kue batang buruk makanan tradisional khas kepulauan riau yang tercipta dari kisah pilu - News | Good News From Indonesia 2026

Kue Batang Buruk, Makanan Tradisional Khas Kepulauan Riau yang Tercipta dari Kisah Pilu

Kue Batang Buruk, Makanan Tradisional Khas Kepulauan Riau yang Tercipta dari Kisah Pilu
images info

Kue Batang Buruk, Makanan Tradisional Khas Kepulauan Riau yang Tercipta dari Kisah Pilu


Kue batang buruk, salah satu makanan tradisional khas yang bisa Kawan coba ketika berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau. Jajanan tradisional ini umumnya dijumpai di daerah Bintan dan Tanjung Pinang.

Meskipun memiliki nama yang terdengar negatif, cita rasa dari kue batang buruk tidaklah seburuk namanya. Bahkan kue khas Kepulauan Riau ini sering kali disajikan dalam momen-momen penting di tengah masyarakat.

Tidak hanya itu, kue batang buruk juga memiliki sejarah panjang di tengah masyarakat. Sebab kue tradisional ini diketahui sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Bahkan kue batang buruk diketahui menjadi salah satu sajian yang dihidangkan pada saat pelantikan sultan dulunya. Hal ini membuat makanan tradisional khas Kepulauan Riau tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekadar kudapan semata.

Bagaimana penjelasan lebih lanjut seputar kue batang buruk khas Kepulauan Riau tersebut?

Kenapa Makanan Tradisional Khas Kepulauan Riau ini Dinamakan Kue Batang Buruk?

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, nama dari kue batang buruk menjadi salah satu hal yang unik dari makanan tradisional tersebut. Namun tahukah Kawan, ternyata ada kisah pilu di balik nama dan terciptanya makanan tradisional ini dulunya.

Dikutip dari laman RRI, terciptanya kue batang buruk memiliki kaitan erat dari kisah cinta Wan Sinari dulunya. Wan Sinari diketahui merupakan putri dari Raja Tua, pemimpin Kerajaan Bintan ratusan tahun silam.

Wan Sinari ternyata memendam rasa cinta pada seorang pemuda yang bernama Raja Andak. Pemuda yang juga berasal dari kalangan bangsawan tersebut memiliki gelar Panglima Muda Bintan.

Namun cinta dari Wan Sinari ternyata tidak disambut dan bertepuk sebelah tangan. Bahkan Raja Andak ternyata memendam rasa cinta dan menjatuhkan pilihannya pada Wan Inta, adik kandung dari Wan Sinari.

Menghadapi realita ini, Wan Sinari mengusir rasa sedih dengan menyibukkan diri di dapur. Wan Sinari kemudian menciptakan sebuah pangan yang unik, di mana ketika digigit kue ciptaannya itu akan hancur berderai.

Setelah menciptakan kue tersebut, Wan Sinari kemudian memohon pada sang ayah agar makanan yang dia buat bisa disajikan untuk para bangsawan. Baginda Raja Tua pun menerima permintaan putrinya itu.

Pada hari yang ditentukan, semua bangsawan pun berkumpul, termasuk Raja Andak. Wan Sinari kemudian menyajikan kue ciptaannya di hadapan para bangsawan.

Semua bangsawan langsung menyantap kue tersebut. Namun saat menggigitnya, serpihan kue tersebut pecah dan berserakan di baju mereka, sehingga menimbulkan rasa malu bagi para bangsawan.

Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bagi Raja Andak. Dia memakan kue tersebut dengan hati-hati, sehingga tidak berserakan seperti yang lainnya.

Melihat hal tersebut, Wan Sinari sadar bahwa dia memang jatuh hati pada pemuda yang tepat. Dari kisah ini pula, kue batang buruk memiliki sebuah filosofi yang berkaitan dengan etika ketika makan.

Diwariskan Secara Turun Temurun

Resep pembuatan kue batang buruk diwariskan secara turun temurun sejak dulu di tengah masyarakat. Hal ini membuat makanan tersebut masih bisa dijumpai hingga saat ini.

Untuk membuat kue batang buruk, digunakan campuran tiga tepung, yakni tepung beras, tepung terigu, dan tepung kelapa sebagai bahan utama. Nantinya adonan tersebut akan dibentuk dan dipotong serta diisi serbuk kacang hijau di dalamnya.

Setelah itu, kue tersebut akan digoreng hingga matang. Terakhir, kue batang buruk yang sudah matang akan dilapisi gula dan susu bubuk sebelum disajikan dan disantap bersama.

Selain menjadi oleh-oleh khas Kepulauan Riau, kue batang buruk juga menjadi salah satu sajian pada saat momen penting di tengah masyarakat. Misalnya makanan tradisional khas Kepulauan Riau ini sering disajikan pada saat perayaan Hari Raya Idulfitri dan sejenisnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.