nyadran serangkaian tradisi ziarah kubur masyarakat jawa jelang bulan ramadhan - News | Good News From Indonesia 2026

Nyadran, Serangkaian Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Jawa Jelang Bulan Ramadhan

Nyadran, Serangkaian Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Jawa Jelang Bulan Ramadhan
images info

Nyadran, Serangkaian Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Jawa Jelang Bulan Ramadhan


Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri untuk mempersiapkan diri. Persiapan itu tidak hanya dilakukan melalui ibadah personal, tetapi juga lewat tradisi sarat makna yang dikenal dengan sebutan Nyadran.

Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus persiapan menyambut Ramadhan, hingga hari ini Nyadran tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini menjadi pengingat tentang hubungan antara masa lalu, keyakinan, dan nilai kebersamaan yang dijaga dari generasi ke generasi.

Apa Itu Nyadran?

masyarakat jawa membawa tenong yang berisi makanan untuk kenduri dalam rangka tradisi nyadran | wikimedia commons
info gambar

masyarakat jawa membawa tenong yang berisi makanan untuk kenduri dalam rangka tradisi nyadran | wikimedia commons


Nyadran adalah tradisi ziarah kubur dan doa bersama yang dijalankan masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan persiapan spiritual menjelang Ramadhan.

Secara etimologis, Nyadran berasal dari kata sraddha dalam bahasa Sanskerta yang bermakna keyakinan atau penghormatan. Dalam perkembangan budaya Jawa, istilah ini kemudian dikenal sebagai sadranan atau ruwahan, merujuk pada waktu pelaksanaannya yang jatuh pada bulan Ruwah atau Syaban.

Dalam kajian akademik, Nyadran dipahami sebagai tradisi yang lahir dari proses panjang akulturasi budaya. Dalam jurnal bertajuk Nyadranan, Bentuk Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa dijelaskan bahwa Nyadran merupakan hasil pertemuan antara tradisi lokal Jawa dan ajaran Islam, di mana praktik budaya lama tetap dipertahankan, namun diisi dengan nilai-nilai keislaman seperti doa, zikir, dan tahlil.

Menelusuri Jejak Sejarah Nyadran

Tradisi Nyadran telah dikenal sejak masa sebelum Islam masuk ke Nusantara. Dalam sejarah Jawa kuno, tercatat ritual serupa bernama Sradha, yang pada abad ke-13 dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Pada masa itu, ritual ini bersifat terbatas dan sarat simbol kepercayaan Hindu-Budha.

Seiring perkembangan masyarakat dan masuknya Islam pada abad ke-15, tradisi tersebut mengalami perubahan. Dalam jurnal Nyadran: Bentuk Akulturasi Agama dengan Budaya Jawa dijelaskan bahwa para penyebar Islam di Jawa tidak menghapus tradisi penghormatan leluhur, melainkan menyelaraskannya dengan ajaran Islam.

Mantra dan sesaji perlahan digantikan dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, tahlil, zikir, dan doa. Dari sinilah Nyadran berkembang sebagai tradisi yang tetap berakar pada budaya, namun tidak bertentangan dengan nilai keagamaan masyarakat Muslim di tanah Jawa.

Kapan Tradisi Nyadran Dilaksanakan

Tidak ada satu tanggal tunggal yang berlaku untuk seluruh wilayah, karena Nyadran dilaksanakan berdasarkan kesepakatan dan kebiasaan masyarakat setempat. Namun pada umumnya, Nyadran dilakukan satu bulan sebelum Ramadhan, yakni pada bulan Ruwah atau Syaban. Di beberapa daerah, Nyadran dilaksanakan pada hari ke-10bulan Rajab, sementara wilayah lain melaksanakannya pada pertengahan bulan Ruwah, seperti tanggal 15, 20, atau 23. Ada pula masyarakat yang memilih awal atau akhir Syaban sebagai waktu pelaksanaan.

Perbedaan waktu ini tidak mengubah esensi tradisi. Nyadran tetap dimaknai sebagai penanda kesiapan masyarakat, baik secara batin maupun sosial, dalam menyambut bulan suci.

Makna dan Tujuan Tradisi Nyadran

ziarah kubur sebagai bagian dari prosesi nyadran | wikimedia commons
info gambar

ziarah kubur sebagai bagian dari prosesi nyadran | wikimedia commons


Di balik prosesi yang tampak sederhana, sejatinya Nyadran menyimpan makna yang mendalam. Tradisi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang kehidupan, kematian, dan hubungan antarmanusia.

Tujuan utama Nyadran adalah mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia, sekaligus mengingatkan bahwa setiap manusia akan kembali pada Sang Pencipta. Kesadaran ini menjadi bagian dari persiapan batin menjelang Ramadhan.

Selain itu, Nyadran juga berfungsi menjaga kebersamaan warga. Penelitian tentang tradisi Nyadran dalam karya ilmiah Tradisi Nyadran sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong Royong Masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan ini masih berperan penting dalam menjaga nilai gotong royong, kebersamaan, dan keharmonisan warga desa.

Prosesi Nyadran yang Umum Dilakukan

Meski berbeda di tiap daerah, rangkaian prosesi Nyadran umumnya mencakup beberapa tahapan berikut:

  1. Besik atau pembersihan makam
    Warga membersihkan makam leluhur secara gotong royong, mulai dari mencabut rumput hingga merapikan area pemakaman.

  2. Kirab atau arak-arakan
    Di sejumlah daerah, warga berjalan bersama menuju lokasi kegiatan sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.

  3. Ujub atau penyampaian maksud acara
    Tokoh adat atau sesepuh menyampaikan tujuan pelaksanaan Nyadran kepada seluruh peserta.

  4. Doa bersama
    Pembacaan doa, tahlil, dan ayat Al-Qur’an dipimpin tokoh agama sebagai inti dari prosesi.

  5. Kembul bujono dan tasyakuran
    Warga menikmati hidangan yang dibawa masing-masing keluarga, menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan.

Nyadran dalam Tinjauan Islam

Dalam Islam, ziarah kubur dan mendoakan orang yang telah meninggal merupakan amalan yang dikenal dan dibolehkan. Sejumlah kajian menyebut Nyadran sebagai bentuk ibadah sosial dan muamalah, selama praktiknya tidak mengandung unsur pemujaan selain kepada Allah SWT.

Jurnal Lentera dan Humanis menempatkan Nyadran sebagai tradisi budaya yang telah diisi nilai-nilai keislaman. Dengan demikian, Nyadran dipahami bukan sebagai ritual kepercayaan lama, melainkan sebagai bentuk doa, silaturahmi, dan refleksi diri yang dijalankan secara berkelompok.

Nyadran adalah cermin bagaimana tradisi lokal mampu bertahan tanpa kehilangan maknanya. Ia hidup di tengah masyarakat sebagai pengingat tentang asal-usul, kebersamaan, dan kesiapan menyambut Ramadhan. Di antara doa, ziarah, dan makan bersama, Nyadran menjadi penanda bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari cara masyarakat merawat nilai dan makna hidup hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RW
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.