17 Agustus 1945, proklamasi dibacakan dan Indonesia merdeka. Namun, bayang-bayang kolonial Belanda masih menyelimuti. Ancaman dan tekanan dari Belanda serta Inggris masih dirasakan oleh rakyat Indonesia.
Meski sudah merdeka, Belanda masih memiliki ambisi untuk menguasai Indonesia. Agresi Militer Belanda yang dijalankan tidak melemahkan kekuatan rakyat, justru semakin kuat. Rakyat Indonesia melawan dan terus bertahan, karena tidak ingin dijajah kembali.
Sebagai pengingat sejarah perjuangan dan pengorbanan rakyat demi kemerdekaan Indonesia, berikut penjelasan sejarah pembantaian Rawagede yang bisa Kawan GNFI simak!
Sejarah Pembantaian Rawagede
Dilansir dari artikel dengan judul Tragedi Rawagede: 1 Hari Tahun 1947 (Syadiyah, 2022), setelah dinyatakan merdeka, Indonesia membuat lembaga yang memiliki tugas untuk memberikan keamanan untuk rakyat, bukan lagi sebagai angkatan perang.
Badan Keamanan Rakyat dibentuk dengan beranggotakan para mantan tentara PETA, KNIL, dan Heiho. Kemudian secara resmi berganti nama menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI), pada tanggal 24 Januari 1946.
TRI kemudian mendirikan 10 divisi yang di berbagai daerah dalam wilayah Jawa dan Sumatra. Divisi yang tersebar di Jawa Barat, membentuk satu divisi bernama Divisi Siliwangi dengan Desa Rawagede sebagai salah salah satu markasnya.
Letak desanya strategis, dekat daerah kereta api yang menghubungkan Karawang dengan Rengasdengklok yang menjadi wilayah penting untuk memata-matai Belanda. Banyak juga stasiun yang menghubungkan Rawagede dengan Jakarta dan Bandung sebagai kota besar. Desa Rawagede juga merupakan desa yang pro-republik.
Divisi Siliwangi dianggap mengganggu Belanda dalam proses penaklukan Jawa Barat. Ditambah dengan kekesalan Belanda kepada Kapten Lukas Kustaryo sebagai komando kompi Divisi Siliwangi, yang telah melakukan banyak penyerangan ke markas militer Belanda. Belanda berusaha untuk melakukan penyerbuan terhadap markas-markas TRI di Jawa Barat.
Pada tanggal 9 Desember 1947, Belanda berangkat menuju Desa Rawagede untuk menghancurkan desa tersebut karena diduga sebagai markas TRI. Adapun tujuan utamanya untuk mencari Kapten Lukas. Dalam kondisi hujan deras, Belanda berhasil mengepung Desa Rawagede.
Saat berhasil masuk ke halaman warga, penggeledahan dan pengumpulan laki-laki di seluruh desa dilakukan, dengan tujuan untuk menemukan Kapten Lukas dan para pengikutnya.
Laki-laki yang dikumpulkan di luar halaman, ditanyai satu-persatu mengenai keberadaan Kapten Lukas. Seluruh warga kompak diam untuk merahasiakan hal tersebut.
Melihat sikap tersebut, pimpinan militer Belanda marah dan mulai menembaki laki-laki yang sedang berkumpul dengan kejam. Banyak yang mencoba bersembunyi, tetapi tetap ditemukan oleh bantuan anjing pelacak Belanda. Tembakan keji dan pembantaian terus dilakukan. Hampir seluruh wilayah desa Rawagede dipenuhi oleh mayat.
Keesokan harinya, seluruh penduduk desa yang selamat memberanikan diri untuk keluar dari rumah dan melakukan penguburan bagi para korban.
Hari itu, 431 orang menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh Belanda. Peristiwa ini menjadi sejarah kelam pascakemerdekaan yang harus selalu diingat sebagai bagian dari perjuangan rakyat.
Monumen Perjuangan Rawagede dan Taman Makam Sampurna Raga
Tempo menuliskan, kompleks Taman Makam Sampurna Raga dibuat pada tahun 1951, pada tanggal 10 November 1951 dengan inisiatif dari Bupati Tohir Mangkudijaya, dibuatkan makam berjumlah 431, kemudian direnovasi pada tahun 1995.
Bersamaan dengan renovasi, sebuah monumen sebagai tanda atas telah terjadinya tragedi yang menjadi sejarah dan untuk meneruskan jejak kegigihan masyarakat saat mempertahankan kemerdekaan. Monumen Perjuangan Rawagede dan Taman Makam Sampurna Raga diresmikan pada tahun 1996.
Monumen Perjuangan Rawagede beserta dengan Taman Makam Sampurna Raga yang berada dalam satu kompleks, telah ditetapkan menjadi cagar budaya peringkat kabupaten. Melalui Surat Keputusan Bupati Karawang Nomor 423/Kep.539-Huk/2023.
Saat ini Desa Rawagede telah berganti nama menjadi Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, kabupaten Karawang, Jawa Barat. Monumen Perjuangan Rawagede dan Taman Makam Sampurna Raga bisa dikunjungi pada alamat tersebut.
Monumen Perjuangan Rawagede dan Taman Makam Sampurna Raga bukan hanya menjadi pengingat perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, tetapi sebagai bukti penjajahan dengan segala kekejamannya harus dihapuskan dari dunia.
Apakah Kawan GNFI tertarik untuk berkunjung ke Monumen Perjuangan Rawagede dan Taman Makam Sampurna Raga?


