Indonesia memiliki sekitar 1.300 spesies ikan air tawar yang berpotensi dikembangkan, termasuk sebagai sumber daya genetik untuk industri ikan hias. Kekayaan tersebut mencakup berbagai kelompok ikan yang telah dikenal di pasar, seperti arwana, rainbow fish, rasbora, wild betta, dan botia.
Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eni Kusrini, mengatakan keragaman tersebut dapat menjadi modal genetik untuk mengembangkan ikan hias Indonesia melalui penelitian dan pemuliaan.
“Ikan arwana, rainbow fish, rasbora, wild betta, botia serta berbagai jenis ikan lainnya bagian dari kekayaan tersebut,” kata Eni dalam Webinar Nasional Aquatalk #11 bertema “Masa Depan Industri Ikan Hias Indonesia: Biodiversitas, Inovasi, Pasar Global, dan Penguatan Kelembagaan” pada 22 September 2026.
Biodiversitas sebagai Sumber Genetik
Menurut Eni, biodiversitas ikan air tawar tidak hanya memiliki nilai ekologis. Keragaman spesies juga menyediakan sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan varietas ikan.
Ia menjelaskan biodiversitas dapat berfungsi sebagai “bank gen alami” yang menyediakan berbagai alel atau variasi gen yang dibutuhkan dalam program pemuliaan. Melalui penelitian, karakter tertentu yang diinginkan dapat dipelajari dan dikembangkan untuk menghasilkan ikan dengan sifat yang lebih sesuai untuk kebutuhan budidaya maupun pasar.
Namun, sebagian ikan hias Indonesia masih diperoleh melalui eksploitasi dari alam untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan internasional. Kondisi ini membuat pengembangan budidaya melalui domestikasi menjadi penting.
Domestikasi dilakukan untuk membuat spesies yang sebelumnya hidup di alam dapat dipelihara dan berkembang biak dalam lingkungan budidaya. Proses tersebut kemudian dapat dilanjutkan melalui seleksi dan pemuliaan untuk menghasilkan strain yang stabil, produktif, adaptif, dan memiliki karakter yang diinginkan.
Pemuliaan Mulai Didukung Teknologi Genetik
Perkembangan genetika molekuler dan genomik membuka peluang baru dalam program pemuliaan ikan hias. Penelitian tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan karakter fisik, tetapi juga dapat memanfaatkan informasi pada tingkat genetik.
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain marka DNA, single nucleotide polymorphism (SNP), genome-wide association study (GWAS), transcriptomics, dan genomic selection.
Teknologi tersebut dapat membantu peneliti memahami keragaman genetik suatu populasi sekaligus mengidentifikasi karakter tertentu yang berpotensi dikembangkan. Data genetik kemudian dapat digunakan untuk membantu menentukan individu yang sesuai dalam program seleksi dan pemuliaan.
Pendekatan berbasis data juga dapat membantu menjaga keragaman genetik selama proses pengembangan varietas. Hal ini penting agar pemuliaan tidak hanya mengejar karakter yang bernilai ekonomi, tetapi tetap mempertahankan sumber daya genetik yang dimiliki suatu spesies.
Perlu Waktu dan Konservasi
Eni menekankan bahwa menghasilkan varietas ikan hias unggul membutuhkan proses panjang. Tahapannya dapat dimulai dari eksplorasi sumber daya genetik, domestikasi spesies potensial, karakterisasi genetik, seleksi, pemuliaan, hingga hilirisasi menjadi benih, strain, dan produk ikan hias.
“Program pemuliaan tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan proses panjang dan berkelanjutan untuk menjaga keragaman genetik sekaligus menghasilkan varietas unggul,” ujar Eni, seperti dikutip dari BRIN.
Pengembangan tersebut juga perlu berjalan bersama konservasi in-situ dan ex-situ. Konservasi in-situ mempertahankan spesies di habitat alaminya, sedangkan ex-situ dilakukan di luar habitat alami, misalnya melalui fasilitas penelitian atau budidaya.
Dokumentasi sumber daya genetik juga diperlukan agar informasi mengenai spesies dan karakter genetiknya dapat digunakan dalam penelitian berikutnya. Dengan sistem data yang baik, pengembangan ikan hias dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi populasi dan keragaman genetiknya.


