Kokoleh, salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan. Bagi Kawan yang berasal dari daerah ini, atau pernah berkunjung, apakah pernah mencicipi cita rasa dari kuliner tradisional ini sebelumnya?
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya Banjar, kokoleh menjadi salah satu kuliner yang umum dijumpai. Makanan ini sering kali menjadi santapan pencuci mulut setelah makan berat.
Tidak hanya itu, kokoleh juga sering kali disajikan dalam berbagai acara yang digelar di tengah masyarakat. Hal ini membuat makanan tradisional khas Kalimantan Selatan ini tidak hanya sekadar untuk menghilangkan rasa lapar saja, tetapi juga memiliki nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Lantas bagaimana pembahasan lebih lanjut seputar makanan tradisional khas Kalimantan Selatan tersebut? Berikut ulasan seputar kokoleh dalam artikel berikut ini.
Kokoleh, Salah Satu Makanan Tradisional Khas dari Kalimantan Selatan
Kokoleh adalah salah satu kudapan berkuah yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan. Makanan tradisional yang satu ini juga dikenal dengan nama bubur kakoleh atau kakulih.
Kuliner yang satu ini umum dijumpai di tengah masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya yang berasal dari suku Banjar. Kudapan yang identik dengan warna hijau ini memiliki cita rasa yang gurih dan manis.
Mirip dengan Bubur Sumsum
Dari bentuknya, kokoleh sering kali disamakan dengan bubur sumsum yang bisa dijumpai di daerah lainnya. Akan tetapi terdapat perbedaan yang bisa Kawan temui ketika mencicipi kedua makanan tradisional tersebut.
Perbedaan mendasar antara kokoleh dan bubur sumsum terletak pada teksturnya. Tekstur dari kokoleh cenderung lebih padat jika dibandingkan dengan bubur sumsum.
Selain itu, kokoleh lebih berbentuk jika dibandingkan dengan bubur sumsum. Tekstur padat yang ada pada makanan tradisional khas Kalimantan Selatan ini terletak pada penggunaan air kapur dalam proses pembuatannya.
Penambahan air kapur ini membuat tekstur dari kokoleh tidak selembut bubur pada umumnya. Selain itu, adonan kokoleh yang dimasak nantinya akan dipotong-potong seperti agar-agar atau puding, sehingga memiliki bentuk yang lebih jelas jika dibandingkan dengan bubur.
Disajikan dalam Momen Tertentu
Bagi masyarakat Banjar, kokoleh sering kali disajikan dalam beberapa momen tertentu di tengah masyarakat. Dikutip dari buku Murdijati-Gardjito, dkk., yang berjudul Ragam kudapan Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan, kokoleh menjadi salah satu menu takjil yang umum dijumpai saat bulan Ramadan tiba.
Cita rasa manis dan gurih dari kokoleh membuat kudapan ini sering menjadi pilihan sebagai menu berbuka puasa. Apalagi kokoleh juga cukup mengenyangkan jika dibandingkan dengan kudapan ringan lainnya.
Tidak hanya itu, kokoleh juga sering dijadikan sebagai hidangan penutup dalam berbagai acara yang ada di tengah masyarakat, seperti pernikahan dan lainnya. Makanan tradisional khas Kalimantan Selatan ini dihidangkan sebagai sajian pencuci mulut bagi para tamu yang hadir dalam acara tersebut.
Memiliki Nilai dan Makna Khusus
Selain menjadi sajian yang biasa dihidangkan di tengah masyarakat, kokoleh ternyata juga memiliki nilai dan makna khusus yang terkandung di dalamnya. Dikutip dari artikel Alfisyah, "Tradisi Makan Urang Banjar (Kajian Folklor atas Pola Makan Masyarakat Lahan Basah) yang terbit dalam Jurnal Padaringan, kokoleh sering diidentikkan dengan istilah "Bapaloleh" di tengah masyarakat.
Istilah ini sendiri secara harfiah bermakna "memperoleh hasil." Hal ini biasanya dikaitkan dengan penyajian kokoleh dalam beberapa momen tertentu di tengah masyarakat, seperti saat acara tanam padi perdana, pernikahan, upacara pemberian nama, dan lainnya.
Dengan disajikannya kokoleh dalam momen tersebut, diharapkan hal-hal yang dilakukan bisa memperoleh hasil yang bagus nantinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


