Tepat Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2026, kami berkesempatan memegang langsung selembar kain batik tulis autentik Pekalongan. Tertegun, kami merabanya dengan amat hati-hati.
Bukan saja karena kainnya terasa agak getas dan rapuh, kami pun merinding melihat betapa halusnya, betapa cermatnya ribuan titik dan guratan garis membentuk motif organik dengan presisi tinggi.
βKain seperti ini tidak mungkin dijadikan baju,β gumam seorang rekan, pengagum batik.
Bukan karena tidak cocok, katanya, tapi karena tidak tega mahakarya seperti ini dipotong. Padahal, pada zamannya, kain batik seperti itu lazim digunakan untuk pakaian sehari-hari.
βItu canting paling halus, ukuran nol,β ujar Indrawati Gondowinoto yang sengaja membawa kain batik buatan leluhurnya itu untuk kami bahas dalam sebuah diskusi.
Kain batik autentik seperti itu sekarang sudah tidak mudah ditemukan. Beberapa disimpan dan dirawat oleh museum dan kolektor batik di beberapa kota di Indonesia.
Ada juga yang menjadi koleksi permanen museum di luar negeri, termasuk Los Angeles County Museum of Art (LACMA), Nationaal Museum van Wereldculturen (NMVW) di Belanda, hingga Weltmuseum Wien, Austria.
Tak terbayang betapa tinggi nilainya. Indrawati pun mengaku tak sanggup membeli kembali kain-kain batik legendaris buatan abad ke-19 itu.
Maestro Batik di Titik Nadir
Indrawati Gondowinoto alias Gan Swie Hiang adalah generasi keempat keluarga pembatik Gan. Kakek buyutnya, Gan Sam Gie, merintis usaha batik pada tahun 1870 di Pekalongan, Jawa Tengah.
Usaha batik turun-temurun itu terhenti di tahun 1992 seiring meninggalnya ayah Indrawati, Gan Tjiang Liem.

Karya-karya Batik Gan menyimpan kekhasan motif pesisir yang kaya akulturasi budaya lokal dengan budaya peranakan Tionghoa yang dinamis dan ekspresif. Motif-motifnya pun sarat makna dan filosofi kearifan lokal yang mendalam.
Suatu kali, Indrawati bertanya kepada Romo Manu. Ia heran melihat kain gendongan bayi bermotif Kurawa. Ia berpikir, kain batik gendongan bayi seharusnya bermotif kebaikan, bukannya tokoh jahat.
Romo Manu menjelaskan bahwa kain gendongan bayi saat digunakan harus dikibaskan terlebih dahulu. Motif Kurawa pada gendongan bayi dibuat dengan perspektif bahwa hal buruk ikut dibuang dengan mengibaskan kainnya.
Dari jawaban itu, dan jawaban-jawaban atas banyak pertanyaan lainnya, Indrawati menyadari bahwa leluhurnya tidak asal memproduksi batik, tetapi juga memahami filosofi budaya dan kearifan lokal yang menjadi pedoman hidup masyarakat pada masanya.
K.R.T. Manu J. Widyaseputra alias Romo Manu adalah seorang filolog senior nasional. Ia banyak membantu Indrawati mendalami analisis makna, etimologi, dan filosofi di balik kain batik warisan leluhurnya.
Secara resmi, perjalanan Batik Gan selesai sudah, berhenti di generasi ketiga. Saat itu, industri batik tulis juga sedang dilanda masalah serius dari serangan kain printing dan lesunya minat pasar.
βPabrik tutup. Alat-alat produksi batik banyak yang dijual, dihibahkan, sebagian dibuang. Ratusan kertas pola batik teronggok seakan tak pernah berarti,β kenang Indrawati.
Banyak kepiluan yang terasa dari ceritanya saat diskusi di kampus Universitas Kristen Maranatha hari itu. Kami mendengarkan dan menyimak penuh sepanjang tiga jam. Tidak biasanya kuliah umum di kampus dapat berlangsung sepanjang itu tanpa didera kantuk dan bosan.
