siwa plateau takhta suci mataram kuno di atas awan yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Siwa Plateau: Takhta Suci Mataram Kuno di Atas Awan Yogyakarta

Siwa Plateau: Takhta Suci Mataram Kuno di Atas Awan Yogyakarta
images info

Siwa Plateau/Wikipedia


Dataran tinggi Siwa atau Siwa Plateau yang membentang di wilayah Sleman, Yogyakarta, merupakan kawasan sakral yang menyimpan kekayaan arkeologis dari kurun abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Penamaan wilayah ini merujuk pada dominasi temuan artefak serta struktur bangunan suci yang didedikasikan bagi pemujaan Dewa Siwa, mencerminkan kuatnya pengaruh Hindu-Siwa pada masa itu.

Secara topografis, Siwa Plateau merupakan bentang perbukitan dengan elevasi berkisar antara 200 hingga 400 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini menjadi saksi bisu kejayaan peradaban Mataram Kuno, di mana berbagai struktur monumental didirikan dengan presisi tinggi.

Inventarisasi Situs dan Filosofi Pemilihan Lokasi

Kawasan ini menjadi rumah bagi deretan peninggalan bersejarah yang mengagumkan, di antaranya:

• Kraton Ratu Boko

• Candi Ijo (Candi tertinggi di Yogyakarta)

• Candi Barong dan Candi Miri

• Situs Stupa Sumberwatu serta Candi Dawangsari

• Peninggalan ikonografi seperti Arca Ganesha dan Arca Gupolo

Para leluhur memilih perbukitan ini sebagai pusat aktivitas bukan tanpa alasan. Secara strategis, wilayah ini menyediakan material batuan yang melimpah, menawarkan perlindungan alami dari serangan lawan, serta aman dari ancaman bencana vulkanik. Secara filosofis, pembangunan di tempat tinggi dianggap sebagai upaya mendekatkan diri kepada entitas ilahi.

Rekayasa Sipil dan Adaptasi Lingkungan

Salah satu bukti kecerdasan arsitektural di Dataran Tinggi Siwa dapat diamati pada Situs Kraton Ratu Boko. Menurut peneliti senior Dra. Wahyu Astuti, M.A., situs ini merupakan kompleks permukiman terpadu era Mataram Kuno. Pembangunannya melibatkan teknik pemangkasan bukit (land grading) yang masif.

“Material batu hasil pemaprasan bukit tersebut didayagunakan kembali sebagai fondasi jalan serta struktur bangunan di dalam kompleks Ratu Boko," jelas Astuti sebagaimana dilansir melalui catatan Kemdikbud.go.id.

Tantangan utama di wilayah Siwa Plateau adalah karakteristik geologisnya yang kering dan sulit mendapatkan sumber air tanah. Namun, masyarakat masa lalu mengatasinya dengan menciptakan sistem hidrologi buatan. Mereka membangun kolam-kolam raksasa untuk menangkap dan menyimpan air hujan (rain harvesting), yang berfungsi ganda sebagai cadangan air domestik maupun tempat pemandian suci.

Keberadaan jaringan kolam di Ratu Boko membuktikan bahwa meskipun berada di lahan yang tandus, peradaban Mataram Kuno mampu melakukan adaptasi lingkungan yang luar biasa demi keberlangsungan hidup dan aktivitas religius mereka.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.