sering diabaikan tanaman malapari simpan potensi besar jadi biodiesel - News | Good News From Indonesia 2026

Sering Diabaikan, Tanaman Malapari Simpan Potensi Besar Jadi Biodiesel

Sering Diabaikan, Tanaman Malapari Simpan Potensi Besar Jadi Biodiesel
images info

Sering Diabaikan, Tanaman Malapari Simpan Potensi Besar Jadi Biodiesel


Malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre) merupakan salah satu tanaman yang dinilai paling potensial sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia. 

Biodiesel sendiri adalah bahan bakar nabati nonfosil yang saat ini terus didorong pengembangannya oleh pemerintah sebagai bagian dari transisi energi. 

Malapari mengandung minyak nabati dalam bijinya dengan kadar tinggi, yakni sekitar 30–40 persen trigliserida, sebagaimana dicatat dalam penelitian Aminah et al. (2017) dalam Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 

Kandungan minyak tersebut menjadikan malapari kandidat strategis untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan berbasis hayati.

Malapari di Indonesia

Tanaman malapari merupakan spesies asli India dan Asia Tenggara yang telah menyebar luas ke berbagai wilayah tropis dunia, termasuk Australia, Amerika, Selandia Baru, dan Cina. 

Di Indonesia, sebarannya cukup luas, mulai dari Sumatra bagian timur, Bangka, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali Utara, Lombok Timur, hingga Maluku. 

Malapari umumnya tumbuh di kawasan pesisir tropis karena memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas, genangan air, dan kondisi lingkungan terbuka. 

Selain di pesisir, tanaman ini juga dapat ditemukan hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.

Karakter Botani Malapari

Secara ilmiah, tanaman ini dikenal dengan nama Pongamia pinnata (L.) Pierre dan memiliki beberapa sinonim seperti Millettia pinnata dan Millettia novo-guineensis. 

Malapari juga dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain mabai di Bangka, ki pahang laut di Jawa Barat, kranji di Madura, marauwen di Minahasa, hingga kuanji di Bali. 

Dari sisi morfologi, malapari tergolong tanaman perdu atau pohon dari famili Leguminosae yang tumbuh relatif cepat dan dapat mencapai tinggi 15–25 meter dalam waktu 4–5 tahun. 

Batangnya berwarna abu-abu dengan diameter hingga 80 sentimeter, memiliki bunga majemuk berwarna putih hingga ungu, serta buah lonjong berdinding tebal yang berisi satu hingga dua biji.

Potensi untuk Energi

Selain sebagai sumber biodiesel, malapari dikenal sebagai tanaman serbaguna. Daunnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau, sementara daun kering kerap digunakan sebagai pengusir serangga. 

Dalam pengobatan tradisional, bagian daun, bunga, akar, dan kulit kayunya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Kayu malapari juga digunakan sebagai bahan bakar dan mebel. Karakter ini menjadikan malapari tidak hanya bernilai dari sisi energi, tetapi juga ekonomi dan sosial.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pengembangan malapari sebagai bagian dari strategi kedaulatan energi nasional. Salah satu lokasi pengembangan dilakukan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, bekerja sama dengan PT Lembata Hira Sejahtera dan pemerintah daerah. 

Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Budi Leksono, menjelaskan bahwa biji malapari menghasilkan minyak non-pangan yang sangat potensial untuk biodiesel dan bioavtur. 

“Secara alami, rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20–28 persen, dan melalui seleksi genetik serta optimalisasi metode ekstraksi, dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen,” ujarnya.

baca juga

Tumbuh di Lahan Marginal

Malapari memiliki keunggulan ekologis sebagai tanaman legum yang mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar. Sifat ini membuatnya relatif tidak memerlukan pupuk nitrogen dan sangat adaptif pada lahan marginal serta wilayah kering ekstrem, termasuk kawasan Indonesia timur. 

Meski demikian, Prof. Budi mengingatkan bahwa fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan dapat menurunkan kualitas genetik tanaman dan berdampak pada produktivitas jangka panjang.

Pengembangan malapari di Lembata diarahkan terintegrasi dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat. Melalui pendekatan ini, masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan atau komoditas lain di bawah tegakan malapari.

Selain untuk produksi bioenergi, penanaman malapari juga dipandang sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim karena berpotensi menyerap karbon dan mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional. 

“Ke depan, sinergi lintas sektor diharapkan mampu mempercepat pengembangan malapari sebagai komoditas strategis nasional yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal,” tutup Budi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.