mendirikan pesantren tanpa nasab kiai kisah keyakinan kh nurcholis misbah bangun pesantren modern al amanah junwangi - News | Good News From Indonesia 2026

Mendirikan Pesantren Tanpa Nasab Kiai: Kisah Keyakinan KH Nurcholis Misbah Bangun Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi

Mendirikan Pesantren Tanpa Nasab Kiai: Kisah Keyakinan KH Nurcholis Misbah Bangun Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi
images info

Mendirikan Pesantren Tanpa Nasab Kiai: Kisah Keyakinan KH Nurcholis Misbah Bangun Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi


Memang benar, banyak pesantren besar di Indonesia lahir dari jaringan keluarga kiai. Akan tetapi, ini lebih karena faktor legitimasi sosial dan keberlanjutan tradisi, bukan karena aturan formal.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, tidak ada satu pun pasal yang mensyaratkan pendiri pesantren harus berasal dari keluarga kiai.

Landasan inilah yang menjadi rujukan bagi KH Nurcholis Misbah mendirikan pesantren. Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo yang didirikan tidak lahir dari kekuatan modal, nama besar, atau trah kiai ternama. Ia membangun pesantren hanya bermodalkan keyakinan.

“Modal mendirikan pesantren ini adalah keyakinan. Sehingga banyak orang yang pada saat itu berkomunikasi dengan saya tidak yakin saya bisa sukses mendirikan pesantren,” katanya.

baca juga

Tanpa Modal Materi, Tanpa Nasab Kiai

Dalam tradisi pesantren, ada aturan tak tertulis. Seorang pendiri pesantren biasanya memiliki tiga hal, yakni ilmu agama yang diakui luas, dukungan dana yang kuat, dan nasab kiai. KH Nurcholis Misbah secara terbuka mengakui tidak memiliki ketiganya.

Secara ekonomi, ia dan istrinya pun hidup dalam kondisi sulit. Dalam kondisi itu, KH Nurcholis Misbah kerap diragukan. Bahkan, ia sempat dianggap terlalu tinggi berangan-angan.

“Orang tau saya bukan seorang kiai. Kalau pun pernah mengajar ngaji, ibu saya hanya mengajar anak-anak kecil di kampung.. Ketika semua tidak yakin, saya hanya punya keyakinan. Ini yang saya jaga agar tetap ada,” tuturnya, dikutip dari NU Online.

baca juga

Sepeda Mini Jadi Modal Awal

Keyakinan itu kemudian menjadi kekuatan untuk memulai sebuah tindakan. Berbekal sepeda mini, KH Nurcholis Misbah mengajak anak muda dan orang tua untuk mengaji. Ia tidak menunggu fasilitas lengkap.

“Sehingga saya selalu punya inisiatif. Salah satu kekuatan pesantren ini adalah kolaboratif yang muncul dari inisiatif,” katanya.

Kolaboratif di sini berarti terbuka pada gagasan pesantren lain. Bukan meniru mentah-mentah, tetapi menyerap ide, lalu menyesuaikan dengan konteks lokal.

KH Nurcholis Misbah menyebut, Al-Amanah terinspirasi dari banyak pesantren yang pernah ia kunjungi, seperti Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Lirboyo, dan Gontor Ponorogo.

“Dari pesantren yang saya kunjungi itulah muncul gagasan, inisiatif dan inovasi buah dari keyakinan.”

baca juga

Titik Paling Bawah: Satu Santri, Rumah Kontrakan

“Mulai dari titik paling bawah,” katanya

Saat masih merintis pesantren, ia mengontrak sebuah rumah. Santrinya hanya satu orang dan belum ada masjid seperti sekarang. Dalam kondisi tersebut, datang seorang tamu yang mengaku sebagai duta besar.

Tamu tersebut bertanya, apakah KH Nurcholis Misbah ingin perguruan tinggi atau masjid. KH Nurcholis Misbah pun menjawab masjid. Mereka lalu diajak salat dan berdoa. Satu bulan kemudian, ada pihak yang mewakafkan masjid sekaligus membiayai keberangkatan haji.

baca juga

Dari Satu Santri Menjadi 2.500 Santri

Hari ini, Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi menaungi sekitar 2.500 santri. Pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 20.000 meter persegi. Luas bangunannya sekitar 10.000 meter persegi. Al-Amanah juga berkembang dengan beberapa cabang di Wonosalam, Terungkulon Krian, dan Kediri.

Al-Amanah dikenal sebagai Pesantren Modern. Pesantren Modern dalam konteks ini merujuk pada penggabungan sistem klasik pesantren dengan pendidikan formal dan keterampilan modern.

baca juga

Pesantren Modern Al-Amanah memliki berbagai jenjang pendidikan hingga program unggulan, di antaranya SMP Bilingual Terpadu, Madrasah Aliyah Bilingual, Program Tahfidz, dan Program Kutubu at-Turats.

Kutubu at-Turats adalah kajian kitab-kitab klasik Islam yang menjadi rujukan utama keilmuan pesantren tradisional. Sementara sistem bilingual bertujuan melatih santri menguasai bahasa asing sejak dini.

Semua ini dirangkai dalam kerangka Panca Jiwa Santri, di antaranya kesempurnaan iman, keikhlasan amal, kemuliaan akhlak, keunggulan prestasi, dan kepekaan sosial.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.