Jalan TB Simatupang merupakan salah satu jalan utama di Jakarta yang menghubungkan wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan serta daerah penyangga seperti Depok dan Bogor.
Jalan ini juga menjadi jalur penting bagi masyarakat yang hendak menuju luar Jakarta melalui Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR).
Aktivitas ekonomi di sepanjang koridor jalan ini terus meningkat seiring pertumbuhan kota Jakarta ke arah selatan.
Seiring waktu, Jalan TB Simatupang berkembang menjadi kawasan strategis sekaligus salah satu titik kemacetan di Jakarta. Kepadatan lalu lintas umumnya terjadi pada jam berangkat kerja di pagi hari dan jam pulang kerja pada sore hingga malam hari.
Di balik perkembangannya yang pesat, Jalan TB Simatupang menyimpan sejarah yang berkaitan dengan perluasan wilayah Jakarta serta perubahan fungsi kawasan dari daerah pinggiran menjadi pusat aktivitas ekonomi baru di ibu kota.
Asal-Usul Nama TB Simatupang
Nama Jalan TB Simatupang diambil dari tokoh militer Indonesia, Tahi Bonar Simatupang, seorang perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia yang memiliki peran penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dan dikenal sebagai salah satu tokoh militer yang berkontribusi dalam konsolidasi pertahanan negara setelah Indonesia merdeka.
Selain berkiprah di dunia militer, TB Simatupang juga dikenal sebagai pemikir yang aktif dalam bidang sosial, politik, dan pembangunan nasional.
Penamaan jalan ini menjadi bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa. Oleh karena itu, namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan utama di Jakarta.
Awal Pembangunan Jalan
Pada masa awal pembangunannya, kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan TB Simatupang masih merupakan daerah pinggiran Jakarta. Wilayah ini didominasi oleh lahan kosong, area perkebunan, serta permukiman dengan tingkat kepadatan yang relatif rendah.
Perkembangan kawasan tersebut mulai terlihat pada akhir abad ke-20 ketika pemerintah mulai memperluas pembangunan infrastruktur dan jaringan jalan di wilayah selatan Jakarta.
Perluasan tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan kota yang semakin pesat sekaligus mengurangi tekanan kepadatan di pusat kota.
Pembangunan Jalan TB Simatupang juga berkaitan erat dengan pengembangan Jakarta Outer Ring Road atau Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR). Infrastruktur ini dirancang sebagai jalur penghubung antarkawasan di sekitar Jakarta serta menjadi jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan di pusat kota.
Kehadiran jalan tol tersebut kemudian mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.
Perkembangan Menjadi Kawasan Bisnis
Memasuki dekade 1990-an hingga awal 2000-an, kawasan di sepanjang Jalan TB Simatupang mulai berkembang pesat. Banyak perusahaan nasional maupun multinasional membangun kantor pusat maupun kantor cabang di sepanjang jalan ini.
Perkembangan tersebut didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain:
Lokasi yang strategis serta terhubung langsung dengan jaringan tol JORR
Akses yang mudah menuju berbagai wilayah seperti Jakarta Selatan serta kawasan penyangga di selatan Jakarta seperti Depok dan Bogor
Ketersediaan lahan yang lebih luas dibandingkan kawasan bisnis lama di pusat kota
Pembangunan infrastruktur transportasi dan fasilitas perkotaan yang terus berkembang
Seiring waktu, kawasan ini kemudian dikenal sebagai salah satu pusat bisnis baru di Jakarta. Berbagai gedung perkantoran modern, pusat pendidikan, rumah sakit, serta fasilitas komersial berdiri di sepanjang jalan ini.
Penyebab Kemacetan TB Simatupang
Pada awalnya TB Simatupang tidak dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi. Jalan ini dibangun sebagai jalur arteri yang berfungsi mengurai lalu lintas, kawasan konservasi, daerah resapan air di Jakarta, serta kawasan hunian.
Jika merujuk pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), koridor TB Simatupang sebenarnya ditetapkan sebagai kawasan mixed use atau kawasan dengan fungsi campuran.
Namun, infrastruktur jalan yang ada sejak awal tidak dirancang untuk menampung volume kendaraan yang sangat tinggi seperti kondisi saat ini.
Seiring berkembangnya kawasan menjadi pusat perkantoran dan aktivitas bisnis, jumlah kendaraan yang melintas terus meningkat dari tahun ke tahun.
Jalan TB Simatupang juga menjadi jalur penting bagi kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju wilayah penyangga seperti Depok dan Bogor maupun sebaliknya. Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi, terutama pada jam berangkat kerja di pagi hari dan jam pulang kerja pada sore hingga malam hari.
Selain itu, jalan ini hanya memiliki dua ruas utama sehingga kapasitasnya terbatas untuk menampung arus kendaraan yang semakin meningkat.
Pesatnya pembangunan gedung perkantoran, pusat pendidikan, serta fasilitas komersial di sepanjang jalan juga menambah beban lalu lintas di kawasan ini.
Bahkan, karena tingginya aktivitas bisnis yang berkembang di sekitarnya, kawasan TB Simatupang sempat disebut sebagai salah satu central business district (CBD) baru di wilayah selatan Jakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


