Indonesia dan Malaysia resmi menjalin penguatan kolaborasi riset dan inovasi melalui kementerian pendidikan tinggi masing-masing negara.
Kesepakatan ini berfokus pada empat sektor prioritas bagi masa depan kawasan, yaitu ketahanan pangan, ekonomi hijau, energi terbarukan, dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence).
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi riset kedua negara dalam menjawab tantangan global sekaligus mempercepat hilirisasi teknologi dari laboratorium ke masyarakat luas.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Brian Yuliarto, bersama Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Zambry Abdul Kadir, telah menyepakati pembentukan kelompok kerja atau klaster kolaborasi
Melalui wadah ini, para pakar dari kedua negara akan diidentifikasi dan disatukan dalam proyek pengembangan riset yang terukur. Sinergi kepakaran ini menjadi modal penting seiring dengan arah kebijakan "Diktisaintek Berdampak" yang diusung oleh pemerintah Indonesia.
“Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kontribusi riset dan inovasi kedua negara dalam menjawab tantangan global. Sinergi kepakaran antar peneliti dan perguruan tinggi menjadi modal penting untuk mempercepat hilirisasi riset,” jelas Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Implementasi kerja sama ini akan melibatkan sejumlah perguruan tinggi terpilih dan peneliti yang tergabung dalam jaringan Konsorsium Akademik Malaysia–Indonesia (KAMI). Dalam kunjungan kerjanya ke Jakarta, Menteri Zambry juga menyempatkan diri mengunjungi Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk berdiskusi langsung mengenai potensi pengembangan bersama di bidangpertanian.


