Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Bawodobara di Nias Selatan tetap memelihara tradisi memanfaatkan tanaman obat keluarga. Warisan ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang dijalani secara turun-temurun.
Tanaman obat keluarga atau TOGA dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan keluarga dengan cara yang alami dan sederhana. Pengetahuan ini diwariskan melalui cerita, kebiasaan, dan pengalaman leluhur yang dihormati.
Berbagai Macam Resep Herbal dari Desa Bawodobara
Salah satu tanaman yang digunakan adalah andong atau nendrulo, yang diyakini dapat menghentikan pendarahan pasca persalinan. Daunnya direbus dan diminum oleh ibu yang baru melahirkan.
Untuk menurunkan demam, masyarakat menggunakan tanaman bandotan yang dikenal dengan nama cӧfӧ-cӧfӧ. Daun bandotan ditumbuk dan ditempelkan di dahi atau direbus untuk diminum.
Tanaman daun ungu yang disebut najaleu digunakan untuk mengobati keseleo atau bengkak. Daunnya dipipihkan lalu ditempelkan di bagian yang sakit.
Jika ada luka memar, masyarakat menggunakan gandarusa atau jӧndru sebagai obat alami. Daun jӧndru dipercaya membantu melancarkan peredaran darah.
Jarak atau lafandru digunakan untuk mengatasi sesak napas dan sembelit, terutama pada anak-anak. Daunnya dilayukan di atas api dan ditempelkan pada perut atau dada.
Untuk mengobati mencret, masyarakat menggunakan jambu biji yang dikenal dengan nama kabu. Daunnya direbus dan diminum sebagai ramuan.
Jeruk nipis atau limo adulo dipercaya ampuh untuk mengatasi batuk. Perasan airnya dicampur dengan sedikit madu dan diminum.
Kembang sepatu, yang disebut sesema, digunakan untuk mengobati demam dan batuk. Daunnya direbus dan airnya diminum dua kali sehari.
Air dari buah kelapa atau ohi digunakan sebagai obat panas dalam. Air kelapa dipercaya membersihkan racun dan menurunkan panas tubuh.
Kunyit atau undre memiliki dua fungsi: rimpangnya untuk batuk dan pilek, sedangkan daunnya untuk sakit perut anak. Ramuan ini sering dicampur dengan telur ayam kampung.
Lempuyang, yang dikenal sebagai mondra, biasa digunakan sebagai bahan jamu untuk batuk. Rimpangnya diparut dan direbus untuk diambil airnya.
Pinang atau fino dimanfaatkan untuk mengobati mencret. Biji buah pinang dikeringkan, ditumbuk, dan diseduh sebagai minuman.
Pisang kepok yang disebut gae bo’ole dipercaya dapat memperkuat kandungan dan mencegah keguguran. Tunas mudanya dikonsumsi saat usia kehamilan masih muda.
Pepaya atau bala digunakan untuk mengatasi demam berdarah atau malaria. Daunnya direbus dan diminum sebagai penurun panas.
Sirsak atau ndruria niha diyakini membantu menurunkan kadar gula darah. Daunnya direbus dan diminum sebagai teh herbal.
Tanaman hias sosor bebek yang dikenal dengan nama jakhoji juga punya manfaat kesehatan. Daunnya digunakan untuk mengobati mencret dengan cara direbus dan diminum.
Tradisi Pengobatan yang Tak Lekang oleh Zaman
Tradisi penggunaan tanaman obat ini tetap hidup meski pengaruh budaya modern semakin masuk. Masyarakat percaya bahwa pengobatan alami lebih selaras dengan tubuh dan lebih mudah diakses.
Namun, ada tantangan dalam memahami dosis dan penggunaan yang tepat karena sebagian masyarakat hanya mengandalkan kebiasaan. Beberapa kesalahan persepsi juga muncul karena informasi yang belum sepenuhnya akurat.
Karena itu, edukasi tentang TOGA penting dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan secara maksimal dan aman. Pengetahuan lokal ini bisa dikembangkan dengan pendekatan ilmiah tanpa menghilangkan nilai budaya.
Tanaman obat keluarga juga berpotensi menjadi sumber ekonomi jika dikelola dengan baik. Produk olahan herbal bisa menjadi komoditas unggulan desa.
Diperlukan peran aktif kepala desa dan kelompok PKK untuk membudidayakan dan memasarkan tanaman obat ini. Pelatihan dan pengembangan produk bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.
Melalui kerja sama antar warga dan dukungan pemangku kebijakan, tradisi TOGA bisa terus berkembang. Kesehatan masyarakat pun dapat terjaga dengan biaya rendah dan cara yang alami.
Kisah Desa Bawodobara ini menunjukkan bahwa kearifan lokal adalah kekayaan yang tak ternilai. Menjaganya berarti menjaga identitas dan keberlanjutan hidup yang selaras dengan alam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


