melindungi kesehatan perempuan mengapa imbauan menjauhi pasangan perokok layak didukung - News | Good News From Indonesia 2026

Melindungi Kesehatan Perempuan: Mengapa Imbauan Menjauhi Pasangan Perokok Layak Didukung?

Melindungi Kesehatan Perempuan: Mengapa Imbauan Menjauhi Pasangan Perokok Layak Didukung?
images info

Melindungi Kesehatan Perempuan: Mengapa Imbauan Menjauhi Pasangan Perokok Layak Didukung?


Pernyataan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, yang menyarankan perempuan untuk tidak berpacaran dengan laki-laki perokok sempat menimbulkan perdebatan di ruang publik. Sebagian masyarakat menilai pernyataan tersebut terlalu mencampuri ranah pribadi, sementara sebagian lainnya menganggapnya berlebihan.

Namun, jika ditelaah lebih jauh dari sudut pandang kesehatan masyarakat, imbauan tersebut justru patut dipahami sebagai bentuk kepedulian negara terhadap kualitas hidup warganya, khususnya perempuan sebagai kelompok yang rentan terhadap dampak rokok.

Kawan GNFI, rokok bukan sekadar soal pilihan gaya hidup individu. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa konsumsi tembakau menyebabkan lebih dari delapan juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,3 juta kematian dialami oleh non-perokok akibat paparan asap rokok atau secondhand smoke. Paparan ini terbukti meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan kronis. Fakta ini menegaskan bahwa rokok merupakan persoalan kesehatan publik yang dampaknya tidak berhenti pada perokok itu sendiri.

Dalam konteks hubungan pacaran, risiko paparan asap rokok justru semakin besar. Hubungan romantis melibatkan kedekatan emosional dan fisik yang intens, sehingga pasangan perokok hampir tidak memberi ruang aman bagi pasangannya dari asap rokok.

Di Indonesia, mayoritas perokok aktif adalah laki-laki, sementara perempuan sering kali berada pada posisi sebagai penerima dampak. Banyak perempuan terpapar asap rokok di ruang privat seperti rumah, kendaraan, atau tempat nongkrong bersama pasangan. Kondisi ini kerap dianggap wajar, padahal risiko kesehatan yang ditimbulkan bersifat nyata dan jangka panjang.

Budaya merokok yang telah lama dinormalisasi di masyarakat turut memperparah situasi tersebut. Merokok sering diasosiasikan dengan maskulinitas, kedewasaan, atau bentuk penerimaan sosial. Akibatnya, kebiasaan ini jarang dipertanyakan secara kritis, terutama dalam relasi personal.

Dalam hubungan pacaran, tidak sedikit perempuan yang merasa sungkan atau tertekan untuk menegur kebiasaan merokok pasangan karena khawatir dianggap berlebihan atau merusak keharmonisan hubungan. Pada titik inilah relasi personal dapat menjadi ruang yang justru memperbesar risiko kesehatan.

Dalam situasi seperti ini, pernyataan Menteri Kesehatan menjadi relevan dan penting. Negara memang tidak memiliki kewenangan untuk menentukan dengan siapa seseorang harus menjalin hubungan.

Namun, negara memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi dan peringatan berbasis data ketika suatu kebiasaan terbukti membahayakan kesehatan masyarakat. Imbauan agar perempuan tidak berpacaran dengan perokok seharusnya dipahami sebagai ajakan untuk lebih sadar risiko dan berani menempatkan kesehatan sebagai pertimbangan utama dalam relasi personal, bukan sebagai larangan mutlak yang bersifat mengatur secara paksa.

Kawan, pernyataan tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap toleransi sosial yang selama ini terlalu longgar terhadap budaya merokok. Dengan membawa isu rokok ke dalam konteks hubungan personal, pesan kesehatan menjadi lebih dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Laki-laki perokok diingatkan bahwa kebiasaan mereka tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada pasangan, keluarga, dan lingkungan terdekat. Pendekatan ini berpotensi mendorong refleksi dan perubahan perilaku yang lebih efektif dibandingkan sekadar aturan formal yang sering kali sulit menjangkau ruang privat.

Mendukung imbauan Menteri Kesehatan berarti mendukung pendekatan pencegahan yang berbasis kesadaran dan perlindungan kelompok rentan. Perempuan perlu mendapatkan legitimasi sosial untuk mempertimbangkan aspek kesehatan dalam menjalin hubungan tanpa rasa bersalah.

Relasi yang sehat seharusnya tidak hanya dibangun atas dasar perasaan, tetapi juga atas dasar kepedulian terhadap keselamatan dan kesejahteraan bersama. Menghindari pasangan perokok dapat menjadi bentuk perlindungan diri yang rasional dan sah.

Pada akhirnya, imbauan agar perempuan tidak berpacaran dengan perokok bukanlah upaya mengontrol kehidupan pribadi, melainkan peringatan akan risiko kesehatan yang selama ini sering diabaikan.

Di tengah tingginya prevalensi perokok dan kuatnya budaya merokok di Indonesia, pesan yang tegas dan langsung memang dibutuhkan untuk menggugah kesadaran publik. Mendukung pernyataan ini berarti menegaskan bahwa kesehatan adalah nilai fundamental yang layak diprioritaskan dalam setiap relasi personal, demi masa depan yang lebih sehat dan berkualitas.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.