kesetaraan atau kebebasan tanpa arah menafsir ulang peran perempuan di zaman modern - News | Good News From Indonesia 2026

Kesetaraan atau Kebebasan Tanpa Arah: Menafsir Ulang Peran Perempuan di Zaman Modern

Kesetaraan atau Kebebasan Tanpa Arah: Menafsir Ulang Peran Perempuan di Zaman Modern
images info

Kesetaraan atau Kebebasan Tanpa Arah: Menafsir Ulang Peran Perempuan di Zaman Modern


Di era ketika seorang perempuan di media sosial sering dipuji karena “tidak membutuhkan laki-laki” dan mampu hidup mandiri dengan karier yang melejit, muncul satu pertanyaan sederhana: apakah kemandirian sejati berarti berjalan sendiri, atau justru memahami bahwa kebersamaan yang seimbang juga bagian dari kekuatan?

Fenomena ini semakin terlihat ketika sebagian perempuan menganggap laki-laki sebagai “trash of man,” atau ketika muncul narasi seperti “marriage is scary,” yang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan karena laki-laki dipersepsikan lebih dominan hanya karena perannya sebagai pencari nafkah.

Akibatnya, sebagian perempuan memilih untuk menolak pernikahan karena takut kehilangan kebebasan atau merasa akan dituntut oleh pasangannya. Padahal, dalam pandangan yang lebih utuh, pernikahan bukan soal siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang dua insan yang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing untuk saling melengkapi.

Peran Gender yang Seimbang dalam Islam dan Konteks Modern

Peran gender pada dasarnya bersifat netral dan setara. Namun, dalam konteks sosial budaya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, pandangan ini harus disesuaikan dengan nilai agama dan budaya lokal.

Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam hal kemuliaan dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT, namun memiliki peran yang berbeda sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Di era digital yang serba cepat ini, berbagai konten dengan narasi seperti “I don’t need a man to be happy” atau “marriage is scary” sering kali mendapat jutaan penonton dan menjadi simbol kebebasan modern yang baru.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media dapat membentuk persepsi ekstrem di masyarakat, di mana keberhasilan perempuan sering diukur dari sejauh mana ia dapat menandingi laki-laki dalam materi, karier, dan pencapaian lainnya, bukan dari bagaimana ia menemukan keseimbangan dalam menjalankan peran dan nilai dalam dirinya.

Pandangan seperti ini turut memunculkan stigma terhadap perempuan yang memilih peran domestik. Mereka sering dianggap tertinggal dan bergantung pada suami, padahal peran tersebut juga merupakan bentuk pengabdian yang bernilai tinggi dalam pandangan Islam maupun sosial.

Islam sebagai Pedoman Kehidupan yang Relevan

Dalam pandangan Islam, keseimbangan antara peran laki-laki dan perempuan bukanlah tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih kuat, melainkan tentang bagaimana keduanya saling melengkapi sesuai dengan fitrah dan tanggung jawab yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Laki-laki dan perempuan bukan dua pihak yang saling bersaing, melainkan dua bagian dari satu kesatuan yang diciptakan untuk saling mendukung dalam menjalankan peran hidup dan ibadah.

Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam berbagai aspek, seperti musyawarah, pekerjaan, pendidikan, dan politik. Namun, dalam konteks kehidupan berkeluarga, Islam menempatkan laki-laki sebagai qawwam, pelindung dan penanggung jawab keluarga, sedangkan perempuan berperan menjaga, mendidik, serta mengelola kehidupan rumah tangga dengan kasih sayang. Pada hakikatnya, Islam tidak menempatkan perempuan sebagai bawahan suami, tetapi lebih condong pada perannya dalam mendorong suami demi tujuan keselarasan bersama.

Adaptasi Islam di Era Modern

صالح لكل زمان ومكان (saaliḥ li kulli zaman wa makan) dalam kaidah fikih, islam sangat relevan untuk setiap waktu dan tempat. Menurut Quraish shihab, nilai islam tidak pernah ketinggalan zaman, karena yang harus diubah itu bukan ajarannya tetapi cara manusia memahami dan mengamalkannya sesuai konteks sosial yang terus berubah.

Islam tidak pernah menempatkan perempuan di bawah laki-laki, tetapi memberikan peran yang sesuai kodrat dan tanggung jawabnya agar tercipta sebuah keharmonisan dalam kehidupan. Perempuan zaman sekarang bisa tetap aktif dalam pendidikan ataupun pekerjaan selama tetap menjaga nilai moral, menjaga kehormatan dan keseimbangannya dalam keluarga.

Dengan adanya modernitas, tidak harus diartikan sebagai kebebasan diri dari nilai agama, justru menajdi kesempatan untuk membuktikan bahwa islam mampu hidup ditengan perubahan zaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.