wastra angkola tapanuli selatan untuk sambut hari raya - News | Good News From Indonesia 2026

Wastra Angkola Tapanuli Selatan untuk Sambut Hari Raya

Wastra Angkola Tapanuli Selatan untuk Sambut Hari Raya
images info

Wastra Angkola Tapanuli Selatan untuk Sambut Hari Raya


Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, ulos bukan sekadar selembar kain penutup tubuh. Kain tenun satu ini adalah jiwa, doa yang ditenun, dan simbol ikatan kekeluargaan yang tak terputus. Di tengah keberagaman suku Batak di Sumatra Utara, ulos Angkola tampil dengan karakteristik unik yang mencerminkan kelembutan budi pekerti dan kemegahan adat masyarakat Angkola.

Ulos Angkola lekat dengan masyarakat Batak wilayah Tapanuli Selatan yang mayoritas beragam Islam. Belum lama ini wastra Angkola yang kuat dalam segi nilai luhur dirancang lebih modern oleh sejumlah desainer ternama Indonesia salah satunya Itang Yunasz. Untuk menyambut bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri, wastra Angkola karya Itang cs lalu dipamerkan dalam pertunjukan busana bertajuk “Raya” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, Rabu (11/2/2026) lalu. 

Ulos Angkola. (Foto: Wikimedia Commons)
info gambar

Ulos Angkola. (Foto: Wikimedia Commons)


“Kita sengaja ambil tema ‘Raya’, karena kita ingin mengangkat komunitas Batak Muslim, terutama Angkola dan Mandailing, dengan menyoroti keindahan kain abit godang, sejenis Sadum Angkola dengan teknik lilit bonggit yang menampilkan warna dan keindahan budaya masyarakat Tapanuli Selatan,” kata Kerri Na Basaria Panjaitan, pendiri Tobatenun kepada Good News From Indonesia selepas acara pertunjukan tersebut.

Abit, itulah istilah masyarakat Batak Tapanuli Selatan untuk menyebut wastranya yang khas. Dari sekian jenis abit yang paling ikonik adalah abit godang yang biasa disebut Sadum Angkola.

Ciri khas ulos Sadum Angkola sendiri memiliki perbedaan mendasar bila dibandingkan dengan ulos daerah lain. Bila ulos Sadum Toba biasanya dihiasi corak makhluk hidup, Sadum Angkola lebih menerapkan corak ornamen dengan kombinasi di luar itu tapi dengan berbagai bentuk yang beragam. Hal ini disebabkan pengaruh Islam sehingga motif makhluk hidup yang dilarang dalam agama tidak digunakan.

“Setiap puak itu punya keunikannya masing-masing dan satu-satunya yang benar-benar ikonik kita bisa lihat ada akulturasi dari budaya Padang di Angkola. Karena (Tapanuli Selatan) komunitasnya Batak Muslim, jadi banyak pengaruh dari Sumatra Barat. Selain itu, warnanya mote-mote dan lebih gonjreng. Kalau Toba motifnya lebih geometris, kalem, dan warnanya secara tradisional itu-itu aja (merah, biru, hitam, putih),” jelas Kerri. 

Peragaan busana wastra Angkola Tapanuli Selatan dengan nuansa modern di Tobatenun Studio, Sopo Del Tower, Jakarta pada Rabu (11/2). (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
info gambar

Peragaan busana wastra Angkola Tapanuli Selatan dengan nuansa modern di Tobatenun Studio, Sopo Del Tower, Jakarta pada Rabu (11/2). (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)


Saat membicarakan wastra Indonesia, mungkin di dunia internasional akan lebih sering terdengar batik sebagai perwakilannya. Namun, bukan tidak mungkin pula ulos akan sejajar dengan batik karena Tobatenun ada rencana mempromosikan ulos tidak terkecuali Sadum Angkola keluar negeri.

“Ada rencana juga. Seperti dilihat waktu itu di New York ada motif Indonesia yang cukup menarik buat industri fesyen internasional. Tapi beda-beda pemakaiannya, memang belum tahu market yang tepat juga, karena tenun tradisional kan sakral juga jadi gak bisa asal. Jadi yang kita buat kontemporer kayak asal usulnya, hak patennya. Karena kalau internasional dengan desainer gede pasti udah banyak aspek-aspek PR perlu dilakukan. Tapi kalau ke internasional udah ada plan, definitely ada ke situ. Karena menurut aku udah patut lah,” ucapnya lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.