pulau simeulue pulau yang selamat dari tsunami aceh 2004 - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004

Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004
images info

Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004


Adakah Kawan GNFI yang pernah mendengar soal Pulau Simeulue? Sebuah pulau kecil di lepas patau barat Aceh. Pulau ini terletak di Samudra Hindia dan merupakan satu kabupaten di bawah Provinsi Aceh, yakni Kabupaten Simeulue.

Berbicara soal Pulau Simeulue, ada hal unik yang tidak boleh luput dari bahasan. Pulau Simeulue adalah wilayah yang paling sedikit terdampak saat terjadi tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 2004, padahal jaraknya dekat dengan pusat gempa. Mengapa demikian?

Pulau Simeulue yang Selamat dari Gempa Aceh 2004

Melansir dari Museum Tsunami yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Aceh, pernah ada gempa bumi dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada tahun 1907. Saat itu, pusat gempanya ada di dekat Pulau Simeulue dengan estimasi magnitude sebesar 7,6-8,4 SR.

Bencana ini menyebabkan banyak sekali korban jiwa, utamanya di Pulau Simeulue. Lebih dari 1.800 orang Simeulue menjadi korban.

Gempa dan tsunami tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat sekitar. Mereka pun banyak belajar hal baru, utamanya terkait cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Peristiwa kelam inilah yang kemudian melahirkan kearifan lokal yang dikenal dengan “Smong”. Dalam bahasa setempat, kata tersebut berarti gelombang air laut.

Smong disampaikan melalui lisan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Cerita soal bencana hebat pada 1907 dikemas dengan berbagai kesenian tradisional Simeulue, seperti Nanga-nanga, Sikambang, dan Nandong.

Bahkan, potongan syair-syair Smong lumrah ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak Simeulue. Dalam senandung itu, ada lirik yang berbunyi;

“Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat, dataran tinggi agar selamat”.

Pesan ini sudah tertanam dalam diri masyarakat Simeulue sejak mereka masih kecil. Pada akhirnya, masyarakat berhasil mengubah rasa trauma itu dengan ilmu pengetahuan dan kewaspadaan yang dibalut dengan budaya hingga bisa menjadi bagian dari jati diri masyarakat Simeulue hingga kini.

Pelajaran berharga yang mereka ambil dari tsunami 1907 itu mampu menyelamatkan Simeulue dari amukan ombak besar yang menghantam Aceh pada 2004. Dibandingkan daerah lain di Aceh, Simeulue menjadi daerah dengan dampak korban jiwa yang sangat minim.

Saat itu, masyarakat yang sudah menyadari air laut surut segera naik ke dataran tinggi. Alhasil, banyak nyawa yang berhasil selamat. Dari total 250.000-an jiwa yang meninggal dan hilang di seluruh Aceh, jumlah korban jiwa di Simeulue dikabarkan tidak mencapai 10 orang.

Lebih dari Smong: Sisi Lain Simeulue

Selain soal Smong, ada hal menarik lain yang dimiliki Pulau Simeulue. Pulau yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Disadur dari situs resmi Desa Lakubang, salah satu desa di Kabupaten Simeulue, Islam di Simeulue dibawa oleh seorang ulama bernama Khailullah. Proses “mengislamkan” Simeulue itu merupakan saran yang diberikan langsung oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Alasan Sultan ingin Khailullah mengislamkan Simeulue adalah karena di masa itu pulau tersebut pernah dikuasai oleh Songsongbulu yang menyebarkan ajaran sesat. Pihak Khailullah dan Songsongbulu berperang dengan perjanjian, siapa yang kalah, maka ia harus minggat dari Simeulue.

Uniknya, alih-alih berperang dengan senjata, mereka justru berperang dengan memasak telur di dalam lautan. Singkatnya, Khailullah menang dan ia mengusir Songsongbulu. Akhirnya, pulau itu pun diislamkan, sesuai dengan titah Sultan.

Singkat cerita, Pulau Simeulue juga sempat dikuasai Belanda dan Jepang. Bahkan, di era jajahan Jepang, Simeulue dijadikan lokasi strategis untuk pertahanan. Jepang membangun sistem pertahanan di sana dan memberi pelatihan kemiliteran.

Setelah merdeka, Simeulue sempat berada di bawah “binaan” Aceh Barat. Namun, pada 1999, pulau ini dijadikan sebagai daerah otonom dan resmi menjadi Kabupaten Simeulue hingga saat ini.

Menariknya lagi, di masa konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia dulu, Pulau Simeulue aman dari konflik. Hal ini dikarenakan letaknya yang terpisah dari Aceh daratan, sekitar 150 km dari pantai barat Aceh.

Di sisi lain, karena terletak di kawasan Samudra Hindia, Pulau Simeulue memiliki ombak yang cukup kuat. Banyak peselancar dunia yang menjadikan Simeulue sebagai lokasi selancar mereka. Saking ikoniknya, ada yang menyebut Simeulue dengan “The Next Mentawai”.

Daerah ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Salah satu komoditas unggulannya adalah lobster.

Kawan GNFI, Pulau Simeulue mengajarkan bahwa kearifan lokal bukan hanya cerita masa lalu. Smong menjadi bukti bahwa pengetahuan yang dibalut dengan budaya mampu menyelamatkan ribuan warga Simeulue dari tsunami Aceh 2004. Smog juga bisa menjadi contoh sistem mitigasi bencana efektif yang bisa diajarkan dan diterapkan di daerah lain di Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.