java eiland pulau jawa versi belanda di tengah kota amsterdam - News | Good News From Indonesia 2026

Java Eiland, “Pulau Jawa” versi Belanda di Tengah Kota Amsterdam

Java Eiland, “Pulau Jawa” versi Belanda di Tengah Kota Amsterdam
images info

Java Eiland, “Pulau Jawa” versi Belanda di Tengah Kota Amsterdam


Bukan cuma di Indonesia, ternyata Belanda juga punya "Pulau Jawa" versi mereka. Adalah Java Eiland, sebuah pulau kecil di semenanjung sempit di Eastern Harbour District, Amsterdam, yang berfungsi sebagai kawasan permukiman.

Merangkum dari Amsterdam Tourism, penamaannya memang diambil dari Pulau Jawa di Indonesia. Hubungan Belanda dan Indonesia sudah terjalin sejak era kolonialisme, di mana Hindia Belanda merupakan bagian dari Belanda di masa lalu.

Lokasinya juga terbilang unik karena berada tepat di sebelah pusat kota tua Amsterdam yang ikonik. Bangunan di pulau ini cenderung lebih kecil dan tampak sangat “kotak”, berbeda dengan bangunan lain di Belanda. Hal ini disesuaikan dengan dimensi pulau dan area sekitarnya.

Awal Mula Dibangunnya Java Eiland

Java Eiland dilihat dari citra satelit
info gambar

Java Eiland dilihat dari citra satelit


Merangkum tulisan Sjoerd Soeters (perancang induk Java Eiland) yang bertajuk Java Island Amsterdam Harbour Renovation Project 1991-2000, pembangunan pulau itu bermula dari perkembangan kawasan pelabuhan Amsterdam yang termashyur di masa lalu. Pada abad ke-17, area pelabuhan yang disebut het IJ itu masih terhubung langsung dengan Zuiderzee atau Laut Selatan. Perairan ini amat luas dan menjadi jalur strategis untuk kapal-kapal besar.

Memasuki akhir abad ke-19, IJ dipersempit dengan melakukan reklamasi. Pemerintah Belanda juga membuka akses langsung dari Laut Utara ke Amsterdam melalui kanal. Untuk mendukung hal itu, dibangunlah dermaga-dermaga baru di timur kota tua yang dikenal dengan Eastern Docklands.

Salah satu dermaga itu adalah Java Eiland, yang dibangun pada tahun 1900-an sebagai area tempat bersandarnya kapal-kapal berukuran besar. Sampai awal abad ke-20, Java Eiland masih aktif digunakan oleh kapal uap dan layar.

Sebagai informasi, melalui stadsdorpjava-eiland.nl, kapal-kapal besar yang bersandar di Java Eiland bertugas mengangkut komoditas dari Hindia Belanda dan berbagai pelabuhan lain. Di era kejayaannya, kawasan ini menjadi salah satu pusat pelayaran kolonial Belanda dan Hindia Belanda.

Namun, pasca-Perang Dunia II, saat Indonesia juga sudah memproklamirkan merdeka, aktivitas di sekitar pelabuhan perlahan sirna. Kapal-kapal besar memilih untuk bergeser ke arah barat Amsterdam yang memiliki ruang lebih luas.

Akibatnya, Java Eiland kehilangan fungsinya sebagai pelabuhan. Tahun 1970-an, kawasan itu ditinggalkan. Akan tetapi, pemerintah Belanda memanfaatkannya kembali sebagai area permukiman.

Area permukiman di sepanjang kanal | Alain Rouiller/WikimediaCommons
info gambar

Area permukiman di sepanjang kanal | Alain Rouiller/WikimediaCommons


Alih-alih membuat satu kompleks besar selayaknya bangunan atau apartemen di tempat lainnya, semua bangunan di Java Eiland dibangi menjadi blok-blok selebar 27 meter yang kemudian masih dipecah lagi menjadi unit yang lebih kecil.

Uniknya, meskipun Soeters adalah arsitek utamanya, bangunan di Java Eiland justru banyak melibatkan arsitek-arsitek lain, baik untuk merancang apartemen maupun rumah kanal. Akan tetapi, terdapat aturan yang ditetapkan terkait fasad, material, dan skala bangunan, sehingga bangunan-bangunan di Java Eiland tampak tidak seragam, tetapi masih terasa “sama”.

Aroma Jawa di Java Eiland Amsterdam

Taman Sapituin di Java Eiland | Ceescamel/WikimediaCommons
info gambar

Taman Sapituin di Java Eiland | Ceescamel/WikimediaCommons


Yang membuat Java Eiland semakin unik adalah nama-nama beberapa bangunan yang diambil dari tempat-tempat di Pulau Jawa. Ada nama kanal dan taman-taman yang pasti sangat familier di telinga masyarakat Indonesia.

Di bagian selatan Java Eiland, ada dermaga atau kade yang disebut Javakade. Di sepanjang Javakade ini, berdiri apartemen-apartemen yang menghadap langsung ke perairan, mengikuti garis dermaga lama pelabuhan. Sementara itu, di bagian selatan, dermaganya dinamakan dengan Sumatrakade.

Kemudian, ada kanal-kanal (gracht) yang namanya juga sangat lokal. Kanal ini berfungsi untuk membagi pulau menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.

Kanal-kanal itu antara lain Seranggracht, Majanggracht, Lamonggracht, dan Brantasgracht. Selain itu, terdapat taman-taman (tuin) kecil nan cantik yang dinamakan Tosarituin, Imogirituin, Kratontuin, Bogortuin, Seranggracht, sampai Taman Sapituin.

Dekat dengan Tosarituin, ada Tosaristraat atau jalan Tosari. Tepat di depanya, berdiri sebuah hotel bernama Hotel Jakarta Amsterdam yang terinspirasi dari budaya Indonesia. Konon, lokasinya adalah bekas titik keberangkatan kapal ke Jakarta.

Hotel Jakarta Amsterdam dikategorikan sebagai hotel mewah, sehingga harga sewanya cukup mahal. Beberapa bagian hotel itu menggunakan kayu dan bambu, menambah kesan tropis khas Indonesia di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.