bakcang atau bacang dari tradisi peh cun hingga jadi kuliner nusantara - News | Good News From Indonesia 2026

Bakcang atau Bacang dari Tradisi Peh Cun hingga jadi Kuliner Nusantara

Bakcang atau Bacang dari Tradisi Peh Cun hingga jadi Kuliner Nusantara
images info

Bakcang atau Bacang dari Tradisi Peh Cun hingga jadi Kuliner Nusantara


Kawan GNFI, siapa yang tak kenal dengan ikon kuliner berbentuk limas (segi empat) hingga sempat viral di media sosial dan dijajakan di kawasan Braga ‘Bacang Panas Braga’, Bandung, Jawa Barat? 

Kuliner bacang sebagai jajanan pasar di Indonesia, ternyata berasal dari tradisi Tionghoa yang dikenal dengan ‘Bakcang’ dan berkaitan erat dengan Festival Perahu Naga atau Peh Cun, loh, Kawan GNFI!

Ingin tahu bagaimana proses akulturasi budaya bakcang atau bacang di Indonesia? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI!

Awal Mula Bakcang dalam Tradisi Peh Cun

Bakcang (zongzi) | Foto: Wikimedia Commons/WeeWZ
info gambar

Bakcang (zongzi) | Foto: Wikimedia Commons/WeeWZ


Bakcang dalam tradisi Peh Cun berkaitan dengan Hari Bakcang, Festival Perahu Naga, atau Festival Duan Wu.

Tradisi Bakcang dalam akar sejarah Tionghoa menjadi momen penting untuk menjaga tradisi dan menjadi suatu penghormatan untuk tokoh patriotik bernama Qu Yuan–seorang menteri dan penyair yang setia pada zaman Dinasti Chu dan meninggal dunia ketika melawan agresi negara Qin.

Bakcang sendiri secara etimologi berasal dari kata ‘Bak’ yang berarti ‘daging’ dan ‘Cang’ berarti ‘berisi’. Menurut legenda, bakcang pertama kali muncul karena berhubungan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan.

Kala itu Qu Yuan memilih menenggelamkan diri ke Sungai Miluo karena difitnah atas tuduhan palsu yang meyakinkan bahwa terdapat menteri yang melakukan korupsi.

Untuk mencegah jenazah Qu Yuan dimakan oleh makhluk yang ada di dalam sungai, rakyat sengaja melemparkan bungkusan nasi berbahan beras ketan ke dalam sungai tersebut.

Dari kejadian inilah, muncul tradisi membuat dan menyantap bakcang (zongzi) dari ketan dengan berbagai isian (daging sapi, ayam, babi, jamur, kacang) yang dibungkus dengan daun.

Seiring berjalannya waktu, bakcang menjadi salah satu simbol dalam perayaan Peh Cun atau Duan Wu, dan identik dengan Festival Perahu Naga.

Selain itu, dalam teknik membungkusnya, bakcang ini memiliki filosofi yang berhubungan dengan sifat baik manusia yang direpresentasi dari bentuk limas (segi empat) di mana, keempat sisinya memiliki filosofi, yaitu zhi zu (merasa cukup), ga eun (penuh syukur), shan jie (berpikir positif), dan bao rong (merangkul sesama).

Kemudian, tali yang mengikat pun memiliki makna saling mengikat dan menyatukan unsur yang ada dalam kehidupan dengan cinta kasih tulus. Hingga penggunaan beras ketan berfilosofi untuk tetap lengket, menjadi satu kesatuan khususnya dalam menjaga keluarga.

baca juga

Akulturasi Budaya Bakcang di Indonesia

Di Indonesia, bakcang dibawa oleh imigran Tionghoa ke Nusantara di mana akulturasi budaya menyatu dan mulai menggantikan bahan-bahan dari resep aslinya dengan bahan lokal yang tersedia.

Bakcang juga menjadi salah satu simbol keberhasilan akulturasi karena tak lagi hanya dianggap sebagai makanan dalam ritual keagamaan atau tradisi, melainkan menjadi kuliner kerakyatan yang melegenda.

Bakcang atau dikenal dengan bacang di Indonesia menjadi jajanan khas dan populer di era-90-an sampai sekarang khususnya di daerah Jawa Barat dengan memodifikasi kuliner ini untuk mudah diterima di masyarakat dari segi isianya.

Proses akulturasi bakcang atau bacang di Indonesia melalui beberapa tahap, antara lain:

  • Adanya adaptasi bahan (halal), mengingat masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, khususnya di wilayah Jawa Barat. Maka penggunaan daging babi, digantikan dengan daging ayam, sapi, dan produk nabati lainnya yang kian memodifikasi resep aslinya dan disesuaikan pula dengan cita rasa lokal khas Sunda seperti penggunaan oncom maupun jando.
  • Penggunaan daun pembungkus, yang mana di Tiongkok biasanya menggunakan daun bambu lebar, sedangkan di Indonesia tepatnya di daerah Sunda seringkali dijumpai bacang dibungkus dengan daun pandan besar atau daun pisang untuk menampilkan aroma wangi yang melokal.
  • Cita rasa dan tekstur, di mana bacang Sunda kerap kali terasa pedas, gurih, dengan tekstur lebih lembut serupa nasi tim yang dipadatkan. Sementara, bakcang Tionghoa cenderung lebih lengket dan padat dengan rasa dominan gurih dan manis dari kecap dan rempah khas Tiongkok.

Bahkan tak hanya di Sunda saja, bacang kini kerap kali dijumpai di daerah lain seperti Surabaya, Semarang, maupun Jakarta dengan rasa yang lebih ‘berani’ dan kaya bumbu dibanding versi aslinya di Tiongkok.

baca juga

Bakcang atau bacang kini tak hanya menjadi simbol identitas, tradisi, tapi menjadi bukti bahwa adanya dialog antar budaya yang terus hidup dan relevan melalui proses adaptasi yang sarat akan nuansa lokal termasuk di Indonesia.

Adanya akulturasi budaya, membuat bacang harus beradaptasi dengan lidah kearifan lokal khususnya dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat

Selain itu, bungkusnya yang ikonik, ternyata memiliki filosofinya tersendiri dan menjadi bukti sejarah bagaimana budaya Tionghoa dapat melebur bersama cita rasa lokal Indonesia.

Menarik sekali, ya, Kawan GNFI! 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.