Musik tradisional memiliki banyak cara untuk bertahan di tengah perubahan zaman. Salah satunya melalui campursari, genre musik yang memadukan unsur karawitan Jawa dengan instrumen musik modern. Perpaduan ini menghadirkan warna baru tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter musik tradisional yang menjadi akarnya.
Campursari juga dikenal melalui lagu-lagu berbahasa Jawa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari tembang bernuansa tradisional hingga lagu dengan aransemen pop dan dangdut, genre ini memperlihatkan bagaimana musik dapat berkembang mengikuti selera pendengarnya.
Yuk, simak pembahasan berikut ini untuk mengetahui bagaimana campursari terbentuk dan berkembang hingga dikenal oleh berbagai generasi.
Apa Itu Seni Campursari?
Secara etimologis, istilah campursari berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu campur dan sari. Dalam konteks musik, kata campur merujuk pada pencampuran, sedangkan sari berarti inti atau bagian yang paling berharga. Gabungan keduanya menggambarkan perpaduan unsur-unsur penting dari berbagai jenis musik.
Dalam artikel ilmiah berjudul Perspektif Historis Campursari yang terbit pada 2010, Joko Tri Laksono menjelaskan bahwa campursari merupakan bentuk perpaduan instrumen gamelan Jawa dengan instrumen musik Barat. Perpaduan ini juga berkaitan dengan penggunaan tangga nada pentatonis yang umum dijumpai dalam karawitan Jawa dan tangga nada diatonis dalam musik Barat.
Instrumen yang digunakan dapat mencakup kendang, siter, gong, saron, dan demung, bersama instrumen lain seperti gitar elektrik, bas, kibor, serta alat musik yang berasal dari tradisi keroncong.
Perpaduan tersebut membuat campursari memiliki karakter musikal yang berbeda dari karawitan tradisional maupun musik populer pada umumnya. Meski menggunakan instrumen modern, unsur musikal Jawa tetap menjadi bagian penting dalam penyajiannya.
Sejarah Campursari, Berawal dari Eksperimen Musik
Perjalanan campursari tidak dimulai pada 1990-an. Menurut Joko Tri Laksono, campursari telah berkembang sejak 1960-an melalui upaya studio RRI Surakarta yang memadukan ensambel keroncong dengan instrumen siter dan kendang. Eksperimen serupa kemudian berkembang di RRI Semarang.
Pada masa itu, perpaduan tersebut belum memperoleh sambutan luas. Sebagian masyarakat menilainya menyimpang dari pakem kesenian tradisional. Meski begitu, upaya memadukan kedua unsur musik ini terus berkembang hingga memasuki babak baru pada 1994.
Pada tahun tersebut, Manthous membentuk grup campursari dan mulai merekam lagu-lagu dengan memadukan instrumen gamelan Jawa, keroncong, dan instrumen elektrik. Melalui perpaduan ini, campursari dapat membawakan beragam jenis lagu, mulai dari gendhing Jawa dan langgam keroncong hingga lagu pop dan dangdut.
Langkah Manthous ini turut membawa campursari ke bentuk yang lebih modern dan membuka peluang bagi genre ini untuk menjangkau pendengar dari berbagai kalangan.
Dari Manthous hingga Didi Kempot
Setelah diperkenalkan dalam bentuk yang lebih modern oleh Manthous, campursari terus berkembang melalui musisi lain dengan karakter dan pendekatan musikal masing-masing. Salah satu nama yang kemudian dikenal luas adalah Didi Kempot.
Didi Kempot memadukan unsur campursari dengan sentuhan musik populer dalam lagu-lagu berbahasa Jawa. Tema yang diangkat pun dekat dengan pengalaman pendengar, seperti cinta, perpisahan, dan kerinduan. Lagu-lagunya membuat campursari dikenal oleh pendengar dari berbagai kelompok usia.
Popularitas Didi Kempot juga terlihat melalui munculnya sebutan Sobat Ambyar bagi para penggemarnya, termasuk dari kalangan anak muda. Hal ini menunjukkan bahwa musik berbahasa daerah tetap bisa menjangkau pendengar baru.
Walau memiliki pendekatan yang berbeda, Manthous dan Didi Kempot sama-sama menjadi bagian penting dalam perjalanan campursari.
Perjalanan campursari memperlihatkan bahwa musik tradisional dapat terus berkembang tanpa harus kehilangan akar budayanya. Perpaduan gamelan Jawa dengan instrumen modern menjadi salah satu cara untuk menghadirkan musik tradisional dalam bentuk yang lebih dekat dengan perubahan selera masyarakat.


