Tanaman akar bajakah merupakan spesies tumbuhan yang dikenal luas di Kalimantan dan beberapa wilayah Asia lainnya karena khasiatnya dalam pengobatan tradisional.
Nama bajakah sendiri berasal dari bahasa Dayak yang berarti “akar,” dan secara ilmiah tanaman ini dikenal sebagai SpatholobuslittoralisHasskarl, pertama kali diidentifikasi oleh ahli botani Jerman Justus Karl Hasskarl pada tahun 1842.
Tanaman ini termasuk dalam keluarga Fabaceae, subfamili Faboideae, dan merupakan bagian dari genus Spatholobus yang terdiri dari puluhan spesies merambat yang tersebar di hutan tropis Indonesia dan wilayah Asia lainnya termasuk Bangladesh, China selatan, India, Malaysia, Thailand, Vietnam, serta kepulauan Filipina dan Andaman.
Tumbuh hingga 50 Meter
Tanaman bajakah biasanya tumbuh sebagai tanaman merambat yang memanjat pada pohon-pohon besar di hutan tropis. Di Kalimantan, bajakah tumbuh subur baik di bagian Indonesia maupun Malaysia.
Tanaman ini dapat mencapai ketinggian hingga 50 meter ketika merambat di batang pohon, memperlihatkan adaptasi morfologi yang khas terhadap lingkungan hutan.
Daun bajakah memiliki bentuk tajam dengan kombinasi warna kuning, putih, dan coklat, sedangkan bunganya kecil dengan variasi warna ungu, pink, dan putih. Struktur vegetatif ini menunjukkan bahwa bajakah mampu beradaptasi dalam struktur vegetasi yang kompleks di hutan tropis.
Habitat bajakah umumnya mencakup hutan primer dan sekunder dengan kelembapan tinggi serta tanah yang kaya bahan organik. Karena sifatnya yang merambat, tanaman ini memanfaatkan pohon-pohon lain sebagai penopang.
Di beberapa daerah, terutama Pulau Jawa yang memiliki populasi manusia tinggi dan tekanan lahan, tanaman bajakah semakin sulit ditemukan karena berkurangnya hutan alami dan habitat asalnya.
Mengandung senyawa aktif
Akar dan batang bajakah mengandung berbagai metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas biologisnya. Senyawa-senyawa utama yang ditemukan termasuk flavonoid, fenolik, tanin, saponin, alkaloid, dan terpenoid.
Senyawa flavonoid memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, sedangkan tanin dan alkaloid dapat berkontribusi terhadap aktivitas antibakteri. Saponin dikaitkan dengan efek immunomodulator. Kandungan ini telah didokumentasikan dalam berbagai kajian fitokimia.
Beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak akar bajakah memiliki aktivitas antibakteri ketika diuji terhadap bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus.
Uji in vitro menunjukkan zona hambat pertumbuhan bakteri yang meningkat seiring konsentrasi ekstrak, meskipun efektivitasnya terhadap organisme lain seperti Escherichia coli kurang terlihat.
Aktivitas antioksidan juga menjadi fokus penelitian. Ekstrak etanol akar bajakah menunjukkan kemampuan antioksidan yang kuat berdasarkan pengujian dengan metode DPPH, dengan nilai IC50 yang termasuk dalam kategori potensi antioksidan kuat.
Kegiatan ini berkaitan dengan kandungan fenolik dan flavonoid yang tinggi dalam ekstrak. Penelitian lain yang membandingkan berbagai metode ekstraksi menemukan bahwa teknik seperti reflux dapat menghasilkan kandungan fenolik yang lebih tinggi, yang selanjutnya menguatkan aktivitas antioksidan.
Khasiat Akar Bajakah
Masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan telah lama menggunakan akar bajakah dalam pengobatan tradisional. Bagian tanaman ini dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, termasuk mengatasi disentri, nyeri otot, dan luka.
Khasiat batang bajakah dalam menghentikan pendarahan luka telah menjadi bagian dari pengetahuan etnofarmasi setempat. Kandungan flavonoid, tanin, dan saponin berperan dalam proses biologis yang dapat mempercepat penyembuhan jaringan.
Penelitian ilmiah mendukung penggunaan tradisional ini. Uji pada model hewan menunjukkan bahwa ekstrak batang bajakah dapat efektif mempercepat penyembuhan luka sayat dibandingkan dengan kontrol, dengan luka yang sembuh lebih cepat pada kelompok yang diberi salep yang mengandung ekstrak etanol batang bajakah.
Selain itu, ekstrak bajakah juga telah diuji untuk aktivitas antiinflamasi in vitro, yang menunjukkan kemampuan untuk menghambat beberapa mekanisme enzimatik terkait proses peradangan.
Potensi bajakah sebagai agen antikanker juga menjadi area penelitian. Penelitian fitokimia menunjukkan adanya senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan obat herbal antikanker dan antioksidan.
Kajian ilmiah menunjukkan aktivitas bioaktif pada ekstrak batang yang dipelajari menggunakan metode in vitro dan in silico, menunjukkan interaksi potensial dengan target biologi yang relevan untuk pengembangan antikanker.
Perlu Riset Lanjut
Selain pemanfaatan sebagai obat tradisional, penelitian modern juga mengeksplorasi aplikasi lain seperti pengembangan formulasi produk kesehatan.
Ekstrak akar bajakah telah diteliti untuk formulasi obat kumur antibakteri yang bersifat alami untuk menghambat pembentukan plak gigi akibat Streptococcusmutans, dengan hasil bahwa formulasi tersebut dapat menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan dalam pengujian laboratorium.
Meskipun banyak penelitian menunjukkan potensi bajakah dalam aktivitas farmakologis, penting untuk memahami bahwa sebagian besar studi hingga kini masih dalam tahap awal, termasuk uji laboratorium dan model hewan.
Penelitian klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan dosis yang tepat. Selain itu, isu konservasi juga relevan karena tekanan terhadap habitat hutan di Kalimantan dapat mempengaruhi ketersediaan tanaman ini di alam.
Secara keseluruhan, akar bajakah (Spatholobus littoralis) merupakan tanaman yang memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional dan semakin mendapat perhatian dalam penelitian ilmiah modern karena beragam aktivitas bioaktifnya yang menjanjikan.
Akan tetapi, eksplorasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk menerjemahkan potensi ini ke dalam aplikasi medis yang terstandarisasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


