Pohon ingul, yang juga dikenal dengan nama suren dan memiliki nama latin Toona sureni, merupakan jenis pohon penting dalam kehidupan masyarakat di kawasan Danau Toba, khususnya etnis Batak Toba.
Sejak lama, ingul dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan solu, perahu tradisional yang digunakan untuk transportasi dan menangkap ikan di Danau Toba.
Ketahanan kayu ingul terhadap air dan serangga menjadikannya sangat sesuai untuk kebutuhan tersebut dan memperkuat posisinya sebagai pohon bernilai ekologis, ekonomi, dan kultural.
Bisa Tumbuh hingga 50 Meter
Ingul termasuk dalam keluarga Meliaceae dan dikenal sebagai pohon yang mudah tumbuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Tingginya dapat mencapai 30 hingga 50 meter dengan diameter batang sekitar 1 hingga 2 meter.
Pohon ini umumnya tumbuh pada ketinggian 600–1.200 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata sekitar 22 derajat Celsius.
Di kawasan Danau Toba, ingul banyak ditemukan di kebun masyarakat, ditanam di sela-sela tanaman lain seperti kopi, kemiri, cokelat, dan mangga. Selain sebagai sumber kayu, ingul juga berfungsi sebagai tanaman pelindung yang membantu menjaga mikroklimat kebun.
Ingul dan Tradisi Solu
Kayu ingul memiliki serat berwarna putih agak kemerahan dengan urat memanjang, tekstur kuat, serta tidak mudah lapuk atau dimakan rayap.
Masyarakat Batak Toba secara turun-temurun memanfaatkan kayu ini untuk membuat solu hau sada, yaitu perahu yang dibuat dari satu batang kayu utuh.
Pada masa lalu, batang ingul dikeruk bagian tengahnya, sementara ujung dan tepinya dibentuk lancip. Proses ini membutuhkan keahlian tinggi dan pengetahuan khusus.
Seiring perkembangan zaman, pembuatan solu kini lebih banyak menggunakan papan hasil potongan batang ingul, meski nilai simbolik solu dari satu batang kayu tetap kuat dalam budaya lokal.
Pohon Ingul dan Batak Toba
Selain perahu, kayu ingul digunakan sebagai bahan bangunan, terutama untuk dinding dan lantai rumah, serta sebagai dasar konstruksi rumah adat Batak Toba yang dikenal sebagai Ruma Bolon.
Pada masyarakat Karo, ingul dimanfaatkan untuk pembuatan mebel dan alat musik.
Daun dan kayu ingul juga memiliki fungsi lain. Penelitian BRIN tahun 2019 mencatat bahwa masyarakat Batak Toba menggunakan daun dan kayu ingul sebagai pestisida alami.
Sementara itu, masyarakat Karo memanfaatkan daun suren sebagai ramuan obat diare dan campuran makanan tradisional untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Nilai Ekologi Pohon Ingul
Ingul memiliki nilai ekologi penting karena keberadaannya mendukung sistem pertanian campuran dan menjaga kualitas lingkungan. Namun, peran ingul dalam kehidupan masyarakat mulai menghadapi tantangan.
Penurunan populasi ikan di Danau Toba, pencemaran perairan, serta invasi spesies predator seperti ikan lohan telah mengurangi minat masyarakat untuk menjadi nelayan atau pengrajin solu.
Di sisi lain, penggunaan material modern dalam konstruksi rumah dan perahu juga mengurangi kebutuhan terhadap kayu ingul.
Nasib Pohon Ingul di Masa Depan
Meski masih banyak ditanam di kebun masyarakat, keberlanjutan pemanfaatan ingul memerlukan perhatian.
Pohon ini bernilai ekonomi tinggi karena batangnya dapat diolah menjadi papan untuk berbagai kebutuhan.
Namun, tanpa upaya pelestarian yang terencana, fungsi kultural dan ekologisnya berpotensi tergerus.
Ingul bukan sekadar sumber kayu, melainkan bagian dari identitas dan pengetahuan lokal masyarakat Danau Toba yang perlu dijaga agar tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


