, meski hanya lewat media sosial.

Bagi para penyintas, Jiha tak berpanjang kata. Ia tahu, nasihat sering kali tak cukup. Namun ia percaya, kesabaran yang mereka jalani hari demi hari adalah bukti kekuatan yang luar biasa.

“Bencana mungkin tidak bisa kita hindari,” ucapnya, “tetapi kita bisa memilih untuk tidak membiarkan siapa pun menghadapinya sendirian.” Jiha juga mengatakan, ketika saling menguatkan, luka terasa lebih ringan, dan harapan perlahan tumbuh kembali.

Kisah Jiha adalah potret bahwa relawan tak selalu datang bak superhero yang tanpa luka. Seringkali, mereka justru berdiri dan bangkit dari genangan kesedihan yang sama. Namun, mereka memilih untuk tetap tegap, lalu meraih tangan orang lain disekitarnya.

Di Aceh, di antara sisa lumpur dan rumah-rumah yang hancur, empati dan kepedulian menemukan jalannya. Dan di sanalah, nilai-nilai kemanusiaan sejati tidak akan mati.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

QA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.