Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dan pengembangan Mini-Liquefied Natural Gas (Mini LNG) sebagai alternatif energi rumah tangga.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional serta menekan angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang saat ini telah mencapai 81 persen dari total kebutuhan masyarakat.
Optimalisasi infrastruktur seperti stasiun induk CNG dan pembangunan terminal mini LNG diharapkan dapat membuka lebih banyak pilihan energi bagi masyarakat. Selain mendukung efektivitas penyaluran gas, konversi ini bertujuan menyediakan sumber energi yang lebih aman, bersih, dan efisien untuk kebutuhan harian.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas bumi rumah tangga mencapai 350 ribu sambungan rumah pada 2029.
“Pilihan energi ini juga dapat meningkatkan efektivitas penyaluran gas dan mendukung target pemerintah dalam konversi energi ke energi yang lebih aman, bersih, dan efisien,” ujar Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugraha, Sabtu (9/5).
Targetnya, harga CNG kemasan setara 3 kilogram tidak akan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG subsidi yang saat ini berada di kisaran Rp18.500 hingga Rp19.000 per tabung.
Penggunaan CNG sebelumnya telah mulai diimplementasikan pada sektor komersial seperti hotel dan restoran.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


