“Saya ingin kain tenun menjadi kebanggaan budaya Indonesia,” kata Meilinda, di Yogyakarta.
Tenun adalah salah satu wastra tertua di Indonesia. Di Indonesia, setiap daerah punya motif tenun yang khas sesuai dengan identitas budayanya.
Akan tetapi, dibanding batik, popularitas tenun masih terbilang tertinggal. Tantangannya lebih pada regenerasi dan akses pasar. Apalagi, untuk menjadi selembar kain utuh, proses pembuatannya cukup panjang sehingga banyak anak muda yang tak mau ambil ribet.
Meilinda Damayanti, memilih memproduksi kain tenun. Menariknya, ia bukan hanya seorang pengusaha. Ia juga dosen Geografi, penerima beasiswa LPDP di S3 Ilmu Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus ibu rumah tangga.
Lewat tangannya, tenun yang sering dianggap nomor dua setelah batik, kini mulai naik kelas hingga ke pasar Amerika dan Eropa.
Kainnesia adalah merek dagangnya. Lewat Kainnesia, Meilinda bersama suaminya, Nur Salam, mengolah tenun menjadi busana harian, tas, hingga sepatu. Meilinda mengikuti tren pasar agar lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
Pendekatan itu sukses. Produk-produknya laris di e-commerce. Tidak sedikit pembelinya berasal dari generasi muda.
“Saya ingin kain tenun menjadi kebanggaan budaya Indonesia,” ujar Meilinda, sebagaimana dikutip dari LPDP.
Berawal dari Jastip, Bertumbuh Jadi Produsen
Sejarah berdirinya Kainnesia cukup panjang. Meilinda merintis secara pelan dan tentu tidak langsung besar.
Awalnya, Meilinda menjual kain tenun dengan sistem jasa titip (jastip). Sang suami lebih dulu menjual kain mentah. Sayangnya, dengan sistem demikian, pasar stagnan sehingga stok menumpuk.
Mereka lalu mengubah strategi. Kain tenun diolah menjadi produk jadi, seperti busana, tas, sepatu. Dari ide itualah pasar mulai terbuka.
Kini, Kainnesia bekerja sama dengan lebih dari 80 penenun dari berbagai daerah dan menggandeng 30 penjahit di Yogyakarta.
“Kini kita punya offline store dan marketplace. Produk Kainnesia sudah mulai ekspor ke Eropa, Amerika, dan ASEAN,” papar Meilinda.
Swantara, Workshop Kain Tenun untuk Regenerasi
Berwirausaha tentu tidak selalu mulus. Meilinda pernah berada di titik genting saat saldo rekening tersisa Rp27 juta. Sementara upah penenun harus dibayar. Masalahnya ada pada stok yang belum terserap pasar.
Meilinda tidak memilih pinjaman. Mereka memilih bergerak langsung dan menawarkan produk door-to-door ke desainer Jakarta hingga mengikuti pameran. Intinya, Meilinda membangun relasi.
“Fokus utama berwirausaha saya itu ya bagaimana bisa terbayar penenun dan pegawai,” tuturnya.
Kainnesia tidak berhenti pada produksi. Mereka membangun Swantara, sebuah workshop menenun. Workshop terbuka untuk anak muda dari berbagai kota. Pesertanya belajar langsung selama satu hari penuh.
“Semakin banyak anak muda berkecimpung di dunia wastra, saya sangat senang,” ujar Meilinda.
Kerja panjang itu berbuah hasil. Tahun 2025, Nur Salam meraih UMKM BUMN Award. Kainnesia juga menjadi juara Pertapreneur Aggregator Pertamina.
Kerja sama ekspor terjalin, mulai dari pengiriman sarung ke Malaysia senilai Rp800 juta hingga menerbangkan produk ke Belanda.
Mengintip Kehidupan Meilinda dan Kecintaanya pada Geografi
Kainnesia terletak di Jalan Veteran Nomor 83, Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun Kainnesia berada di Yogyakarta, Meilinda tidak berasal dari sana.
Meilinda lahir di Cilacap. Ia pun bukan berasa dari keluarga pedagang. Ayahnya seorang koki hotel, sedang ibunya ibu rumah tangga. Orang tuanya tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi keduanya mengusahakan agar anak-anaknya bisa sekolah setinggi mungkin. Nah, bersama suaminya, ia mulai menjual kain tenun.
Selain memiliki ketertarikan pada kain, Meilinda juga berminat pada geografi. Kecintaannya pada geografi tumbuh sejak SMA. Nilai ujian nasionalnya sempurna. Ilmu ini, menurut Meilinda, sangat aplikatif; mulai dari perencanaan wilayah, mitigasi bencana, hingga pembangunan berkelanjutan.
Usai menyelesaikan bangku sekolah, ia menempuh S1 Geografi di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Meilinda kemudian lanjut S2 di Universitas Gadjah Mada dengan fokus pengelolaan sumber daya pesisir. Pilihan itu dekat dengan latar belakangnya sebagai anak pesisir selatan Jawa.
Selepas lulus, ia mengajar di berbagai institusi, mulai dari tutor bimbingan belajar, guru SMA internasional, hingga dosen Universitas Budi Luhur. Kini, Meilinda tengah menempuh S3 Ilmu Geografi di UGM dengan Beasiswa LPDP.
Pengalaman Global, Pilihan Lokal
Selama S2, Meilinda banyak belajar di luar negeri. Ia mengikuti program non-degree di Filipina, Malaysia, hingga Jerman. Beasiswa Erasmus+ membawanya ke Georg-August-Universität Göttingen. Pengalaman itu sempat membuatnya ingin melanjutkan S3 di luar negeri. Namun ia memilih UGM.
“Program S3 Ilmu Geografi UGM merupakan ranking satu di Indonesia. Ia memiliki KLMB dan program geomorfologi,” tuturnya.
Keputusan itu juga berkaitan dengan Kainnesia. Usaha yang sedang tumbuh membuatnya perlu tetap dekat secara fisik dan emosional.
“Saya memiliki usaha. Sehingga saya berusaha agar bisa hands-on, bisa menjalankan usaha, menjadi mahasiswa, dan menjadi seorang ibu rumah tangga,” ujarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


