tradisi menyambut bulan ramadan di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

10 Tradisi dalam Menyambut Bulan Ramadan di Berbagai Daerah Indonesia

10 Tradisi dalam Menyambut Bulan Ramadan di Berbagai Daerah Indonesia
images info

10 Tradisi dalam Menyambut Bulan Ramadan di Berbagai Daerah Indonesia


Sebelum bulan Ramadan datang, ada berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat Muslim di Indonesia. Tradisi menyambut bulan suci ini dipercaya dapat mendatangkan kebaikan dan berbeda satu daerah dengan daerah lain.

Dalam artikel ini, akan disediakan informasi seputar berbagai tradisi masyarakat menjelang Ramadan tiba di beberapa wilayah Indonesia. Simak selengkapnya, ya!

Padusan dari Jawa

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta dan beberapa wilayah di Jawa Tengah. Berasal dari istilah “adus” yang dalam bahasa Jawa berarti mandi. Padusan adalah ritual membersihkan diri secara lahir maupun batin dan dipercaya dapat mempersiapkan spiritual dan fisik manusia sebelum memasuki bulan puasa.

Kegiatan ini biasanya dilakukan satu hari sebelum Ramadan datang dengan mendatangi sumber mata air seperti sungai, sendang, sampai pantai untuk mandi atau berendam. Beberapa juga melakukannya di rumah dengan air sumur yang telah didoakan.

Ruwahan dari Yogyakarta

Ruwahan berasal dari bahasa Arab yaitu “arwah”, sedangkan di Jawa juga disebut dengan “Ngluru Arwah”. Tradisi ruwahan merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur dengan mengirimkan doa kepada nenek moyang dan kerabat yang telah tiada.

Rangkaian acara ruwahan meliputi membersihkan makam leluhur atau keluarga, doa bersama, dan ditutup dengan makan bersama yang bisa dilakukan di area makam atau di luarnya.

Biasanya, terdapat sajian seperti ketan, apem, dan kolak. Nilai yang terkandung dari ruwahan yaitu bentuk syukur atas rezeki yang diberikan selama satu tahun. Dilakukan sebelum Ramadan karena dipercaya waktu yang tepat untuk mensucikan diri.

Megengan dari Bojonegoro

Megengan adalah tradisi pengingat akan memasuki bulan Ramadan. Selain itu, juga diartikan sebagai kepanjangan dari “dipengeng gak oleh mangan” atau dilarang makan. Diperkirakan telah dilakukan secara turun temurun sejak masa Kerajaan Demak pada abad ke-15 dan disebarkan oleh Wali Songo.

Di Bojonegoro, megengan dilakukan dengan beberapa cara seperti di rumah masing-masing, patungan dari beberapa rumah, atau membawa “berkat” seikhlasnya dikumpulkan jadi satu di musala terdekat. Megengan dilakukan dengan membaca tahlil untuk keluarga yang telah tiada.

Selain berkat yang berisi nasi dan berbagai lauk pauk, juga ada pisang dan apem yang tidak boleh dilewatkan.

baca juga

Roan Akbar dari Pesantren

Roan akbar adalah tradisi kerja bakti di pondok pesantren yang bertujuan menjaga kebersihan lingkungan dan mempererat ukhuwah (hubungan) sesama. Selain itu, kerja bakti dilakukan agar para santri merasa nyaman dan khusyuk dalam beribadah selama Ramadan.

Pelaksanaannya tergantung aturan masing-masing pondok. Ada yang membagi tugas sesuai dengan asrama atau kamar dan ada juga yang berdasarkan tempatnya, seperti menyapu halaman, mengepel, atau menguras bak kamar mandi.

Cucurak dari Sunda

Cucurak adalah tradisi makan bersama hidangan khas Sunda yang disajikan di atas daun pisang (botram). Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur dan sarana mempererat silaturahmi sebelum menjalankan puasa. Biasanya, dilakukan di rumah, saung, atau kebun.

Hidangan yang disantap biasanya terdiri dari nasi liwet dengan beraneka lauk, seperti ikan asin, tahu, tempe, ayam goreng, sambal, dan lalapan.

Grebeg Apem dari Jombang dan Yogyakarta

Tidak hanya populer di Yogyakarta, tradisi grebeg juga dilakukan di Jombang. Grebeg memiliki arti deruan suara angin, perkumpulan, atau pengiring, sedangkan apem berasal dari kata “afwan” yang berarti memaafkan.

Di Jombang, tradisi ini dilakukan dengan arak-arakan dengan membawa tumpeng apem. Lalu, gunungan apem ini akan diserbu oleh masyarakat setelah gong dibunyikan oleh Kepala Daerah setempat. Di Jogja, tradisi grebeg apem dilakukan sama seperti di Jombang.

Marpangir dari Sumatra

Mandi pangir atau marpangir adalah tradisi membersihkan diri menjelang bulan Ramadan yang dilakukan masyarakat Sumatra dengan mandi dan keramas menggunakan ramuan pangir atau rempah di sungai.

Biasanya, dilakukan sehari sebelum bulan puasa datang. Marpangir ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga sebelum menjalankan ibadah puasa. Rempah yang digunakan seperti daun jeruk, akar wangi, daun pandan, bunga kenanga, akar pinang, dan jeruk purut memiliki berbagai manfaat untuk tubuh.

baca juga

Dugderan dari Semarang

Masyarakat Semarang memiliki tradisi unik dalam menyambut Ramadan yaitu dugderan. Nama dugderan berasal dari dua suara khas yaitu dug (suara bedug) yang menandakan waktu salat dan der (suara meriam) yang menandakan awal Ramadan.

Setiap tahunnya, tradisi ini memiliki tema yang berbeda. Pada tahun 2025, beberapa aktivitas menarik yang dilakukan yaitu kirab budaya, flashmob dengan 4.000 peserta, dan pembagian roti ganjel rel.

Bajong Banyu dari Magelang

Bajong banyu adalah tradisi perang air menggunakan air yang diambil dari Sendang Kedawung dengan serangkaian prosesi. Air yang dianggap suci ini akan dibawa ke tengah-tengah dusun, kemudian sesepuh desa akan menuangkan air ke dalam gentong, dan menyiramkan atau melemparkan ke masyarakat.

Tradisi ini memiliki makna sebagai simbol penyucian diri dari semua salah dan dosa manusia. Selain itu, juga sebagai sarana menjalin hubungan sosial antar warga.

baca juga

Misalin dari Ciamis

Inti tradisi misalin dilakukan dengan ziarah dan doa bersama di Situs Galuh Salawe Prabu Sang Hyang Cipta Permana. Selanjutnya, terdapat penampilan berbagai kesenian dan ditutup dengan warga saling bersalaman lalu makan bersama.

Diawali dengan gotong royong membersihkan area makam leluhur di situs tersebut. Pada malam hari, panitia melakukan ngadamar dengan mengelilingi kampung menyebarkan informasi tradisi ini. Sebelum inti acara, anak-anak akan melakukan kuramasan atau keramas sebagai simbol penyucian diri sebelum puasa.

Sekian artikel tentang berbagai tradisi masyarakat Indonesia menjelang bulan Ramadan. Sebentar lagi, bulan suci akan datang. Adakah Kawan yang mengadakan tradisi di atas?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Alifia Ayu Fitriana lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Alifia Ayu Fitriana.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.