ganti papan ucapan dengan bibit pohon setara tanam hutan seluas kota per tahun - News | Good News From Indonesia 2026

Ganti Papan Ucapan dengan Bibit Pohon, Setara Tanam Hutan Seluas Kota Per Tahun

Ganti Papan Ucapan dengan Bibit Pohon, Setara Tanam Hutan Seluas Kota Per Tahun
images info

Ganti Papan Ucapan dengan Bibit Pohon, Setara Tanam Hutan Seluas Kota Per Tahun


Praktik mengganti papan karangan bunga dengan bibit pohon untuk ucapan perayaan kelulusan, pengukuhan guru besar, dan berbagai perayaan lain di lingkungan perguruan tinggi merupakan langkah strategis yang menghadirkan dampak ekologis, sosial, dan kultural dalam satu gerakan sederhana.

Tradisi papan karangan bunga selama ini identik dengan simbol ucapan selamat yang bersifat sementara. Papan tersebut biasanya hanya bertahan beberapa hari, kemudian berubah menjadi limbah berukuran besar yang membutuhkan waktu panjang untuk terurai.

Peralihan ke bibit pohon menghadirkan paradigma baru: ucapan selamat tidak lagi berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut menjadi investasi lingkungan jangka panjang yang terus tumbuh.

Penggunaan bibit pohon sebagai media ucapan perayaan menegaskan orientasi kampus terhadap wawasan lingkungan sekaligus memperkuat upaya pengurangan sampah sekali pakai. Bibit yang diberikan dalam momen perayaan memiliki fungsi ganda. Ia menjadi simbol penghargaan dan kebahagiaan pada saat seremoni berlangsung, lalu berubah menjadi sumber manfaat ekologis ketika ditanam.

Manfaat setiap bibit yang tumbuh akan menyerap karbon, menjaga kualitas udara, memperkuat daya serap air tanah, serta menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati. Dengan demikian, satu tindakan sederhana menghasilkan manfaat ekologis yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Urgensi gerakan penanaman pohon semakin terlihat melalui data kehilangan hutan yang dirilis Global Forest Watch (GFW). Laporan tersebut menunjukkan Indonesia kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan primer basah sepanjang 2002–2024. Angka ini setara puluhan kali luas kota besar dan mencerminkan sekitar 34 persen dari total kehilangan tutupan pohon nasional dalam periode yang sama.

Penurunan luas hutan primer basah sekitar 11 persen dalam dua dekade terakhir memperlihatkan tekanan terhadap ekosistem hutan masih sangat tinggi. Kondisi ini menempatkan aksi penanaman pohon sebagai langkah konkret yang dapat dilakukan melalui kebijakan sederhana, termasuk melalui perubahan praktik ucapan perayaan di lingkungan pendidikan tinggi.

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai ruang pembentuk nilai, kebiasaan, dan budaya baru. Ketika kampus menetapkan kebijakan penggantian papan karangan bunga dengan bibit pohon, pesan keberlanjutan bergerak dari ruang seremoni menuju praktik hidup sehari-hari para mahasiswa, keluarga, alumni, dan jejaring profesional.

Sejumlah kampus telah memulai langkah konkret tersebut, antara lain Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjajaran, serta Universitas Airlangga. Kebijakan ini menciptakan preseden penting bagi sektor pendidikan tinggi nasional dan membuka peluang replikasi secara luas di berbagai institusi lain.

Langkah tersebut juga sejalan dengan komitmen perguruan tinggi terhadap Sustainable Development Goals, khususnya tujuan konsumsi dan produksi bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem darat.

Kebijakan ini juga berkontribusi pada peningkatan indikator keberlanjutan kampus melalui penilaian global seperti UI GreenMetric World University Rankings, terutama pada aspek pengelolaan limbah, perluasan area hijau, dan integrasi nilai keberlanjutan dalam praktik pendidikan tinggi.

Setara Tanam Hutan Kota Setiap Tahun

Potensi dampak gerakan ini semakin terlihat melalui data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (Pddikti) yang mencatat sekitar 1,9 juta mahasiswa sarjana diwisuda setiap tahun di Indonesia.

Mari kawan, kita menghitung. Dengan asumsi 60 persen saja wisudawan mengganti karangan bunga dengan bibit pohon, jumlah bibit yang terkumpul mencapai sekitar 1.140.000 per tahun. Kemudian, dengan tingkat keberhasilan tumbuh sebesar 60 persen, maka ada sekitar 684.000 pohon dapat hidup setiap tahun.

Jika jumlah pohon tersebut dibayangkan ditanam dalam satu area, dengan kepadatan 450 pohon per hektar, jumlah tersebut berpotensi setara membentuk kawasan hutan baru seluas sekitar 1.520 hektar atau 15,2 km². Luas ini hampir setara dengan wilayah Kota Magelang, atau Kota Mojokerto, sehingga kebiasaan sederhana saat wisuda mampu menghadirkan hutan skala kota setiap tahun.

Selain itu, mengganti papan karangan bunga dengan bibit pohon jadi gerakan yang memiliki makna simbolik kuat. Pohon yang ditanam tumbuh seiring perjalanan karier dan kontribusi sosial para lulusan. Setiap batang pohon menjadi penanda jejak generasi akademik yang meninggalkan warisan ekologis bagi masa depan.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lingkungan, sektor swasta, dan alumni dapat memperkuat program penanaman terintegrasi ini, sehingga kampus berperan sebagai simpul penggerak aksi kolektif.

Kawan, perubahan budaya melalui kebijakan yang sudah diterapkan sejumlah perguruan tinggi ini membuka peluang besar bagi perguruan tinggi lain untuk menanamkan identitas keberlanjutan dalam setiap momen perayaan akademik.

Tradisi baru ini memperlihatkan bahwa setiap perayaan akademik dapat menjadi momentum penanaman harapan dan penambahan ruang hijau bagi bumi, di tengah arus krisis iklim yang semakin nyata terasa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.