Bali selalu adalah cerita lama yang tak pernah usang. Pulau ini hidup dari pertemuan alam, manusia, dan budaya. Sawah berundak mengalirkan air seperti urat nadi. Upacara adat memberi ritme harian. Filosofi Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hidup.
Dulu, harmoni itu terasa alami dan ringan. Kini, Bali seperti berlari tanpa sempat menarik napas. Keindahan masih ada, tetapi lelah mulai terasa. Banyak orang datang, sedikit yang benar-benar menjaga. Bali tetap tersenyum, meski pundaknya berat menahan beban.
Dalam dua puluh tahun terakhir, wajah Bali berubah cepat. Pariwisata tumbuh seperti jamur musim hujan. Hotel, vila, dan kafe muncul di hampir setiap sudut. Jalanan makin padat. Suara mesin mengalahkan desir angin.
Ruang hijau menyempit perlahan. Alam dipaksa berbagi ruang tanpa banyak pilihan. Pembangunan berjalan lebih cepat dari perenungan. Bali seperti rumah lama yang direnovasi terus-menerus. Penghuninya lupa bertanya: Masih kuatkah fondasinya?
Masalah lingkungan di Bali tidak datang satu-satu. Mereka hadir bersamaan, saling menumpuk seperti notifikasi ponsel. Sampah, krisis air, banjir, dan alih fungsi lahan terjadi serentak. Filsuf Prancis Edgar Morin menyebutnya polikrisis lingkungan.
Istilah itu muncul dalam Introduction à la pensée complexe tahun 1990. Artinya sederhana, masalah saling memperparah. Sampah menyumbat sungai. Sungai meluap saat hujan. Lahan beton menolak air masuk tanah. Semua saling terhubung, seperti domino yang jatuh berurutan.
Angka-angka membuat cerita ini terasa nyata. Dinas Lingkungan Hidup Bali mencatat 3.400 ton sampah per hari pada 2025. Tingkat pengelolaan efektif baru sekitar 29 persen. Kepala DLHK Bali, Gede Suarjana, menyebut 12.000 meter kubik sampah dihasilkan setiap hari. Sebagian besar berakhir di sungai dan laut. World Bank mencatat produksi sampah individu mencapai 1,5 kilogram per hari pada 2018. Di Bali, angka itu terasa masuk akal. Wisatawan datang jutaan. Sampah pun ikut liburan.
Saat musim hujan, pantai berubah wajah. Pasir putih tertutup plastik warna-warni. Ombak membawa pulang sampah dari daratan. Kuta, Jimbaran, dan Kedonganan sering mengalaminya. Pantai seperti cermin kebiasaan kita. Apa yang dibuang, kembali lagi. Sampah plastik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat. Laut menampung sementara. Lalu mengembalikannya saat ombak besar datang. Pemandangan ini menyedihkan, sekaligus jujur.

Air di Bali juga menyimpan cerita sunyi. Di balik kolam renang biru, ada sumur yang mengering. WALHI Bali (2025) mencatat eksploitasi air hotel dan vila terus meningkat. Akuifer bawah tanah menyusut perlahan. Air laut mulai masuk ke daratan. Warga desa harus mengebor lebih dalam. Ironisnya, kolam wisata tetap penuh. Air mengalir ke tempat yang paling mampu membayar.
Sawah-sawah Bali dulu seperti permadani hijau. Kini, banyak yang berubah menjadi bangunan permanen. WALHI Bali mencatat ribuan hektare sawah Sarbagita beralih fungsi. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Hujan deras tidak lagi meresap. Air mencari jalan tercepat. Sungai meluap. Banjir datang tanpa permisi. September 2025 menjadi pengingat pahit bagi banyak keluarga.
Kementerian Lingkungan Hidup menjelaskan banjir itu secara terbuka. Dalam siaran pers 13 September 2025, KLH menyebut sampah dan alih fungsi lahan memperparah dampak hujan ekstrem. Curah hujan memang tinggi. Namun kerusakan lingkungan mempercepat bencana. Alam seperti tubuh yang kehilangan daya tahan. Sedikit tekanan saja, langsung tumbang. Bali yang dulu relatif aman kini lebih rentan. Perubahan itu terasa nyata.
Hukum sebenarnya sudah lama memberi peringatan. Prof. Takdir Rahmadi menulis tentang lemahnya izin lingkungan. Pandangannya tertuang dalam Hukum Lingkungan di Indonesia tahun 2019. Ia menilai izin sering bersifat administratif. Aturan ada, pengawasan tertinggal. Pembangunan terus melaju. Alam jarang diajak bicara. Hukum kehilangan daya kendali. Akibatnya, eksploitasi terasa normal. Padahal dampaknya panjang dan mahal.
Pesisir Bali juga menyimpan kegelisahan. Reklamasi dan kawasan ekonomi khusus memicu penolakan. WALHI menolak proyek di Serangan dan Kura-Kura Bali. Penolakan itu dilaporkan IDN Times Bali pada 2025. Nelayan khawatir kehilangan ruang hidup. Terumbu karang terancam. Laut bukan sekadar latar foto. Ia rumah bagi banyak makhluk. Saat laut terluka, ekosistem ikut terganggu. Dampaknya tidak langsung, tetapi pasti.
Di tengah cerita berat itu, harapan tetap menyala. Anak muda Bali tidak diam saja. Sungai Watch membersihkan sungai setiap hari. Sampah diangkat, dicatat, dan dipetakan. Bye Bye Plastic Bags menggaung sampai dunia. Gerakan ini dipelopori Melati dan Isabel Wijsen. Di Pemuteran, Bio-Rock membantu karang tumbuh kembali. Dalam setahun, karang bisa tumbuh beberapa sentimeter. Harapan tumbuh pelan, tapi nyata.
Pemerintah juga mulai mengubah arah. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq (September 2025) menekankan pengelolaan sampah dari sumber. Sampah tidak boleh hanya dipindahkan. Ia harus diselesaikan. Pendekatan ekonomi sirkular mulai diperkuat. Bali memiliki 162 sungai. Baru lima sungai memiliki trash trap. Sisanya menunggu perhatian. Sungai-sungai itu seperti jalur darah pulau ini.
Tahun 2026 menjadi titik harapan. Bali bersih dan sehat terdengar menjadi mimpi bersama. Deklarasi Stockholm 1972 pernah mengingatkan tanggung jawab negara menjaga lingkungan. Pesan lama itu kini terasa relevan lagi. Bali masih punya waktu untuk berbenah. Pulau ini ingin bernapas lega. Dengan langkah bersama, mimpi itu bukan hal mustahil. Bali bisa tetap indah, tanpa harus terluka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


