Dorongan pemerintah untuk mengembangkan Kurikulum Hijau menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan lingkungan yang kian kompleks. Pendidikan tidak lagi cukup hanya menanamkan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membentuk kesadaran, sikap, dan perilaku yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Sekolah memiliki peran penting sebagai ruang awal untuk menumbuhkan nilai tersebut sejak dini.
Sejalan dengan semangat itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University melaksanakan sebuah program edukasi lingkungan bertajuk SIHEJO (Sibanteng Hejo) di SMPN Satu Atap Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Program ini dirancang sebagai bentuk penerjemahan Kurikulum Hijau ke dalam praktik pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pendekatan Pembelajaran yang Lebih Bermakna
SIHEJO mengusung pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), di mana siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar. Kegiatan utama dikemas dalam bentuk simulasi permainan peran (role-play simulation) yang menggambarkan sistem lingkungan desa.
Dalam simulasi ini, siswa memerankan berbagai komponen ekosistem, seperti pohon, air, permukiman, serta aktivitas manusia yang mencerminkan penebangan dan penanaman pohon. Beberapa siswa juga berperan sebagai pengambil keputusan yang menentukan arah perubahan lingkungan. Dengan pendampingan fasilitator sebagai pemandu alur dan storyteller, simulasi berjalan dinamis dan mudah dipahami.
Melalui perubahan skenario, misalnya berkurangnya jumlah pohon atau bertambahnya aktivitas manusia. Siswa dapat mengamati bagaimana keseimbangan lingkungan terganggu. Sebaliknya, ketika pohon kembali ditanam, kondisi lingkungan menjadi lebih stabil. Dari sini, siswa belajar bahwa lingkungan hidup merupakan sistem yang saling terhubung dan dipengaruhi oleh tindakan manusia.
Refleksi untuk Menumbuhkan Kesadaran
Setelah simulasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi dan diskusi terpandu. Pada tahap ini, siswa diajak mengaitkan pengalaman selama simulasi dengan kondisi lingkungan di sekitar mereka. Diskusi difokuskan pada pentingnya menjaga tutupan hijau, mengurangi penebangan hutan, serta peran individu dalam menjaga keseimbangan alam.
Refleksi ini menjadi ruang penting untuk menanamkan kesadaran bahwa kepedulian lingkungan tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses memahami sebab dan akibat dari setiap tindakan. Siswa didorong untuk melihat bahwa langkah kecil, seperti menjaga pohon atau menanam kembali, memiliki dampak jangka panjang bagi lingkungan.
Aksi Hijau Melalui Penanaman Pohon
Sebagai bentuk penguatan pembelajaran, SIHEJO ditutup dengan aksi hijau berupa penanaman pohon di lingkungan sekolah. Bibit pohon yang digunakan, seperti sengon dan pucuk merah, diperoleh dari Persemaian Rumpin melalui kerja sama sebagai mitra penyedia bibit.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan membutuhkan sinergi berbagai pihak. Tidak hanya mahasiswa dan sekolah, tetapi juga lembaga persemaian yang berperan dalam menyediakan bibit berkualitas untuk kegiatan penghijauan. Bagi siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman langsung bahwa menjaga lingkungan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Melalui penanaman pohon, siswa belajar tentang tanggung jawab merawat lingkungan secara berkelanjutan. Pohon yang ditanam tidak hanya menjadi simbol kegiatan, tetapi juga pengingat akan peran mereka dalam menjaga kelestarian alam.
Menghidupkan Kurikulum Hijau di Sekolah
Lebih dari sekadar kegiatan satu kali, SIHEJO diarahkan untuk mendukung terbentuknya budaya sekolah berwawasan lingkungan. Program ini selaras dengan semangat Kurikulum Hijau yang menekankan integrasi nilai keberlanjutan dalam proses pembelajaran.
Hasil kegiatan SIHEJO direncanakan untuk dikembangkan menjadi modul ajar berbasis lingkungan, sehingga dapat digunakan secara berkelanjutan oleh pihak sekolah. Dengan demikian, nilai-nilai kepedulian lingkungan tidak hanya dirasakan oleh satu angkatan, tetapi juga dapat diwariskan kepada siswa berikutnya.
Langkah Kecil Menuju Dampak yang Lebih Luas
Pelaksanaan SIHEJO menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang sederhana namun bermakna. Antusiasme siswa selama simulasi, diskusi, hingga penanaman pohon mencerminkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis aksi hijau mampu menumbuhkan kesadaran sejak dini.
Melalui SIHEJO, mahasiswa KKN-T IPB University bersama siswa SMPN Satu Atap Leuwisadeng memperlihatkan bahwa penerapan Kurikulum Hijau dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Dari simulasi sederhana hingga aksi penanaman pohon, setiap langkah kecil menjadi bagian dari upaya membangun masa depan yang lebih hijau.
Sebuah pesan yang relevan bagi Kawan GNFI, bahwa kepedulian lingkungan dapat dimulai dari ruang belajar terdekat dan diwujudkan melalui tindakan nyata yang berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