Mungkin karena sebagian besar pesertanya adalah kami-kami dari Center of Chinese Diaspora Studies (CCDS) UK Maranatha, bergabung dengan dosen dan peneliti budaya, juga puluhan mahasiswa dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), sekelompok siswa sekolah, serta tamu dari komunitas pemerhati dan pencinta batik.
Dr. Christine Claudia Lukman, periset batik UK Maranatha selaku moderator talkshowβ150 Years of Batik Gan Journeyβ sesekali menanggapi. Sama-sama merasa haru, juga ikut menyemangati.

Batik Njonja Gan Sam Gie produksi 1890 koleksi Los Angeles County Museum of Art (sumber: dok. Museum Batik Gan)
Bangkit dari Mati Suri
Cerita Indrawati kemudian berbalik. Setelah 20 tahun mati suri, ia berniat untuk menghidupkan kembali Batik Gan. Upaya itu penuh dengan perjuangan.
Ia membuat usaha batik menggandeng beberapa pembatik muda. Hasilnya jauh dari harapan. Kualitas batiknya jauh tidak terbandingkan dengan karya leluhurnya. βJelek, dan tidak laku,β keluhnya.
Fakta menariknya, Indrawati ternyata tidak memiliki pengalaman teknis membatik. Terlahir dan besar dalam keluarga pembatik, ia memahami proses produksi, pewarnaan, dan punya kepekaan rasa serta estetika yang sudah tertanam sejak kecil. Namun, ia tidak punya pengalaman fisik membatik.
Ia pun belajar praktik langsung membatik menggunakan canting dan segala prosesnya, untuk memahami bahwa ternyata membatik memang sulit, apalagi bila standarnya selevel Batik Gan leluhurnya.
Mungkin inilah masalah klasik yang tidak hanya dihadapi oleh Indrawati dan pembatik tulis lainnya di Indonesia, tapi juga masalah bagi warisan-warisan budaya tradisional lainnya. Banyak yang terancam punah, bahkan benar-benar sudah punah, karena keterampilan mahakarya masa lalu tidak ada yang meneruskan.
Umumnya, ketika pembuat karyanya meninggal, karya itu menjadi warisan mati yang tidak bisa dibikin kembali.
Indrawati sepertinya terjebak dalam masalah serupa. Ia mungkin tak akan pernah bisa membuat kembali kain-kain batik seperti leluhurnya. Sejauh ini, ia melakukan upaya-upaya pelestarian dengan cara-cara lain.
Ia menelusuri keberadaan kain-kain Batik Gan yang masih tersisa, membongkar arsip dan dokumen keluarga, mendokumentasikan, membukukan, mengedukasi, berbagi pengalaman melalui pameran dan diskusi, hingga mendirikan museum.
Upayanya itu tidak hanya soal mengingat kembali leluhur keluarga agar menjadi ingatan bagi generasi keluarga selanjutnya, tapi juga merawat ingatan dan warisan komunal mahakarya seni dan budaya lokal.
Batik Gan tidak hanya menyimpan perjalanan dan perjuangan sebuah keluarga lintas generasi, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan warisan budaya lokal Nusantara yang diakui dan dikagumi dunia.
Belajar dari Sisi Lain
Tepat di Hari Batik Nasional ini, bertambah satu lagi wawasan kami mengenai batik Nusantara yang tidak hanya membanggakan dari sisi rupa dan wujudnya.
Indrawati menemukan jati diri keluarganya melalui batik. Menelusuri kain-kain batik yang tersebar di berbagai tempat adalah perjalanannya untuk mengenal bagaimana kehidupan di zaman itu, apa perjuangan yang dihadapi dari generasi ke generasi, nilai-nilai apa yang dipahami saat itu.
Bagaimana masyarakat dulu mengenakan kain batik sebagai cerminan perilaku, bagaimana batik menjadi bagian dari doa dan pengharapan, hingga filosofi kehidupan dari setiap motif batik yang diproduksi dengan kualitas tertinggi.
Baginya, batik adalah medium untuk merawat ingatan, menjaga warisan agar tetap hidup.
Hari itu, kami dibawa kembali menapaki perjalanan 150 tahun sebuah keluarga membawa batik Pekalongan mewarnai Nusantara. Sebuah mahakarya budaya dan kearifan lokal yang memang pantas lestari.


