risna hasanudin perempuan banda neira pejuang pendidikan di papua - News | Good News From Indonesia 2025

Risna Hasanudin: Perempuan Banda Neira Pejuang Pendidikan di Papua

Risna Hasanudin: Perempuan Banda Neira Pejuang Pendidikan di Papua
images info

Risna Hasanudin: Perempuan Banda Neira Pejuang Pendidikan di Papua


Risna Hasanudin menjadi salah satu tokoh penerima penghargaan SATU Indonesia Awards tahun 2015 di bidang pendidikan. Risna telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan di Papua khususnya di daerah Manokwari selama lebih dari 10 tahun.

Kini, ia tinggal di kota Manokwari tetapi tetap berkegiatan ke desa-desa kecil di Manokwari. Gerakannya meluas sejak ia mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards. Ia mulai menjalin banyak relasi dengan aktivis dan pegiat pendidikan dari berbagai pihak seperti kampus dan pemerintahan daerah.

Sebelum itu, Risna telah mengalami banyak hal saat pertama kali menginjakkan kaki di Papua sampai ia memutuskan untuk hidup di Papua sampai sekarang. Ia menemukan banyak permasalahan yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintahan dan masyarakat umum.

Permasalahan Kaum Perempuan di Desa Kobrey

Sejak duduk di bangku kuliah Universitas Pattimura Maluku, Risna kerap mendengar dan melihat pemberitaan kurang baik tentang masyarakat Papua. Risna ingin melihat langsung bagaimana masyarakat Papua sebenarnya.

Langkahnya terwujud saat ia mengikuti Program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (PSP3) dari Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2014-2016. Dua tahun Risna ditempatkan di desa Kobrey, Kecamatan Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.

baca juga

Selama tujuh bulan ia bersikukuh tinggal di rumah warga untuk lebih mengenal seperti apa masyarakat desa Kobrey dan permasalahan apa yang mereka hadapi. Tujuh bulan itu ia jalani dengan mengikuti serangkaian kegiatan sehari-hari masyarakat seperti ke kebun/ladang dan sungai. Dengan membaur bersama masyarakat ia melihat segudang permasalahan terkhusus pada kaum perempuan.

Risna melihat bahwa kaum perempuan menjadi pihak yang selalu dirugikan dalam budaya patriarki yang begitu kuat di masyarakat Papua. Sejak tahun 2014, ia sering melihat anak-anak perempuan yang hamil tetapi pihak laki-laki tidak bertanggung jawab atas kehamilan tersebut. Bahkan terdapat kasus bunuh diri seorang anak perempuan kelas 2 SMP di sekolah karena ia hamil di luar nikah.

Selain itu, ia melihat bahwa pernikahan dini, kehamilan anak, dan kekerasan dalam rumah tangga kerap menjadi permasalahan yang terus-menerus terjadi. Melansir laman theconversation.com, pernikahan dini di usia 10-16 menjadi masalah besar di Papua. Kehamilan di usia muda ini menyebabkan risiko kematian yang tinggi bagi ibu dan bayi. Hal inilah yang Risna hadapi selama hidup di desa Kobrey.

Rumah Cerdas Perempuan Arfak sebagai Wadah Edukasi

Kegiatan Risna Hasanudin bersama para perempuan di Manokwari| Foto: (dokumentasi Risna Hasanudin)

Bagi Risna permasalahan yang dihadapi kaum perempuan adalah pukulan keras untuk dirinya dan ia tidak mau diam saja setelah mengetahui hal itu. Hal inilah yang menjadi alasan Risna berfokus pada anak-anak perempuan dan para ibu untuk diberikan pengajaran literasi dasar agar pengetahuan dan pemikirannya berkembang di tengah masyarakat yang minim literasi. Ia juga mengedukasi anak-anak perempuan akan bahaya hamil di usia muda dan pernikahan dini.

Risna kemudian mendirikan Rumah Cerdas Perempuan Arfak sebagai wadah belajar bagi anak-anak perempuan dan para ibu di desa Kobrey. Fokusnya adalah memberantas buta aksara dengan 3M (menghuruf, menghitung, membaca). Programnya ini didukung penuh oleh para ibu di desa Kobrey yang sangat ingin belajar membaca. Motivasi para ibu untuk belajar membaca adalah agar bisa membaca Al-Kitab secara langsung bukan lagi hanya mendengar penjelasan dari pendeta.

Berdasarkan penuturan Risna melalui wawancara daring, anak-anak di desa Kobrey sebenarnya sudah terdaftar sebagai siswa di sekolah formal tetapi karena ketidakhadiran guru para siswa kerap bolos sekolah dan memilih untuk bermain di rumah.

Hadirnya Rumah Cerdas Perempuan Arfak selain menjadi tempat belajar para ibu, rumah ini juga menjadi tempat bermain sekaligus belajar untuk anak-anak yang membolos sekolah. Risna selalu membangun kesadaran dan memotivasi bagi anak-anak untuk kembali belajar ke sekolah yang lambat laun berdampak pada diri anak-anak sehingga mereka mau kembali bersekolah.

Namun bagi Risna, permasalahan ketidakhadiran guru di sekolah juga menjadi hal yang perlu ditangani dengan serius. Keamanan dan keselamatan guru di daerah yang rawan kekerasan dan pembunuhan seperti di Papua harus diutamakan. Banyak guru-guru yang ditempatkan mengajar di Papua kembali ke daerah asalnya karena terjadi kasus kriminalisasi terhadap guru.

Meluasnya Gebrakan Melalui SATU Indonesia Awards

Momen mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards bagi Risna adalah satu hal yang membuat gerakannya semakin meluas. Ia bertemu dengan banyak tokoh SATU Indonesia Awards dan Desa Sejahtera Astra kemudian menjalin relasi baik.

Risna sadar bahwa sebuah perjuangan tidak bisa dijalankan tanpa dukungan dari banyak pihak. Ia merasa mendapatkan banyak dukungan setelah meraih penghargaan SATU Indonesia Awards. 

Setelah itu, langkah Risna semakin pasti. Langkah besar selanjutnya yang Risna ambil yaitu menjalin komunikasi dengan pemangku kepentingan untuk dihadirkannya mahasiswa di desa Kobrey dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Setelah 2-3 tahun melakukan komunikasi tersebut akhirnya terjadi perubahan besar yaitu semakin banyak mahasiswa yang KKN ke desa-desa kecil termasuk desa Kobrey. Selain itu, semakin berkembang juga komunitas-komunitas literasi yang didirikan pemuda Papua. Hal ini membuat Risna semakin bersemangat untuk mengadakan berbagai kegiatan literasi dan pendidikan.

Sampai saat ini, Risna masih berkutat pada edukasi terhadap pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan. Ia bersama komunitasnya mengadakan pelatihan untuk mendorong kepemimpinan perempuan dan anak muda serta edukasi seksual sejak dini yang berkolaborasi dengan Astra.

Lagi-lagi, Indonesia tidak kekurangan sosok perempuan hebat. Dengan adanya penghargaan SATU Indonesia Awards, sosok perempuan yang berkontribusi dalam berbagai bidang bisa kita ketahui dedikasinya. Risna menjadi satu dari sekian banyak deretan sosok nama hebat yang berjuang untuk pendidikan bagi para ibu dan anak-anak di Manokwari, Papua.

#kabarbaiksatuindonesia

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.