Ada satu titik dalam hidup di mana manusia seringkali merasa asing dengan dirinya sendiri. Di tengah deru dunia yang menuntut segalanya serba cepat dan instan, kita justru sering kali tertinggal dalam memahami apa yang sebenarnya bergejolak di dalam dada.
Berangkat dari kegelisahan itulah, Fina Mahardhika—seorang praktisi industri kreatif yang lama bergerak di balik layar, sebagai stage manager/show director, dan creative director memutuskan untuk "pulang" dan berbagi lewat sebuah karya literasi bertajuk "Menyelami Rasa: Cahaya Diri". Menempatkan “Cahaya Diri”, untuk mengajak kita pulang lewat kedalaman rasa.
Halaman Belakang Bolo Space, menjadi arena Fina Mahardhika dalam membisikkan karyanya pada pagi hari, Rabu, 4 Februari 2026. Dalam percakapan ini Fina Mahardhika ditemani oleh Kiarra, sebagai Editor, Ida dari penerbit Kolofon, serta di moderatori oleh Corry Meica.
Panas terik Jogja, tidak menyurutkan audiens untuk menghadiri agenda ini. Tentu, banyak yang penasaran seseorang yang terbiasa berada di balik panggung, dengan segala gegap gempitanya, ramai orang, menjadi sosok yang seringkali tidak nampak, kini memperkenalkan diri di hadapan audiens dengan situasi yang cukup berbeda, sebagai penulis.
Dari Panggung Musik ke Kedalaman Aksara

Perjalanan Fina di dunia kreatif bukanlah proses yang terjadi semalam. Bagi penikmat musik Indonesia, nama Fina menjadi salah satu yang perlu disebut dibalik trend band yang sedang naik daun di era itu.
Ada yang mungkin lekat dengan memori di tahun 2000an? Fina Mahardhika mengawal grup musik J-Rocks yang lahir pada 2003, Setelahnya band asal Jakarta J-Rocks memenangkan the best band who can their voice Soundrenaline yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 2007/2008.
Inilah yang membuat kota Yogyakarta menjadi kota magis yang menorehkan sejarah pada perjalanan karirnya di dunia hiburan, dan kini Yogyakarta kembali menjadi saksi peluncuran buku perdananya.
Setelah hampir dua dekade mendedikasikan kreativitasnya untuk visi orang lain, kini ia mengambil keberanian untuk menyuarakan visinya sendiri. Buku ini adalah manifesto keberaniannya untuk tidak lagi bersembunyi di balik panggung, melainkan maju ke depan untuk memimpin narasi dirinya.
Menulis yang merupakan pekerjaan sunyi, tentu sangat berbalik dengan karirnya hampir dua dekade, ramai riuh, dengan bertemu banyak manusia, dan memahami manusia. Ia kembali kontempelasi lewat dirinya melalui tulisan yang saat ini sudah diterbitkan.
Sebuah "Suaka Semesta" di Tengah Era yang Instan

Fenomena hari ini, informasi bergerak sangat cepat, pun dibarengi dengan ketergantungan manusia terhadap teknologi. Hal ini membuat kita kurang peka terhadap perasaan sendiri. Kita pandai menyelami informasi di dunia maya.
Kita sering berhasil menyelam di linimasa teknologi, dan terjebak dalam pusaran waktu karena berada di depan layar handphone. Namun, gagal menyelami diri masing-masing.
Melalui 51 tajuk cerita yang ditulis secara mengalir dan natural, Fina mengajak pembaca untuk kembali melihat ke dalam diri, berkenalan dengan rasa dan memahaminya. Buku ini bukan sekadar bacaan pengembangan diri biasa yang mengadopsi teori luar negeri.
Fina justru menggali kekayaan ajaran leluhur, nilai-nilai spiritualitas, budaya Indonesia, hingga napas religi ke dalam setiap tulisannya. "Ini bukan tentang gue, tapi bagaimana menghubungkan orang-orang dengan suaka semesta mereka sendiri," ungkapnya.
Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik buku ini adalah keberadaan halaman kosong di sisi kanan. Ini bukan kesalahan cetak, melainkan sebuah ruang yang sengaja disediakan agar pembaca bisa melakukan journaling, merenung, dan merespons setiap tulisan dengan perasaan mereka sendiri.
Fina ingin karyanya menjadi kolaborasi antara penulis dan pembaca. Dengan menulis di halaman tersebut, pembaca diajak untuk jujur pada emosinya, bahkan pada sisi paling gelap sekalipun, karena seringkali "Cahaya Diri" baru akan ditemukan saat seseorang berani menyelam hingga ke dasar terdalam. Setelah melalui banyak perjalanan panjang.
Karya yang Tak Berhenti di Lembar Kertas

"Menyelami Rasa, Cahaya Diri" bukan hanya karya yang diam, karya ini akan menjadi sebuah proyek seni yang terus bertumbuh. Karya ini berkolaborasi pula dengan djemari pensil, yang menorehkan goresan-goresan ilustrasi di buku ini.
Fina membocorkan bahwa karya ini tidak akan berhenti sebagai buku saja. Di tahun ini, ia tengah mempersiapkan transformasi buku tersebut menjadi sebuah pertunjukan panggung serta kolaborasi dengan seniman rupa untuk menyajikan pengalaman visual yang lebih kaya. Masih sangat lekat dengan proses kreatif dan karirnya selama 2 dekade.
Bagi kita yang merindukan momen untuk sedikit melambat dan ingin kembali mengenali siapa sosok yang menatap balik di depan cermin, buku ini merupakan teman perjalanan yang hangat. Sebuah pengingat bahwa di balik kebisingan dunia, ada "Cahaya Diri" yang selalu menanti untuk ditemukan kembali.
Setelah selesai berbincang tentang proses berkarya, dan isi buku. Beberapa audiens merespon dengan membacakan tulisan yang ada di buku Menyelami Rasa, Cahaya Diri. Masing-masing tulisan yang dibacakan secara spontan secara tidak sengaja ternyata terkoneksi.
Hari itu menjadi pertemuan, di Bolo Space yang kata depannya diambil dari bahasa jawa “Bolo” yang berarti kawan, Fina bertemu kawan-kawan yang telah mendengar bisikan dari karya ruh pertamanya, Menyelami Rasa Cahaya Diri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


