menjaga akar tradisi mengenal prosesi nyadran dalam masyarakat jawa - News | Good News From Indonesia 2026

Menjaga Akar Tradisi: Mengenal Prosesi Nyadran dalam Masyarakat Jawa

Menjaga Akar Tradisi: Mengenal Prosesi Nyadran dalam Masyarakat Jawa
images info

Menjaga Akar Tradisi: Mengenal Prosesi Nyadran dalam Masyarakat Jawa


Kalau Kawan pernah dengar istilah Ruwahan, itu biasanya berkaitan dengan satu tradisi khas masyarakat Jawa yang masih lestari sampai sekarang, yaitu Nyadran.

Tradisi adalah cermin identitas sebuah bangsa. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Jawa tetap teguh memegang teguh warisan leluhur yang dikenal dengan istilah Nyadran. Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta "Sraddha" yang berarti keyakinan atau penghormatan.

Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan para pendahulu yang telah tiada.

Nyadran bukan cuma soal ziarah makam. Ini adalah rangkaian kegiatan yang penuh makna, mulai dari bersih-bersih makam, doa bersama, makan bareng, sampai pagelaran wayang kulit. Biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, tepatnya di bulan Sya’ban (atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa).

Yuk kita bahas satu per satu, apa saja kegiatan dalam tradisi Nyadran dan kapan biasanya dilakukan.

1. Besik atau Bersih Makam

Besik merupakan kegiatan membersihkan makam leluhur yang dilakukan secara bersama-sama. Kata “besik” secara harfiah berarti bersih. Dalam konteks Nyadran, kegiatan ini dilakukan dengan membersihkan area pemakaman umum, mencabut rumput liar, menyapu, serta merapikan nisan.

Kegiatan besik biasanya dilakukan pada pagi atau siang hari sebelum rangkaian acara inti dimulai. Warga desa atau anggota keluarga berkumpul dan bergotong royong membersihkan makam keluarga masing-masing maupun makam umum.

Secara makna, besik menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus refleksi diri. Membersihkan makam dipahami sebagai bentuk bakti kepada orang tua dan nenek moyang, sekaligus pengingat bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin menjelang Ramadan.

2. Tahlilan

Setelah kegiatan bersih makam selesai, rangkaian berikutnya adalah tahlilan. Tahlilan merupakan kegiatan pembacaan doa-doa, zikir, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditujukan untuk mendoakan arwah para leluhur agar memperoleh ampunan dan ketenangan.

Tahlilan biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa. Pelaksanaannya dapat dilakukan di area pemakaman setelah besik, atau di balai desa dan rumah warga sebagai bagian dari rangkaian acara bersama.

Secara religius, tahlilan menjadi bentuk doa kolektif masyarakat. Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai Islam dengan budaya lokal Jawa, di mana penghormatan terhadap leluhur tetap dilakukan dalam kerangka ajaran agama.

3. Kenduri

masyarakat jawa membawa tenong yang berisi makanan untuk kenduri dalam rangka tradisi nyadran | wikimedia commons
info gambar

masyarakat jawa membawa tenong yang berisi makanan untuk kenduri dalam rangka tradisi nyadran | wikimedia commons


Kenduri atau selamatan merupakan puncak dari rangkaian Nyadran. Dalam kegiatan ini, warga membawa makanan dari rumah masing-masing untuk didoakan bersama, kemudian dinikmati secara kolektif.

Jenis makanan yang dibawa biasanya berupa nasi tumpeng, ayam ingkung, aneka lauk pauk, dan jajanan tradisional. Setelah doa bersama selesai, makanan dibagikan dan dimakan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Kenduri biasanya dilaksanakan setelah tahlilan, baik pada hari yang sama maupun pada hari yang telah ditentukan secara khusus oleh masyarakat setempat. Selain sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, kenduri juga memperkuat hubungan sosial antarwarga.

4. Pagelaran Wayang Kulit

pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari prosesi nyadran - wikimedia commons
info gambar

pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari prosesi nyadran - wikimedia commons


Di beberapa daerah, tradisi Nyadran juga disertai dengan pagelaran wayang kulit. Pertunjukan ini biasanya dilakukan pada malam hari setelah kenduri sebagai bentuk hiburan sekaligus media penyampaian nilai moral dan ajaran kehidupan.

Wayang kulit dalam konteks Nyadran tidak sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya. Cerita-cerita yang dibawakan oleh dalang sering kali mengandung pesan etika, kebijaksanaan, dan refleksi kehidupan.

Tidak semua daerah menyelenggarakan pagelaran wayang kulit dalam Nyadran, namun di wilayah yang masih mempertahankannya, kegiatan ini menjadi bagian penting dari tradisi.

Waktu Pelaksanaan Nyadran

Tradisi Nyadran dilaksanakan pada bulan Sya’ban atau bulan Ruwah. Waktu pelaksanaannya bersifat fleksibel dan ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat setempat. Umumnya dilakukan pada pertengahan hingga akhir bulan Ruwah, beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadan.

Rangkaian kegiatan biasanya berlangsung dalam satu atau beberapa hari, tergantung pada tradisi lokal masing-masing daerah.

Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang terdiri dari empat kegiatan utama, yaitu besik atau bersih makam, tahlilan, kenduri, dan pagelaran wayang kulit. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Sya’ban atau Ruwah sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadan.

​Tradisi Nyadran membuktikan bahwa menghormati masa lalu adalah cara terbaik untuk melangkah ke masa depan. Dengan melakukan besik, tahlilan, dan kenduri, masyarakat tidak hanya menjaga lingkungan fisik, tetapi juga merawat silaturahmi dan nilai-nilai spiritual yang luhur.

Demikian informasi seputar makna nyadran dalam masyarakat Jawa. Semoga informasi ini dapat membantu Kawan. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.