buku antologi museum teman baik - News | Good News From Indonesia 2026

Buku Antologi "Museum Teman Baik", Memotret Sisi Hangat hingga Kompleksnya Pertemanan

Buku Antologi "Museum Teman Baik", Memotret Sisi Hangat hingga Kompleksnya Pertemanan
images info

Buku Antologi "Museum Teman Baik", Memotret Sisi Hangat hingga Kompleksnya Pertemanan


Pernahkah Kawan GNFI merasa bahwa sahabat adalah keluarga yang bisa dipilih sendiri? Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dewasa yang sering kali terasa mekanis, relasi pertemanan bak oase yang paling dicari.

Umumnya, pertemanan adalah relasi yang diibaratkan “bagai air dan tebing”: saling melengkapi dan menopang. 

Namun, pertemanan sering kali lebih rumit dari sekadar saling melengkapi dan menopang. Melalui antologi “Museum Teman Baik”, Kawan GNFI akan melihat berbagai fragmen pertemanan yang memiliki ragam dinamika. Fragmen-fragmen tersebut dikumpulkan dalam 10 cerita oleh 10 penulis. 

Ketika membaca cerita dalam buku antologi ini, Kawan GNFI layaknya melangkah masuk ke dalam sebuah galeri. Di sana, Kawan tidak hanya diajak melihat potret indah persahabatan. Penulis juga membuka ruang untuk melihat getirnya kehilangan dan kompleksitas perasaan yang sering kali sulit dibahasakan.

baca juga

Menelusuri Lorong-Lorong Potret Pertemanan

Di dalam 'museum' ini, Kawan GNFI akan menjumpai berbagai karakter tulisan yang unik. Kesepuluh penulis, mulai dari Reda Gaudiamo, Sri Izzati, hingga Awi Chin, membawa "kuas" masing-masing untuk melukiskan potret pertemanan.

Ada cerita yang terasa sangat dekat karena mengambil latar keseharian yang sangat akrab di Indonesia—seperti percakapan di rumah makan atau pertemuan reuni bersama teman kuliah.

Keberagaman gaya bahasa menjadi daya tarik utama dalam antologi ini. Kawan GNFI seolah diajak berpindah dari satu instalasi seni ke instalasi lainnya. Kawan dapat bertemu dengan narasi yang puitis dan mendayu. Namun, di bab berikutnya, Kawan bisa saja berhadapan dengan dialog yang lugas dan sangat "urban".

baca juga

Realitas Pertemanan yang Tak Sekadar Suka dan Duka

Di balik sampulnya yang minimalis, buku ini menyimpan keberanian untuk menyibak sisi lain pertemanan. Para penulis membuktikan bahwa kompleksitas pertemanan tidak dapat diringkas dalam kata "manis" saja.

Sri Izzati dengan "Soak 33" memotret hubungan pertemanan yang seiring waktu dapat berubah arah. Ia menggambarkan bahwa jarak tidak hanya tercipta karena perbedaan jarak, tetapi juga karena pertumbuhan kedewasaan yang berbeda di antara sesama manusia.

Pertemanan dewasa kini juga tidak hanya sekadar intensitas pertemuan atau kesamaan hobi. Hal ini diperlihatkan oleh Cyntha Hariadi dengan "Ulang Tahun" yang melukiskan perubahan prioritas perempuan ketika menjadi seorang ibu dalam relasi pertemanan.

Melalui cerita ini, kita diingatkan bahwa transisi kehidupan—seperti berkeluarga dan mengasuh anak—sering kali menciptakan sekat-sekat baru yang menantang kelanggengan sebuah persahabatan.

Cyntha dengan jujur menggambarkan kasih sayang terhadap teman harus bernegosiasi dengan tanggung jawab domestik yang tak kalah besarnya.

Selain perspektif dari Sri Izzati dan Cyntha Hariadi, delapan cerita lainnya turut melengkapi instalasi emosi di museum ini. Transisi antarcerita terkadang terasa begitu kontras karena perbedaan gaya yang tajam.

Namun, sebagai sebuah antologi yang menyatukan sepuluh "kepala", buku ini bukan tanpa tantangan bagi pembacanya. 

Keberagaman gaya yang sangat kontras terkadang membuat transisi antarcerita terasa cukup mengejutkan. Kawan GNFI mungkin baru saja hanyut dalam renungan yang dalam pada satu bab. Setelah pindah ke bab selanjutnya, Kawan tiba-tiba harus beradaptasi dengan gaya bahasa yang sangat santai atau berakhir begitu cepat.

Bagi Kawan GNFI yang lebih menyukai gaya bahasa konsisten dari awal hingga akhir, dinamika ini mungkin akan terasa sedikit melelahkan. Namun, ceritanya akan berbeda jika Kawan memandangnya sebagai koleksi instalasi seni.

Keragaman ini justru menjadi bumbu yang memperkaya pengalaman berkunjung ke 'museum' ini. Potret pertemanan yang ada mempertegas pesan utama buku ini. Setiap pertemanan nyatanya memiliki sidik jarinya sendiri.

Antologi ini bisa menjadi teman refleksi yang pas saat Kawan ingin merenungi kembali arti sahabat. Sebuah pengingat bahwa dalam setiap tawa dan luka, selalu ada kedewasaan yang tumbuh di sana.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.