ini juga keluarga kita cerita chef prancis di dapur pengungsian cisarua - News | Good News From Indonesia 2026

“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua

“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua
images info

“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua


“Ini bukan soal negara atau bahasa. Ini soal manusia,” kata David.

Seorang executive chef asal Prancis, David Caileba, turun ke dapur umum pengungsian Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Perannya bukan tamu, pengamat, ahli gizi, atau pengawas. David adalah relawan yang sama-sama bekerja dengan para relawan lain di dapur darurat milik Kementerian Sosial.

Dapur umum itu berada di halaman SD Negeri Pasirlangu. Sekolah dasar tersebut dialihfungsikan sementara jadi dapur umum untuk mendukung kebutuhan para pengungsi korban longsor.

Di sana, David turut serta menyiapkan ribuan porsi makanan untuk para penyintas. Ia terlibat langsung dalam proses memasak, mulai dari menyiapkan bahan hingga memastikan makanan siap dibagikan kepada warga terdampak.

baca juga

Keputusan David untuk ke Cisarua bukan tiba-tiba atau tanpa alasan. Informasi tentang kebutuhan relawan dapur ia peroleh dari grup WhatsApp Indonesian Chef Association (ICA).

“Awalnya saya lihat informasi di grup, katanya butuh relawan untuk masak di sini,” ujar David, dikutip dari Kompas.com.

Jarak rumahnya di Dayeuhkolot ke lokasi bencana sekitar 33 kilometer. Tidak dekat sih, tapi masih masuk akal untuk ditempuh, bahkan saat hujan dan banjir menghalangi.

“Kalau tidak bisa lewat, saya pakai motor hingga 33 km untuk sampai di sini. Kadang hujan dan banjir, tetapi tidak apa-apa,” katanya.

baca juga

Sebenarnya, siapa David Caileba?

Dalam keseharian profesionalnya, David adalah executive chef di hotel bintang lima. Posisi ini merujuk pada kepala dapur yang lebih banyak mengatur sistem, standar menu, hingga manajemen tim.

Chef David Caileba jadi relawan di dapur umum SD Negeri Pasirlangu
info gambar

Chef David Caileba jadi relawan di dapur umum SD Negeri Pasirlangu © kompas.com


 

Nah, di Cisarua, ia memastikan menu makanan bervariasi agar pengungsi tidak bosan. Setiap hari, dapur umum Cisarua menyiapkan sekitar 2.100 paket makanan. Proses memasak dilakukan satu kali untuk setiap waktu makan.

Kadang dapur menyajikan ayam saus Inggris, ayam bumbu manis, terong balado, dan sambal. Di hari lain, bahkan sempat ada tortilla khas Spanyol.

“Menunya beda-beda setiap hari. Kemarin bahkan ada tortilla khas Spanyol,” ujar David.

baca juga

Meski berlatar kuliner Barat, David menyesuaikan masakannya. Ia pun sengaja membatasi penggunaan cabai walaupun ia paham masyarakat Indonesia gemar dengan rasa pedas.

“Saya masak makanan yang sehat saja. Jangan terlalu banyak cabai, saya khawatir nanti masyarakat banyak yang harus antre ke toilet,” katanya.

Sebab, di dapur darurat, isu utama adalah sanitasi. Sanitasi berarti kebersihan lingkungan sekaligus kebersihan peralatan agar makanan aman dikonsumsi. David memberi perhatian khusus pada hal ini.

Ia pun mengapresiasi relawan dan petugas yang menjaga kebersihan dapur. Mulai dari alur bahan mentah, pengolahan, hingga distribusi.

baca juga

Bukan Pengalaman Pertama Menolong, tapi Pertama di Zona Bencana

Sebelum datang ke Cisarua, David sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan sosial. Selama dua bulan terakhir, ia rutin membuat roti dan makanan untuk program Jumat Berkah di sejumlah wilayah di Bandung. Aktivitas itu ia lakukan secara berkala, di luar pekerjaannya sebagai chef profesional.

Namun, pengalaman di Pasirlangu adalah kali pertama ia terjun langsung di lokasi bencana.

“Ini bukan soal negara atau bahasa. Ini soal manusia,” kata David.

Baginya, para penyintas bukan orang asing. Ia melihat mereka sebagai bagian dari keluarga besar yang sedang tertimpa musibah.

“Ini juga keluarga kita ya yang ada di bencana ini,” tambahnya.

baca juga

Dedikasi David mendapat apresiasi dari Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Bandung Barat, Rukanda Koswara. Menurut Rukanda, kontribusi David tidak hanya terlihat di dapur.

“Selain masak, beliau ini mencari donasi donatur untuk keperluan dapur,” ujar Rukanda.

Bagi dapur umum Pasirlangu, dukungan semacam itu terasa nyata saat bahan bisa kembali diolah dan makanan tetap dibagikan sesuai jadwal. David pun berencana bertahan di lokasi hingga operasi penanganan bencana dinyatakan selesai.

“Insyaallah kalau bisa sampai selesai, mungkin 10 hari lagi,” ujarnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.