Jenang grendul sering dijadikan sebagai santapan dalam berbagai acara. Baik acara selamatan, ritual adat, dan lainnya. Menjadikan salah satu makanan tradisional ini tidak terpisahkan oleh kehidupan budaya masyarakat setempat. Salah satunya di bulan Safar untuk masyarakat Jawa.
Jenang grendul atau bisa disebut juga bubur candil, memiliki tekstur kenyal dan manis. Berbahan dasar beras ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil, kemudian direbus dengan kuah gula merah, sangat cocok disajikan dengan siraman santan yang gurih.
Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Seringkali terdengar cerita mitos yang beredar di kalangan masyarakat, bahwa bulan Safar merupakan bulan yang penuh dengan kesialan dan ketidakberuntungan. Seperti musibah yang sering terjadi, penyakit yang mudah menular, dan peristiwa-peristiwa lain yang berakhir tidak menyenangkan.
Dengan beredarnya cerita tersebut, masyarakat setempat lebih memilih untuk menjauhi hal-hal yang bersifat sakral atau hal-hal penting. Seperti menikah, memulai usaha, melakukan perjalanan jauh, dll.
Berdasarkan artikel “Jenang Grendul Sebagai Simbol Bulan Safar di Dusun Banjar Patoman, Amadanom, Dampit, Kabupaten Malang”, jenang grendul menggambarkan peristiwa pada saat Nabi Musa A.S dikejar oleh orang kafir, yang pada akhirnya mereka tenggelam di Laut Merah.
Filosofi jenang dalam peristiwa tersebut diumpamakan sebagai lautan, sedangkan grendulnya diibaratkan kaum kafir yang ditenggelamkan oleh Allah di lautan.
Selain itu, contoh perumpamaan lain yang berkaita adalah jenang ini diibaratkan sebagai dunia, kemudian grendulnya adalah bala’ (ujian) yang Allah berikan.
Oleh karena itu, jenang ini dibuat pada saat bulan Safar memiliki tujuan untuk dimakan sendiri dan dibagi-bagikan kepada sanak keluarga terdekat serta tetangga dalam rangka menjalin silaturahmi. Karena pada dasarnya, salah satu amalan yang dianjurkan di bulan Safar adalah bersilaturahmi.
Dikutip laman detikjogja, bahwa ada salah satu tokoh yang mengenalkan tradisi “njenang” dalam berdakwah, yaitu Sunan Kalijaga.
Beliau dikenal dalam menyiarkan Islam melalui pendekatan budaya Jawa, kesenian seperti wayang kulit, lagu, sastra, dan lainnya. Salah satunya budaya njenang ini, yang merupakan bagian dari upaya beliau dalam menyiarkan agama Islam pada zaman itu.
Filosofi jenang grendul itu sendiri bermakna yang mendalam. Dimulai dari warna merah kecoklatan pada jenang yang melambangkan darah seorang ibu. Kemudian bulatan dari grendul-grendul yang diartikan sebagai embrio.
Dengan demikian, inti dari makanan manis tersebut ini menggambarkan dari mana asal manusia, dan sudah seharusnya sebagai hamba yang patuh untuk selalu menghormati segala jenis ciptaan Allah.
Terkadang tradisi yang melekat di masyarakat masih dilestarikan secara turun temurun sampai sekarang. Namun, hal tersebut tidak dibenarkan jika hal-hal mitos masih dipercayai. Dari laman Wakaf Salman, terdapat tiga sikap dalam menghadapi mitos bulan Safar.
3 Sikap Hadapi Mitos Bulan Safar
Pikiran yang Rasional
Dalam ajaran Islam, tidak ada dasar shahih yang menjelaskan jika bulan Safar memberikan ketidakberuntungan. Yang ada malah diajarkan untuk memanfaatkan akal sehat dalam menggali informasi yang benar sesuai syari’at.
Jadi, bulan Safar juga sama dengan bulan-bulan yang lain. Tidak ada hal ghaib yang menjadikan bulan ini memberikan kesialan.
Usaha dan Doa
Ketidakberuntungan sering kali disalah artikan sebagai akibat dari mitos. Padahal itu tidak ada kaitannya dengan bulan, tanggal, atau hari kejadian khususnya di bulan Safar.
Agama Islam mengajarkan tentang pentingnya selalu berusaha dan berdoa. Untuk hasilnya, biarkan Allah yang mengatur nantinya.
Tetap Beramal
Berusaha tetap beramal sholih di manapun dan kapanpun. Dibandingkan fokus dengan ketidakberuntungan atau hal-hal yang mengganggu pikiran. Ketika fokus dalam beramal, tentunya ganjaran berlipat ganda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


