Ada cerita-cerita yang terasa seperti fiksi, tetapi terlalu akrab untuk disebut rekaan. Re dan Perempuan karya Maman Suherman berada di titik itu.
Buku ini tidak berteriak, tidak menggurui, tetapi pelan-pelan mengajak pembaca menyadari satu hal: banyak luka perempuan tumbuh dalam keseharian yang kita anggap biasa.
Perempuan dalam Cerita yang Tidak Sensasional
Maman Suherman menulis perempuan tanpa dramatisasi berlebihan. Tidak ada heroisme kosong, tidak pula romantisasi penderitaan. Perempuan-perempuan dalam buku ini hidup, mencinta, bertahan, dan terluka dengan cara yang sederhana: justru karena itu terasa nyata.
Mereka menghadapi relasi yang timpang, tuntutan untuk selalu mengalah, dan ekspektasi sosial yang sering kali tidak memberi ruang bagi suara perempuan sendiri. Ini adalah potret yang diam-diam kita kenal, karena ia juga hadir di sekitar kita hari ini.
Ketika Luka Menjadi Bagian dari Rutinitas
Salah satu kekuatan Re dan Perempuan terletak pada caranya menampilkan luka sebagai sesuatu yang kerap dinormalisasi. Luka emosional, pengabaian, dan relasi yang tidak setara tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi meninggalkan dampak yang sama panjangnya.
Kondisi ini relevan dengan kehidupan sehari-hari sosial perempuan saat ini. Banyak perempuan masih belajar bertahan di tengah budaya yang menuntut mereka untuk kuat, sabar, dan diam—bahkan ketika situasi tidak adil.
Patriarki yang Hadir Tanpa Nama
Buku ini tidak secara eksplisit menyebut patriarki, tetapi kehadirannya terasa di hampir setiap cerita. Perempuan dihadapkan pada pilihan-pilihan sempit, sementara beban moral sering kali dibebankan sepenuhnya kepada mereka.
Dalam kehidupan nyata, pola ini masih terus berulang. Perempuan kerap disalahkan atas relasi yang gagal, kekerasan yang dialami, atau pilihan hidup yang tidak sesuai norma. Apa yang dialami Re terasa seperti refleksi dari sistem sosial yang belum benar-benar berpihak.
Kesunyian yang Terlalu Umum
Kesunyian menjadi benang halus yang mengikat kisah-kisah dalam Re dan Perempuan. Bukan karena tidak ada yang ingin bicara, tetapi karena tidak selalu ada ruang yang aman untuk didengar.
Hari ini, ketika isu kekerasan berbasis gender dan kesehatan mental perempuan mulai lebih sering dibicarakan, buku ini mengingatkan bahwa keberanian untuk bercerita belum tentu disambut dengan empati. Banyak perempuan masih harus memilih diam agar tetap diterima.
Mengapa Buku Ini Masih Relevan?
Re dan Perempuan menunjukkan bahwa pengalaman personal perempuan selalu memiliki dimensi sosial. Cerita-cerita di dalamnya terasa relevan bukan karena mengikuti tren, melainkan karena persoalan yang diangkat belum selesai.
Buku ini mengajak pembaca untuk lebih peka: bahwa di balik cerita yang tenang, ada kehidupan sehari-hari yang perlu disadari bersama. Bukan untuk mengasihani perempuan, melainkan untuk memahami dan memperbaiki sistem yang membuat luka itu terus berulang.
Bagaimana Media Kerap Menyorot Perempuan?
Media sering menjadi pintu pertama publik mengenal sebuah peristiwa. Namun, dalam banyak kasus yang melibatkan perempuan, cara media bercerita kerap menyederhanakan kenyataan. Perempuan lebih sering ditampilkan sebagai korban, objek simpati, atau sekadar pelengkap cerita, sementara pengalaman dan suara mereka tidak selalu mendapat ruang yang utuh.
Data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 445 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat di Indonesia, dengan sebagian besar terjadi di ranah personal seperti relasi pasangan dan keluarga. Angka ini memberi gambaran bahwa isu perempuan bukan peristiwa langka, melainkan kenyataan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam pemberitaan kasus kekerasan, fokus media sering berhenti pada kronologi dan sensasi peristiwa. Identitas korban dibahas, latar pribadinya disorot, bahkan pilihan hidupnya dipertanyakan. Tanpa disadari, sudut pandang seperti ini menggeser perhatian dari persoalan utama: hubungan yang tidak seimbang yang timpang dan sistem sosial yang membuat perempuan rentan.
Berbagai kajian media menunjukkan bahwa perempuan masih sering digambarkan sebagai pihak yang pasif atau lemah dalam berita, terutama ketika menjadi korban. Cara pemberitaan seperti ini perlahan membentuk persepsi publik bahwa perempuan adalah objek peristiwa, bukan subjek dengan suara dan kemampuan untuk bersuara dan menentukan pilihan.
Cara media bercerita menjadi penting karena ia memengaruhi cara kita memahami kehidupan sehari-hari. Ketika perempuan terus digambarkan sebagai korban semata, masyarakat cenderung berhenti pada rasa iba, bukan dorongan untuk memahami akar masalah dan mendorong perubahan.
Di titik inilah Re dan Perempuan menawarkan pendekatan yang berbeda. Buku ini tidak mengeksploitasi luka atau menjadikannya tontonan. Cerita disampaikan dengan empati, memberi ruang bagi perempuan untuk hadir sebagai manusia utuh, bukan sekadar angka atau judul berita.
Jika media mau belajar dari cara bertutur yang lebih pelan dan manusiawi seperti ini, kisah tentang perempuan tidak akan berhenti pada siapa yang terluka, tetapi juga mengajak publik memahami mengapa luka itu terjadi dan apa yang bisa diperbaiki bersama.
Pada akhirnya, Re dan Perempuan mengingatkan kita bahwa perempuan hidup dengan cerita yang sering kali luput dari perhatian, baik dalam keseharian maupun dalam pemberitaan media. Membacanya berarti belajar untuk mendengar lebih pelan, memahami lebih dalam, dan tidak tergesa memberi penilaian. Dari sana, empati bisa tumbuh, dan perubahan mungkin dimulai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


