Dunia botani internasional menyoroti Indonesia setelah salah satu tanaman asal Papua, Anggrek Ulat (Dendrobium eruciforme), masuk dalam daftar 10 tanaman baru dunia paling fenomenal sepanjang 2025.
Daftar tersebut dirilis oleh Royal Botanic Gardens, Kew (RBG), London, lembaga riset botani terkemuka dunia yang setiap tahun mendokumentasikan spesies tumbuhan baru. Seperti dilaporkan Euro News pada Minggu, 11 Januari 2026, kehadiran Anggrek Ulat di daftar tersebut mengingatkan akan tingginya eanekaragaman hayati Indonesia.
Masuknya Anggrek Ulat ke dalam daftar tersebut menegaskan posisi Indonesia, khususnya Papua, sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati global. Hingga kini, wilayah Papua masih menyimpan banyak spesies tumbuhan yang belum terdokumentasi secara ilmiah, meskipun tekanan terhadap ekosistemnya terus meningkat.
Anggrek Berukuran Mini
Anggrek Ulat mendapatkan namanya dari bentuk fisiknya yang tidak lazim dibandingkan anggrek pada umumnya. Tanaman ini berukuran sangat kecil dan tumbuh merayap di batang pohon, dengan struktur yang menyerupai koloni ulat yang sedang berbaris. Karakter inilah yang membuatnya mudah dikenali dan menarik perhatian para peneliti.
Secara ilmiah, Anggrek Ulat merupakan spesies terkecil dari enam spesies anggrek baru yang dipublikasikan oleh para ilmuwan Indonesia sepanjang 2025. Keenam spesies tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak flora endemik Indonesia yang belum teridentifikasi, meskipun sebagian di antaranya hidup di habitat yang rentan terhadap kerusakan.
Penemuan Anggrek Ulat merupakan hasil kolaborasi intensif antara para peneliti Indonesia dan Royal Botanic Gardens, Kew. Spesies ini dipublikasikan bersama Andre Schuiteman, peneliti anggrek dari RBG Kew, serta mitra lokal di Indonesia. Kerja sama ini bertujuan tidak hanya untuk mendeskripsikan spesies baru, tetapi juga untuk memetakan area-area penting yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Sebagian besar penemuan tersebut berkaitan dengan proyek Tropical Important Plant Areas New Guinea (TIPA), sebuah inisiatif untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah kunci bagi pelestarian tumbuhan di Papua. Hingga saat ini, sebanyak 13 area TIPA telah dipublikasikan sebagai bagian dari upaya konservasi berbasis data ilmiah.
Papua sebagai Kawasan Prioritas Konservasi
Dari enam spesies baru yang dipublikasikan, lima di antaranya berasal dari Papua, termasuk Anggrek Ulat. Tiga spesies ditemukan di Bentang Alam Mahkota Permata Papua atau Crown Jewel, kawasan hutan hujan tropis yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi dan kondisi ekosistem yang masih relatif utuh di dunia.
Kelima spesies baru dari Papua tersebut adalah Dendrobium eruciforme, Dendrobium siculiforme, Bulbophyllum sandfordiorum, Bulbophyllum ewamiyiuu, dan Bulbophyllum abuniorum. Satu spesies lainnya, Bulbophyllum halmaherae, berasal dari Pulau Halmahera, Maluku. Penelitian ini melibatkan mitra Indonesia seperti Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Universitas Papua, serta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
Di balik pengakuan internasional tersebut, para ilmuwan mengingatkan ancaman serius terhadap kelestarian spesies baru, termasuk Anggrek Ulat. Dr. Martin Cheek, Pemimpin Riset Senior di tim Afrika RBG Kew, menekankan pentingnya pendeskripsian spesies di tengah percepatan hilangnya keanekaragaman hayati.
“Menggambarkan spesies tanaman dan jamur baru sangat penting pada saat dampak hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim dipercepat di depan mata kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tanpa nama dan deskripsi ilmiah, suatu spesies sulit dilindungi. “Sulit untuk melindungi apa yang tidak kita ketahui, pahami, dan tidak memiliki nama ilmiahnya,” kata Cheek. Menurutnya, banyak spesies baru yang kini sudah terancam punah bahkan sebelum publikasi ilmiahnya rampung.
Pentingnya Investasi Konservasi
Secara global, sekitar 2.500 spesies tumbuhan baru dideskripsikan setiap tahun, dengan sekitar 125 spesies di antaranya berasal dari tim RBG Kew. Namun, laju penemuan tersebut tidak sebanding dengan kecepatan kerusakan habitat akibat aktivitas manusia.
“Jika kita gagal berinvestasi dalam taksonomi, konservasi, dan kesadaran publik sekarang, kita berisiko menghancurkan sistem yang menopang kehidupan kita di Bumi,” tegas Cheek.
Masuknya Anggrek Ulat dalam daftar tanaman paling fenomenal dunia bukan hanya pengakuan atas kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga penegasan bahwa upaya dokumentasi ilmiah dan perlindungan ekosistem Papua menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan pembangunan dan perubahan iklim global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


