Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, dikenal sebagai salah satu tokoh nasional Indonesia yang memiliki kecerdasan dan dedikasi luar biasa. Namanya tidak hanya harum di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional, khususnya dalam bidang teknologi penerbangan.
Habibie dikenal sebagai profesor sekaligus ilmuwan aviasi yang kontribusinya diakui dunia. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya Presiden Indonesia yang memiliki latar belakang teknokrat, sehingga kepemimpinannya kerap dikaitkan dengan pendekatan ilmiah dan teknologi.
Menariknya, Habibie merupakan Presiden Indonesia pertama yang lahir di luar Pulau Jawa, tepatnya di Parepare, Sulawesi Selatan. Latar belakang keluarganya pun cukup beragam. Dari garis ayah, ia mewarisi darah Bugis dan Gorontalo, ayahnya berasal dari Kabila, Gorontalo, sementara dari pihak ibu, ia memiliki keturunan Jawa yang berasal dari Yogyakarta.
Perpaduan latar budaya tersebut turut membentuk karakter Habibie menjadi sosok yang terbuka, pekerja keras, dan memiliki pandangan luas sejak usia muda. (Rudy: Kisah masa muda sang visioner, 2015.)
Nama lengkapnya adalah Prof. Dr. (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Ia lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, buah hati dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. (Gaya kepemimpinan presiden Indonesia, 2018)
Jika ditelusuri dari garis keturunannya, kakek B.J. Habibie dikenal sebagai tokoh yang disegani. Ia merupakan seorang pemuka agama, anggota majelis peradilan agama, sekaligus termasuk salah satu pemangku adat Gorontalo yang terpandang pada masanya. (Rudy: Kisah masa muda sang visioner, 2015.)
Masa kecil Habibie dihabiskan bersama saudara-saudaranya di Parepare, Sulawesi Selatan, dalam suasana keluarga yang hangat namun penuh kedisiplinan. Sejak usia belia, ia sudah memperlihatkan karakter yang tegas dan kuat dalam memegang prinsip. Sikap itu tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga yang menanamkan nilai tanggung jawab dan keteguhan hati sejak dini.
Habibie dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayahnya memiliki kebiasaan membacakan ayat-ayat suci Alquran untuknya semasa kecil. Lantunan ayat tersebut, menurut pengakuan Habibie, menghadirkan ketenangan yang mendalam di hatinya. Tak jarang sang ayah membacakan hingga satu sampai dua juz, semata-mata untuk menenangkan putranya.
Sejak kecil, Habibie dikenal memiliki kegemaran menunggang kuda dan membaca. Kecerdasannya pun sudah tampak menonjol saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, masa kanak-kanaknya yang cerah harus dibayangi duka mendalam ketika sang ayah wafat pada 3 September 1950 akibat serangan jantung, tepat saat sedang menunaikan salat Isya. Sepeninggal ayahnya, kehidupan keluarga mereka mengalami perubahan besar.
Ibunya kemudian mengambil keputusan berat dengan menjual rumah serta kendaraan, lalu pindah ke Bandung bersama Habibie. Dalam kondisi tersebut, sang ibu harus bekerja keras membanting tulang demi menghidupi dan membiayai anak-anaknya, terutama demi pendidikan Habibie, yang saat itu mulai menapaki jalan menuju cita-citanya. (BJ Habibie dalam kenangan: ragam kesan dan pengalaman bersama almarhum, 2022)
Berkat kemauan belajarnya yang besar, Habibie melanjutkan pendidikan di Gouvernements Middlebare School. Memasuki jenjang SMA, prestasinya mulai terlihat semakin menonjol, khususnya dalam mata pelajaran eksakta seperti matematika dan fisika. Ia dikenal sebagai siswa yang cerdas, tekun, dan cukup difavoritkan oleh guru maupun teman-temannya di sekolah.
Setelah lulus SMA di Bandung pada tahun 1954, Habibie sempat melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, pendidikannya di sana tidak diselesaikan karena ia memperoleh beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliah di Jerman.
Kesempatan itu sejalan dengan pesan Presiden Soekarno tentang pentingnya penguasaan teknologi berwawasan nasional, terutama di bidang teknologi maritim dan dirgantara, yang saat itu sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara yang tengah berkembang.
Selama menetap di Jerman bersama istrinya, Habibie tidak hanya fokus menempuh pendidikan, tetapi juga harus bekerja keras untuk membiayai kuliah sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ia menekuni bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang dengan kesungguhan yang luar biasa.
Pada tahun 1965, Habibie berhasil menuntaskan studi doktoralnya dan meraih gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan predikat summa cum laude, sebuah pencapaian akademik yang sangat membanggakan. Bahkan, sejak masih berada di tingkat doktoral, ia sudah mulai bekerja demi menopang biaya studi dan kehidupan keluarganya.
Seusai meraih gelar doktor, karier profesionalnya berkembang pesat di industri penerbangan Jerman. Ia bergabung dengan Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg. Pada periode 1965–1969, ia menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan dalam bidang Analisis Struktur Pesawat Terbang. Kariernya terus menanjak; pada 1969–1973 ia dipercaya memimpin Divisi Metode dan Teknologi di industri pesawat komersial maupun militer MBB.
Berkat kinerja dan kecemerlangan pemikirannya, empat tahun kemudian ia diangkat sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi MBB (1973–1978), dan selanjutnya menjadi Penasihat Senior bidang teknologi bagi Dewan Direktur sejak 1978.
Prestasi tersebut menjadikannya satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi nomor dua di perusahaan pesawat terbang ternama Jerman itu. (dilansir dari ft.umj.ac.id)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


